Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Kacau


》Gue denger lu udah masuk kerja? Makan siang bareng di kantin bawah, yuk? Kita tunggu, ya.


Pesan whatsapp dari Roby menyetop tanganku dari sibuknya pekerjaan.


"Hei, Cantik. Mau makan bareng Roby dan Jessy? Mereka menunggu di kantin."


Widih... semangat membara, istriku yang cantik langsung semringah mendengar nama Jessy, sahabat barunya. "Hayuk, aku mau. Karin juga boleh ikut, ya? Biar rame. Mau, kan, Rin?"


Karin mengangguk. "Siap, Bu."


"Panggil saja Suci. Aku bahkan lebih muda darimu. Masa aku dipanggil ibu."


Bla bla bla....


Namanya juga perempuan, cuap-cuap terus selagi ada yang dibicarakan. Bahkan aku sudah berdiri mereka masih asyik sendiri. "Ayo...," kataku.


Lagi, dia kembali berceloteh saat aku hendak menggandeng tangannya. "Malu, Mas...," katanya. Dia malah menggandeng tangan Karin dan membiarkan aku berjalan di belakang mereka.


Euw... sembari berjalan, mereka masih saja mengobrol dan cekikikan. "Kalau kita di taman atau di mall, aku mau, kok, kita bergandengan tangan," kata Suci saat menoleh ke belakang. Hatiku yang tadi pegel linu mendadak sembuh melihat tawanya yang riang. Tapi...


Sial, sesampainya di kantin, aku malah ditertawai oleh pasangan mendadak cinta itu, Roby dan Jessy. Mereka terkekeh seolah sedang menonton tayangan komedi. Sekali lagi, Euw!


"Kayak pengawal, lu, jalannya di belakang begitu."


"Tidak lucu!" kataku sembari duduk.


"Hati-hati, Rin," kata Robi lagi. "Nanti posisimu digeser oleh Suci."


"Maksudnya gimana? Apa bedanya, Ci?" tanya Jessy. "Tapi kayaknya aku bisa nebak. Kamu bagian service khusus, kan?"


Hmm... aku tidak punya wibawa sebagai atasan. Mereka cekikikan menertawaiku.


"Aloha...." Roy datang dari arah belakang dan langsung bergabung di meja kami. "Lo? Ada kamu, Ci? Ngapain ke sini? Sama Raymond, ya?"


Suasana mendadak hening. Semua orang mengerti itu kecuali Karin, dia kebingungan. Sementara aku dan Suci sama-sama tahu kalau Roy sengaja melakukan itu.


"Tapi bukannya pertunangan kalian sudah batal, ya? Atau kamu ke sini mau baikan dengan Raymond? Kasihan tahu dia. Kan keluarganya yang sudah membiayai operasi matamu. Eh, kamu malah...."


Geram! Aku tidak tahan. "Sori, Man. Suci--"


"Saya sudah menikah dengan Mas Rangga," Suci memotong. Air matanya mulai menetes membasahi wajah. "Saya juga mau mengucapkan terima kasih karena Mas Roy sudah datang ke Singapura. Terima kasih untuk kunjungannya hari itu. Dan, tolong sampaikan permintaan maaf saya pada orang suruhan Mas Roy yang malam itu jauh-jauh menyambangi saya di kampung. Saya permisi."


Di luar kendali. Kacau. Nampaknya ucapan Roy benar-benar telah menyinggung perasaan Suci. Dia sampai berlari meninggalkan tempat, bahkan tanpa peduli padaku.


Aku kesal, dan rasanya bara api sudah mengepul di atas kepalaku. Kalau bukan karena Roby yang menahanku, sudah pasti tinjuku langsung melayang dan menghantam rahang bajingan tengik itu. Tapi tidak, kuputuskan untuk mengejar Suci. Itu jauh lebih penting.


"Kita bicarakan lain kali," kataku seraya melotot tajam. Aku berusaha menahan amarahku atas kelakuan Roy berkat Roby yang melerai.


Huh! Andai saja hubungan persahabatan kami tidak pernah terjalin sampai belasan tahun, aku tidak akan ragu untuk adu jotos dengan Roy saat itu juga. Dia pantas dihajar.


Dasar berengsek!