
"Ya ampun... Mbak senang sekali mendengarnya. Pokoknya kamu harus pertahankan rumah tangga kalian, ya. Wajib!"
Akhirnya, sang adik sudah bisa tersenyum. "Iya, Mbak... makanya Mbak sekarang pulang. Nanti dicariin Mama. Lagipula kasihan Mas Billy jadi lama di luar. Dia pasti merindukan anaknya."
"Oooh... dia rajin mengelus perutmu, ya?"
"Hu'um. Sangat."
"Pantas kamu selalu terlihat bahagia sebelum ada masalah ini. Ya sudah, deh. Mbak langsung pulang kalau begitu. Kamu baik-baik, ya. Cepat sehat supaya bisa cepat pulang." Mereka berpelukan. "Mbak sayang padamu."
Melow...
"Trims, Mbak. Aku juga sayang pada Mbak."
Huffft... syukurlah. Istriku akhirnya keluar juga dari ruang rawat itu. Aku lega dia tidak emosi dan anakku baik-baik saja di dalam kandungannya. Asli, masalah-masalah ini bagaikan roller coaster yang membuat jantungku nyaris copot dari tempatnya.
"Ayo, pulang," ajakku.
Suci menggeleng. "Pamitan dulu pada Billy."
Kubiarkan ia berpamitan sendiri, entah apa yang ia pesankan pada adik iparnya itu, aku tidak mendengarnya. Dan setelah itu, bukannya langsung pulang, dia malah mengintip ke dalam, melihat sepasang suami istri itu berbaikan dan saling berpelukan. Billy meminta maaf pada istri belianya dan tak lupa mengelus perut plus mengajak si jabang bayi bicara.
"Ayo pulang, Yang. Ngapain ngintip mereka? Aku juga bisa, kok, perhatian seperti itu," protesku.
Suci terkekeh, dan tanpa protes ia menggandengku dan kami segera pergi meninggalkan rumah sakit.
"Terima kasih, ya, atas cinta yang begitu besar, sampai kamu bisa melawan semua rasa takut itu," ujarku. Kami sudah berada di dalam mobil dan dalam perjalanan pulang.
"Oh, ya ampun. Aku sampai lupa menyuruhmu ngemil." Aku pun mulai celingak-celinguk memperhatikan jalan. "Kita beli, ya," kataku. "Rasanya di sekitar sini ada."
Benar. Tidak jauh dari posisi kami, beberapa meter di depan ada bakeri yang juga menyediakan pizza. Aku pun segera membelokkan mobil dan masuk ke pelataran parkirnya yang lumayan ramai. Kemudian, sewaktu aku hendak turun, Suci merengek, "Suruh anak buahmu saja," katanya. "Nanti kaki dan pinggangku pegal kalau ikut antre lama-lama."
"Hmm... tumben manja?"
"Jangan protes...."
"Tidak, Sayang. Aku tidak protes."
"Ya sudah, gih suruh Simon atau siapa yang antre ke dalam."
Aku mengangguk, mengambil ponsel dan menghubungi Simon, menyuruhnya turun dan membeli pizza itu untuk istriku yang mungkin sedang mengidam. "Sesukamu," kataku sewaktu Simon bertanya mau beli seberapa banyak. "Yang penting yang tidak berbahaya untuk ibu hamil. Awas, jangan teledor sedikit pun. Perhatikan baik-baik segala sesuatunya." Lalu aku menutup sambungan telepon.
Suci terbahak-bahak. "Kamu bisa membuat dia bingung, tahu! Memangnya dia mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil?"
"Terserah. Dia bisa tanyakan pada pelayannya. Dia kan punya otak."
"Oke-oke," kata Suci. Lalu ia berbisik, "Terima kasih, Mas," katanya. "Terima kasih banyak."
"Hei," tegurku, aku menyadari tangan Suci yang bergerak ke area sensitifku. Mengelus di sana. "Jauhkan tanganmu, Sayang. Kalau tidak...."
Dia nyengir. "Kalau tidak, memangnya kenapa? Apa aku membangunkan macan, atau singa?"
Lebih daripada itu! Sesuatu yang menuntut timbal balik!