
Setelah beberapa bulan berlalu dengan ketenangan, satu lagi keajaiban terjadi di dalam hidupku. Yap, keajaiban, karena Rhea mengalami kontraksi lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Belum genap sembilan bulan usia kandungannya, ia sudah mengalami kontraksi pada tengah malam. Yeah, waktu itu aku menganggapnya keberuntungan sebab aku merasa senang, itu berarti aku bisa lebih cepat mengetahui fakta sebenarnya tentang status anak di dalam kandungan Rhea.
Aku tahu aku egois, tak semestinya aku berpikir seperti itu, karena itu sama saja aku ingin bayi malang yang tak berdosa itu ikut menderita karena terlahir premature. Padahal, bayi itu tidak bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, aku ingin membuktikan kalau itu bukanlah anakku. Meskipun kata Suci ia tak akan mempermasalahkan hal itu sama sekali. Jika pun bayi itu adalah anak kandungku, katanya ia akan turut menyayangi anak itu seperti anak kandungnya sendiri. Dan aku percaya, tapi tetap saja, aku berharap kalau anak itu bukanlah anak kandungku.
Pada tengah malam itu, hampir jam dua belas malam, Mama Rhesmi terus-terusan menghubungi nomor ponselku. Namun, karena aku sudah terlelap dalam tidurku, Suci-lah yang terbangun dan ia menjawab telepon itu. Mama Rhesmi dalam keadaan panik dan mengabarkan bahwasanya Rhea mengalami kontraksi. Suci yang ikut panik pun lekas-lekas membangunkan aku.
"Kenapa?" tanyaku ikut panik, padahal aku masih sangat mengantuk. Kukira terjadi sesuatu pada diri Suci. "Perutmu sakit?"
Dia menggeleng cepat-cepat. "Kita mesti ke rumah sakit sekarang, Mas."
"Ya ampun, kamu kenapa?"
"Bukan aku, tapi--"
"Terus ada apa? Siapa?" potongku.
"Mbak Rhea. Kontraksi. Kita jemput dia sekarang."
Aku mendadak malas. "Memangnya tidak bisa menyusul saja besok pagi?"
"Mas...." Suci sudah turun dari ranjang. "Jangan begitu. Kasihan. Ini sudah malam. Susah mencari taksi. Ayo bangun...," celotehnya panjang sambil menarik-narikku.
Mau tak mau aku memaksakan diri turun dari ranjang dan mengambil jaketku, memakainya dan langsung meyambar kunci mobil dan dompetku. Begitu pula dengan Suci yang hanya mengambil jaket, membiarkan piyamanya terbungkus di dalam, kemudian kami langsung pergi menjemput Rhea dan ibunya, membawanya ke rumah sakit.
"Kamu senang sekali, sih?" tegur Suci sewaktu aku menyelesaikan administrasi rumah sakit. Suci ikut denganku sebab ia tak percaya kalau aku melakukannya sendiri. Ia takut aku tak menunaikan sesuatu yang ia anggap itu sebagai kewajibanku sebagai orang yang bertanggung jawab pada si jabang bayi.
Aku hanya tersenyum. Sungguh, bagaimana aku tidak senang kalau momen ini akhirnya datang juga. Aku bahkan meminta kepada pihak rumah sakit untuk langsung memeriksa golongan darah anak itu begitu ia lahir, dan, juga melakukan tes DNA antara aku dan bayi itu.
Aku tahu golongan darah Rhea. Aku berharap aku tak perlu menunggu hasil tes DNA keluar, kalau-kalau tipe golongan darah anak itu tak sama denganku ataupun golongan darah Rhea, maka tes DNA tak perlu dilakukan.
"Permisi, Pak. Istri Bapak meminta Bapak untuk menemaninya di ruang bersalin."
Ingin aku meneriakinya keras-keras. Kenapa, sih, dia mesti berbuat seperti itu? Sudah sangat terlambat untuk mendapatkan perhatianku! Sebegitu percaya diri, kah, dia dengan cinta yang kumiliki dulu? Berharap cinta itu masih ada? Akan bersemi lagi? Tidak akan pernah!
"Maaf, Suster. Tapi saya bukan suaminya. Kalau dia tidak mau melahirkan sendiri, ya sudah, tidak usah melahirkan. Biar saja dia kesakitan."
Suster itu tak mengatakan apa pun lagi selain kata permisi, kemudian ia pergi. Baguslah, bukan wewenangnya untuk menyampaikan apa pun sebagai bujukan kepadaku.
Yang pasti, semua orang menatapku tercengang. Terlebih Mama Rhesmi. Tapi sungguh, aku tak bermaksud menyakiti hatinya. Namun ia tak berkata apa-apa, ia langsung masuk ke ruang bersalin untuk menasihati anaknya.
"Mas...," kata Suci.
Aku tahu dia ingin membujukku. "Tidak, Yang. Terserah apa pun katamu. Satu-satunya perempuan yang akan kutemani di ruang bersalin itu cuma kamu. Istriku. Bukan perempuan lain."
"Tapi, Mas...."
"Maaf, tapi kali ini aku tidak akan menurut padamu."
"Please... aku tidak ingin kamu menyesal nantinya. Tolong?"
"Terserah. Justru aku akan menyesal nanti kalau kamu bukan satu-satunya perempuan yang kutemani saat bersalin, apalagi bukan yang pertama. Kamu paham itu?"
Suci menangis. Terlalu lembut hati dan perasaanya. "Apa tidak bisa kamu melakukan itu untuk anaknya? Untuk anakmu? Aku takut nanti dia kenapa-kenapa, atau anaknya...."
"Diamlah. Sebagai seorang ibu, kalau dia sayang dan berbelas kasih pada anak itu, dia akan melahirkannya tanpa banyak syarat. Jangan menegoku lagi!"
Suci terdiam.
"Heh! Masih untung aku mau ke sini dan mengurusinya! Perempuan sialan!"
Dia membuat mood-ku kembali down.