Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Kumat


Aku dicap sebagai suami terbucin di abad ini oleh Roby saat aku menghubunginya dan memintanya untuk datang ke rumah bersama Jessy dalam rangka merayakan tahun baru bersama kami. Kenapa dia bilang aku bucin? Karena ini kulakukan demi memenuhi permintaan istriku. Suci kepingin mengadakan acara tahun baru dan mengundang orang-orang terdekat kami untuk berkumpul bersama. Dan ini pertama kalinya kulakukan setelah bertahun-tahun aku tidak pernah merayakan tahun baru, setelah terakhir kali bersama Mama Sania, dulu -- beberapa hari sebelum kepergiannya. Tapi kali ini demi Suci dan calon anakku yang ada di rahimnya, aku bersedia. Dicap bucin pun tak masalah. Faktanya aku memang bucin pada istriku. Apalagi sekarang dia sedang hamil anakku. Kebahagiaannya semakin menjadi prioritas utama bagiku. Lagipula itu bagus supaya Suci terus sibuk dalam suasana yang ceria.


Dan seperti yang diinginkan oleh Suci, ini hanya acara kumpul bersama untuk berbahagia. Tidak ada hiasan lampu apalagi panggung band. Tapi, si gondrong Leo tidak mungkin menghadiri acara kumpul-kumpul tanpa gitar kesayangannya. Entahlah, Suci menganggap preman-preman itu seperti keluarga sendiri mengingat mereka sering menjadi bodyguard yang sering bertugas menjaganya, sehingga mereka pun diundang. Simon merasa mendapatkan angin segar dan menganggap dia dan teman-teman satu timnya sebagai bodyguard andalan.


Malam itu, keseluruhan pekarangan berbau seperti daging panggang berminyak. Kami tidak memanggil koki, sebab para perempuan yang menghadiri pesta barbekyu itu antusias ingin memanggang sendiri semua jenis makanan yang telah kami siapkan, ditambah lagi Bibi Merry dan Mbok Sari menyiapkan sambal andalan mereka sebagai cocolan bagi mereka yang suka makanan pedas. Yap, tentunya, semua jenis seafood dan daging-dagingan sudah direbus terlebih dulu mengingat ada tiga ibu hamil di pesta kecil ini: Suci, Indie, dan Jessy. Roy malah sempat menggoda Karin kala itu, katanya, "Kamu mau hamil juga, tidak? Aku bisa bantu."


"Gila!" cetusku.


"Harap maklum. Lagi stres."


"Stres kenapa?"


Roby mengedikkan bahu, lalu menjawab dengan enteng, "Ditinggal Stella."


"Maksudnya?"


"Tidak tahu. Pokoknya itu perempuan menghilang."


"Kok bisa, Rob? Ke mana dia?"


"Lah... Roy aja nggak tahu. Lu malah nanya ke gue."


Tapi kupikir itu bagus. Mungkin dengan begitu Roy bisa move on dan akan menyukai perempuan lain. Misalnya Karin. Bukankah itu akan lebih baik? Mungkin.


"Semoga dia menemukan cinta sejatinya pada perempuan lain," kataku.


Roby mengangguk. "Semoga. Paling tidak, gue senang dia mau datang. Walaupun masih terasa kurang karena di sini tidak ada Raymond."


"Yah," kataku, "sayang sekali. Dia masih mempertahankan egonya. Apalagi sekarang Bryan sudah memberikan posisinya ke Raymond. Dia makin sibuk dan sepertinya tidak mau lagi memikirkan persahabatan kita. Sedih gue, Rob."


"Untuk memulai pesta dengan semestinya," katanya.


Ada dua gelas minuman di atas nampan yang ia bawa. Tapi aku dan Roby menolak. Kami sudah memutuskan untuk tidak lagi minum-minum demi menuruti aturan istri.


"Makanya lu nikah, Bro," kata Roby.


"Mau menikah dengan siapa?"


"Noh, si Karin. Jomblo cantik."


"Hah! Mana mungkin dia mau sama gue."


"Heh! Sejak kapan lu minderan begitu?"


"Sejak ditinggal Stella," cetusnya lirih. "Lu tahu dia ke mana?"


"Mana gue tahu, Roy. Kok nanya ke gue, sih? Ada-ada aja, lu!"


"Ya siapa tahu, lu sembunyiin dia di mana gitu buat pelampiasan."


Wah, dia sudah mabuk. Otaknya sengklek.


"Gue sudah punya istri. Ngapain lagi main-main dengan perempuan lain?"


Roby pun turut menimbrung, ia menepuk pelan punggung Roy kemudian ia merangkulnya. "Sudah waktunya menikah. Carilah perempuan baik-baik untuk dijadikan istri."


Ah, Roy... jujur aku tidak ingin kehilanganmu seperti aku kehilangan Raymond.