
Sebelum Billy dan Tante Melani pulang, aku mengajak Billy untuk bicara berdua. Dan tak seperti biasanya saat kami bicara empat mata, kali ini Billy terlihat tegang sewaktu berhadapan denganku. Dan kupikir, itu berarti dia benar-benar segan karena sudah dan untuk pertama kalinya melakukan kesalahan terhadapku. Kesalahan besar pula.
"Em, silakan duduk," kataku. "Santai saja, jangan tegang begitu. Saya tidak marah lagi, kecuali kalau kamu berniat lari dari tanggung jawab."
Dia menggeleng pelan. "Tidak usah, Tuan. Terima kasih," ujarnya.
"Duduk, Bill. Kamu mau saya diprotes istri saya karena membiarkan calon iparnya berdiri saja di situ? Nanti saya dibilang tidak menghargai calon adik ipar."
Ah, memang tidak bagus pikirku, ketika bawahan menjadi saudara. Billy memang biasanya berdiri saja ketika kami bicara, kecuali kalau kami sedang membahas berkas-berkas di atas meja kerja, barulah kami sama-sama duduk layaknya atasan dan bawahan kantoran yang sesungguhnya.
"Woy, Bung! Duduk...!"
Dengan ragu dan sedikit anggukan, Billy pun menurut. "Em, kalau saya boleh tahu, apa yang ingin Tuan bicarakan?"
"Hm, pertama, soal posisi yang ditinggalkan Raymond. Jujur, saya masih berharap Raymond kembali ke kantor. Jadi... untuk sementara saya tidak ingin mencari pengganti Raymond. Jadi, saya mau kamu fokus mengambil alih semua pekerjaan yang seharusnya dihandle oleh Raymond. Siap?"
Anggukan pertama kuterima. "Siap, Tuan," katanya.
"Yang kedua, hubungan antara kamu dan Indie nantinya. Saya tidak keberatan dengan perjanjian yang kamu ajukan pada Indie mengenai tes DNA, juga syarat semisal hasil tesnya negatif. Itu hakmu kalau kamu memutuskan untuk berpisah. Tapi kamu mesti menceraikannya baik-baik. Tidak perlu sampai menuntut ke jalur hukum."
Billy mengangguk. "Baiklah, Tuan. Saya tidak akan melakukan itu."
"Saya harap kamu menepati janjimu untuk mencintai dan membahagiakan anak dan istrimu nantinya, baik sebelum dia melahirkan atau pun nanti setelah tes DNA-nya menunjukkan hasil positif. Karena kalau tidak, kalau kamu hanya menjadi "suami status" bagi Indie yang berarti kamu tidak membahagiakan dia, saya yang akan turun tangan. Saya tidak akan tinggal diam kalau kamu menyakiti hati istri saya dan keluarganya. Paham, kan?"
Aku lega, Billy terlihat tulus dan bersungguh-sungguh mengatakan itu "Terima kasih, Bill. Em... satu lagi. Mama ingin kalian tinggal di sini. Kasihan juga, kan, kalau dia ditinggal sendiri? Saya harap--"
"Maaf, Tuan," potongnya. "Untuk hal ini rasanya saya keberatan."
Aku sempat kecewa. "Tapi, Bill," kataku sebelum ia kembali menyela.
"Saya tidak berniat meninggalkannya sendiri. Tapi kalau bisa, biar mereka yang ikut tinggal di rumah saya. Lingkungan di sana akan lebih nyaman untuk mereka. Maksud saya... jauh dari tetangga yang usil. Saya tidak mau kalau nanti Indie tertekan karena jadi bahan gunjingan warga di sini. Saya tidak mau terjadi hal yang buruk pada kandungannya."
Memang, bisa jadi. Tapi menurutku, Indie dan ibu mertuaku itu sudah cukup kebal dengan beban yang mesti mereka tanggung. Mereka sudah jauh lebih tegar dari sebelumnya. Tetapi, aku juga mesti menghargai keinginan Billy. "Baiklah. Nanti coba kamu sampaikan pada Indie dan mamanya." Dan nanti aku juga akan membicarakan soal ini dengan Suci, pikirku. Ibu mertuaku juga bisa ikut tinggal bersama kami.
"Sebenarnya itu soal mudah, Tuan. Saya tidak keberatan untuk sering menginap di sini kalau nanti mertua Anda -- maaf, maksud saya... mertua... kita. Kalau nanti beliau kangen mau pulang ke sini, saya bersedia menginap di sini. Yang penting mereka tidak sering mendengar tetangga bergunjingan nantinya. Saya juga malu, apalagi mereka. Oh, tapi saya tidak bermaksud... maaf, Tuan. Saya... saya sayang pada anak itu. Saya hanya sekadar malu kalau jadi bahan gunjingan tetangga."
Aku paham. Tapi, toh aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Hukum alam dan hukum masyarakat. Malu pasti, tapi bertanggung jawab juga harus. Jadi bahan gunjingan? Telan saja. Risiko.
Aku pun mengangguk. "Saya paham. Dan... omong-omong, ubah panggilanmu pada saya. Jangan lagi memanggil saya tuan."
"Em?" Ia tertegun. "Lalu saya harus memanggil dengan sebutan apa? Saya tidak enak kalau...."
Aku pun tidak tahu. "Terserah, yang penting panggilan yang tidak membuat istri saya protes."