
"Aku tidak enak badan," kata Suci pada akhir pekan berikutnya. Dia sedang filek dan tak berhenti bersin. "Aku mau tiduran di kamar, Mas. Temani...."
Aku mengangguk, dan tak segan menggendongnya menaiki tangga menuju kamar. Aku yang waktu itu belum mengantuk hanya tiduran dengan dua bantal di belakangku sementara Suci berbaring di sisiku dengan posisi menyamping. Dia baru saja minum obat dan mulai mengantuk. Dan, hanya butuh waktu sebentar untuk membelainya, ia pun terlelap. Sementara aku yang saat itu belum mengantuk hanya menyibukkan diri dengan ponsel.
"Nah, sekarang bisa ceritakan ada apa denganmu?"
Indie?
Pelan-pelan, aku beringsut turun dari ranjang dan mengendap ke luar jendela. Benar saja, ada Indie dan Billy tengah berjalan ke area kolam. Persis di bawah jendela kamar kami.
"Tolong, jangan ditutupi lagi dariku, ya? Aku mohon?"
Billy meraih tangannya, dan mengajak sang istri ke area ujung. "Kita bicara di sana," katanya.
Ada apa dengan mereka? batinku. Indie dan Billy memasang ekspresi serius di wajah masing-masing. Hatiku pun berkata, mungkin Indie juga merasakan gelagat aneh pada diri Billy hingga ia bertanya seperti itu pada suaminya. Dan aku yakin, itu bukan pertama kali Indie menanyakan hal yang dirahasiakan oleh suaminya itu.
"Aku mesti tahu," kataku pada diri sendiri. Sebab itu, dengan mengendap-endap aku keluar dari kamar dan menyelinap masuk ke kamar sebelah, setidaknya jaraknya lebih dekat dengan posisi mereka.
Tapi Billy tetaplah Billy, tak mudah baginya untuk buka suara sampai Indie memohon-mohon kepadanya untuk terbuka sebagai pasangan suami istri.
"Aku ingin menjadi istri yang baik, menjadi tempatmu berbagi, Mas. Aku khawatir melihatmu yang seringkali gelisah dan melamun."
Jangankan Indie, aku saja heran. Setahuku, selama aku mengenal Billy, dia bukan pribadi yang penakut. Dunia kriminal bukanlah hal asing bagi dirinya. Jadi, apa yang membuatnya sebegitu gelisah sampai pikirannya terbeban?
Dari jendela kamar Indie yang terbuka, kulihat Billy menghela napas dalam-dalam, gestur itu nampak jelas tanpa aku harus mengamatinya dengan teliti.
"Mas? tolong, ceritakan?"
Tik!
Tik!
Tik!
Jarum jam berdetik bagaikan bom waktu yang siap meledak. Boom!
"Ada seorang perempuan yang mengaku hamil anakku."
Hah?
Praktis, Indie -- bahkan aku yang mengintip dari jendela tersentak mendengar pengakuan Billy yang mengejutkan itu. Mulut Indie bahkan ternganga dan matanya yang rada sipit seketika melebar.
Ini gila, Bill!
Sungguh, fakta ini di luar prediksiku. Jauh di luar dugaanku. Bisa-bisanya dia begitu ceroboh menanam benih.
"Masih mau mendengarkan penjelasanku?"
Indie mengangguk, air matanya tak terlihat jelas olehku, tapi Billy mengusapkan jemarinya di pipi Indie. Fix, dia menangis!
"Dengar, aku bukannya mau mencuci tangan, tapi belum tentu wanita itu benar-benar hamil anakku hanya karena kami pernah tidur bersama."
Indie mengangkat tangannya ke depan wajah Billy bermaksud menyergah. "Kapan?" tanyanya. "Kapan kamu tidur--"
"Sebelum kita menikah."
"Yakin? Kamu tidak sedang berbohong padaku?"
"Tidak. Aku tidak pernah berhubungan dengan wanita mana pun setelah kita menikah."
"Jangan bohongi aku, Mas. Tolong katakan dengan jujur. Aku tahu hubungan kita didasari--"
"Aku tidak berkhianat ataupun berselingkuh darimu. Sama sekali tidak. Percaya padaku, ya?"
Geram. Ingin sekali rasanya aku mewakili Indie untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Billy. Isakan tangis Indie membuat waktu seakan berjalan dengan lambat.
"Lalu bagaimana sekarang? Kamu akan bertanggung jawab pada wanita itu? Kamu akan menduakan aku, Mas?"
Billy menunduk dan terdiam. Sungguh, dia membuatku cemas. Jangan sampai kamu menduakan Indie.
Aku tidak bisa membayangkan hal itu, bagaimana hancurnya perasaan Suci dan ibunya kalau Billy sampai menduakan Indie?
Oh, *hit! Berengsek!
Aku meradang. Susah payah aku membuat ruang lingkup Suci sebahagia dan senyaman yang kubisa. Tapi sekarang....
"Aku tahu posisiku. Aku tahu aku dinikahi karena... sama, aku hamil dan minta pertanggungjawaban darimu. Tapi sekarang, aku... aku tidak bisa kalau kamu...."
Ya Tuhan... Indie pingsan.
Bagus! Awal kehancuran yang sempurna. Ingin rasanya kutembak mati Billy si idiot itu.
Argh! Sialan!
Bagaimana kalau nanti Suci mengetahui hal ini? Sungguh, aku takut ini akan berefek pada kandungannya yang rentan.
Tolong, Tuhan. Kuatkan kandungan istriku.