Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Hangout


Suci sudah membuat janji temu dengan Indie di supermarket jam sepuluh pagi. Adiknya itu sudah merasa baik-baik saja sehingga memaksa keluar dari rumah sakit. Beruntung dokter kandungan yang menanganinya mengizinkannya pulang karena hasil pemeriksaan kandungan Indie baik-baik saja. Sang dokter hanya berpesan supaya pasiennya itu banyak istirahat dan menghindari stres. Tetapi, boro-boro istirahat, dia justru memaksa Billy untuk ikut hangout bersamanya dan Suci, juga aku yang -- juga terpaksa. Kata mereka, itu cara ampuh menghindari stres -- tepatnya: itu cara wanita menghindari stres.


Memangnya iya?


Jujur saja, aku kaget sekali ketika Suci meminta kami menunggu sebentar di parkiran karena Indie sebentar lagi menyusul katanya. "Lo, Yang...? Memangnya dia sudah keluar dari rumah sakit?"


"Sudah. Dia kan cuma pingsan karena shock. Sekarang dia sudah baik-baik saja, jadi boleh keluar dari rumah sakit. Dan... sekarang aku mau mengajaknya belanja. Kan seru, kami bisa sharing apa-apa saja yang mau kami beli dan apa saja yang kami butuhkan. Dan kamu yang bayar. Oke, Suamiku yang tampan?"


Aku mengangguk, walau sekilas terbesit di dalam benakku kalau acara belanja itu akan menjadi agenda yang nggak banget, sebab... kedua kakak beradik itu pasti akan menyuruh aku dan Billy bagaikan dua bodyguard tampan yang sedang mengawal mereka, mendorongkan trolley untuk mereka, dan mengikuti mereka memutari luasnya area supermarket itu -- mengelilingi segala areanya tanpa terkecuali. Yeah, tanpa terkecuali.


Dan itu benar terjadi, persis seperti itu. Setelah membeli sebegitu banyak belanjaan untuk rumah dan juga untuk ketiga ibu hamil, kedua kakak beradik itu memaksa untuk ke bioskop. Kepingin nonton katanya.


"Kamu pernah menikmati hidup seperti ini, Bill?" tanyaku. Kami sedang menunggu ibu-ibu hamil itu mengantre untuk membeli tiket, juga popcorn.


Billy mengangguk. "Pernah, Mas," katanya. "Dulu, sewaktu masih SMA dan masa-masa kuliah. Sejak bekerja pada Mas, saya sudah tidak pernah lagi--"


"Maksudmu, saya mempengaruhi gaya hidupmu menjadi seperti saya?"


Billy terkikik geli. Hmm... sudah berani dia, ya. "Bukan begitu, Mas. Saya hanya menjawab apa adanya. Pekerjaan saya kan sudah tidak cocok dengan hal-hal seperti ini. Makanya, semenjak bekerja saya juga jadi... maksud saya, saya jadi sosok seperti sekarang."


"Seperti saya? Dingin, kaku, tidak santai dan tidak menikmati waktu?"


"Rileks saja, Mas. Jangan baper. Sekarang kan Mas Rangga sudah berubah jauh berkat Mbak Suci."


"Sepertimu yang juga sudah berubah karena Indie. Oh, tidak. Kamu bukannya berubah. Tapi kembali seperti semula."


No, jangan harap!


Aku tidak pernah bernyanyi seumur hidupku kecuali untuk diriku sendiri dengan suara sumbang yang tak akan pernah didengar oleh orang lain. Sebagai gantinya, aku hanya menghabiskan makanan yang terhidang di atas meja. Ini membuatku kenyang.


"Jadi, kegiatan apa yang asyik untuk dilakukan bersama orang seperti kalian?" tanya Suci.


Aku nyengir lebar. Pikiran jahil masuk ke dalam otakku. "Mau tahu?"


"Hu'um."


"Well, jawabannya adalah.... "


"Apa, sih...?"


"Ehm, berpetualang... berburu... mendaki gunung... dan... menyusuri lembah yang lembab."


Kedua wanita muda itu merengut di antara tawa kami yang menggelegar.


"Ada lagi yang lebih ekstrem," kata Billy. "Lelaki suka memainkan senjata, menembak, dan... mengadu cupan* yang merah."


Praktis jengkel, sampai akhirnya Suci dan Indie mengajak kami pulang.