Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Istri Sempurna


"Suci-ku tidak seperti itu. Dia bersedia di bawah pengawasanku selama dua puluh empat jam. Bukan sepertimu yang ternyata suka kucing-kucingan di belakangku. Penipu dan tukang bohong! Dan kamu itu murahan! Sekarang kamu juga ingin mendapatkan gelar baru sebagai pelakor, hmm?"


Oh, hinaan itu memang layak ia dapatkan.


"Maaf kalau pembahasan kita malah jadi panjang. Intinya aku berharap akan ada kesempatan ke-dua darimu. Dan, kalau kamu berubah pikiran, datang saja padaku. Kapan pun."


Dia pun berlalu.


Sabar, Rangga. Sabar....


Well, kulanjutkan pekerjaanku. Kukumpulkan semua kantung belanjaan itu di tanganku dan segera kubawa masuk.


Dan... apa lagi ini, Tuhan?


Mama Rhesmi tengah bicara berdua dengan Suci sambil menangis tersedu-sedu.


Hmm....


"Maaf, Ma, aku tidak bisa. Aku tidak akan merelakan suamiku berpoligami. Tidak dengan siapa pun. Lagipula tadi kita lihat sendiri, kan? Mas Rangga sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi terhadap Mbak Rhea. Apa lagi yang Mama harapkan? Mereka tidak mungkin lagi untuk rujuk."


Jawaban itu sudah cukup bagiku untuk mengetahui apa yang dipinta Mama Rhesmi kepada Suci sambil menangis sesenggukan. Bahkan ternyata, mereka tadi melihatku dan Rhea berada di luar. Namun aku tetap tidak beranjak dari tempatku, menguping di balik tembok. Dari jawaban yang dituturkan Suci, aku percaya dia bisa mengatasi sendiri apa yang ia hadapi itu. Dan untung saja tadi aku tidak berbuat kasar kepada Rhea dengan tanganku, kalau Suci melihatku memukuli perempuan, dia pasti akan marah besar.


Mama Rhesmi mengangguk, kukira itu berarti pembahasan telah selesai, ternyata belum. "Mama hanya kasihan pada Rhea dan anaknya kalau semisal nanti ia lahir tanpa ayah."


"Itu sudah menjadi risiko yang mesti Mbak Rhea terima. Tapi kalau soal anak, aku tidak keberatan suamiku berbagi cinta dan kasih sayangnya dengan cucu Mama. Tapi tidak dengan ibunya. Maaf, ya, Ma? Sebagai sesama wanita, Mama bisa memahamiku, kan? Aku tidak mau berbagi suami."


Terlalu baik kamu, Yang. Terlalu sopan.


"Satu hal lagi, aku janji, Mas Rangga akan sayang pada anaknya. Dia akan bertanggung jawab sepenuhnya sebagai seorang ayah. Dan... sekalipun nanti terbukti itu bukan anak kandungnya Mas Rangga, aku akan tetap meminta pada Mas Rangga untuk memenuhi kebutuhan anak itu. Aku pastikan itu, Ma. Mama jangan khawatir, cucu Mama akan terjamin kehidupannya."


Kali ini Mama Rhesmi mengangguk lagi, namun tak lagi bersuara.


"Sekarang aku mau izin ke kamar mandi, ya. Aku permisi."


Suci pun buru-buru berdiri dan meninggalkan Mama Rhesmi yang menelan rasa malunya. Ya, aku pun mengerti. Seorang ibu rela melakukan apa pun demi anak dan cucunya. Termasuk menahan rasa malu dan seakan membuang kotoran di mukanya sendiri.


"Dia baik, ya, Ma?" kataku sembari berjalan menghampiri Mama Rhesmi dan menaruh kantung-kantung belanjaan di tanganku ke atas meja.


Mama Rhesmi nyaris terlonjak menyadari keberadaanku. "Sejak kapan kamu di sana, Nak?"


"Sedari tadi, cukup lama sampai bisa mendengarkan hampir semua obrolan kalian. Dan aku sangat kecewa pada Mama."