Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Masa Kelam-ku


Praktis aku menatap Suci dengan sedikit terkejut, lalu memalingkan lagi wajahku dari tatapannya. "Dia sudah lama meninggal," kataku.


"Oh, meninggal kenapa? Apa kecelakaan pesawat bareng mamamu?"


Aku berpikir-pikir sejenak, apa aku harus jujur atau berbohong, mana yang baik? Tapi akhirnya aku mengatakan yang sebenarnya. "Dia meninggal karena dia jatuh dari balkon."


"Oh," ucapnya dengan nada penyesalan. "Maaf, aku turut sedih mendengarnya. Kalau aku boleh tahu, memang jatuhnya kenapa, Mas?"


Aku menggeleng. "Ya... ja...tuh. Emm... aku... jangan tanya ini, ya?"


"Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?" selidiknya pelan.


Andai aku bisa menjawab seenteng caranya bertanya. Tapi ini sangat sulit untuk mengungkapkan kalau akulah yang secara sengaja mendorong lelaki itu. Aku yang membunuh Tommy Sanjaya dengan sengaja. Kenapa juga pembahasan ini malah sampai ke sini?


"Mas? Kenapa? Ada yang sengaja mendorongnya?"


Aku terdiam.


"Mas... kamu...?"


"Aku."


"Kamu? Kamu yang... mendorongnya?"


"Em."


"Ya Tuhan!"


Suci tersentak, dia mundur dan menciptakan jarak dariku.


"Dia pemabuk. Suka marah-marah pada Mama. Main pukul. Suka membawa perempuan ke rumah. Bahkan berbuat mesum di depan mata kepala Mama. Dia tidak pantas hidup. Hanya jadi parasit. Tidak ada gunanya sama sekali sebagai suami. Bisanya cuma menyakiti Mama, hatinya, fisiknya. Aku tidak tahan melihat itu hampir setiap hari. Akhirnya... aku mendorongnya. Lelaki pemabuk itu jatuh dan langsung mati. Untuk yang satu ini aku sama sekali tidak pernah menyesal. Tidak sama sekali. Dia pantas mati."


"Sayang? Are you okay?"


Dia menganguk, masih shock, dan tidak menyahut. Sewaktu aku hendak maju mendekatinya, dia mundur lagi. Dan ini sungguh membuatku cemas bukan kepalang. Tapi aku berusaha tenang dan mengendalikan diriku supaya aku juga bisa mengendalikan Suci.


"Hei," kataku pelan, "dengar aku. Kamu bisa dengar suaraku? Sayang? Rileks. Kamu janji, kan, kalau kamu akan menjaga emosimu? Ingat anak kita, oke? Inilah kenapa aku tidak mau kamu mengorek-ngorek masa laluku. Aku takut kamu shock seperti ini."


Tidak ada respon.


"Yang, tolong. Aku menceritakan ini bukan untuk membuatmu takut. Aku hanya ingin menuruti kemauanmu. Kamu mau aku terbuka, kan? Tidak merahasiakan apa pun darimu, ya kan? Please... rileks...."


Akhirnya dia mengangguk.


"Sini, peluk? Hmm? Jangan takut padaku."


Dengan perlahan, aku mendekat kepadanya, meraih dia ke dalam pelukanku, dan mendekapnya erat-erat.


"Waktu itu aku masih kecil, belum sebelas tahun. Aku tidak berpikir panjang. Tolong, kamu mengerti itu? Bisa, kan? Please, Sayang, jangan takut padaku?"


Kutangkup wajahnya dan dia menatapku. "Yeah," katanya. "Aku... aku tidak akan takut padamu."


Aku tahu dia berusaha untuk itu -- untuk tidak takut padaku. Jelas ada rasa khawatir, entah apa. Yang pasti, tangannya melingkar gemetar di tubuhku.


"Rileks, Sayang." Kucium ia dan kubenamkan bibirku lama-lama di bibirnya. "Semuanya akan baik-baik saja, kan? Jangan tinggalkan aku. Itu semua hanya masa lalu. Bagian hidupku yang kelam. Tapi kamu, aku ingin masa depanku cerah bersamamu. Aku ingin bahagia bersamamu. Jangan tinggalkan aku, aku mohon?"


Tak terasa air mataku mengalir, aku takut rasa shock Suci dan ketakutannya itu membuat ia ingin pergi dariku. Tapi ternyata tidak, kekonsletannya kumat. Dalam deraian air mata, tangannya malah menyelinap ke bawah. "Buat aku rileks, Mas? Please?"


Ya Tuhan....