
Tetapi itu tidak terjadi. Harapanku serta merta kandas berganti kemarahan, karena nyatanya, begitu aku masuk, lelaki itu sedang berkacak pinggang menatap langit di jendela kaca ruangannya. Ada Roby dan Roy juga di sana. Kupikir, kehadiran Roy pasti memberikan dampak buruk pada emosi Raymond, tapi setidaknya ada Roby yang pasti berusaha menetralkannya meski hasilnya tidak akan maksimal.
Waktu itu, Raymond masih bersikap sama. Dia masih marah dan sakit hati padaku. Dia hanya menoleh sedikit dan kembali membuang muka dariku.
"Permisi," kata Roy, "gue mesti balik."
Hmm... terlihat jelas dia sedang menghindariku, tapi tidak apa-apa. Aku harus fokus pada permasalahan antara aku dan Raymond lebih dulu.
"Ngapain lagi, Ngga?"
"Kita mesti meluruskan semuanya, Ray."
"Heh! Apa lagi yang mesti diluruskan?"
"Ray, please... antara gue dan Suci itu hubungan yang murni, bukan sesuatu yang kita rencanakan untuk mengkhianati lu. Sama sekali bukan."
Raymond tertawa sumbang. "Dasar pengkhianat!" katanya.
"Terserah kalau lu nggak percaya, tapi ini yang sebenarnya, Ray. Lu ingat, waktu lu ngajak gue ke bar? Waktu itu gue lancang minum anggur di gelas lu. Nah, malam itu gue ketemu Suci. Dia pingsan di depan mobil gue. Gue bawa dia ke rumah gue, dan... hal itu terjadi. Itulah kenapa gue menikahinya, Ray. Gue bertanggung jawab atas apa yang sudah gue lakukan ke dia. Walau memang pada akhirnya kami benar-benar saling mencintai, semuanya murni. Suci sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Gue yang salah. Gue bahkan menahan Suci berhari-hari di rumah gue. Gue sama sekali nggak tau kalau dia cewek yang dijodohkan sama lu. Jadi, please, gue minta maaf. Gue akui, gue yang salah. Please?"
Sekali lagi, Raymond hanya menertawaiku. "Dan lu berharap gue percaya? Hmm? Lu harap gue bakal maafin lu? Mimpi! Lu itu pagar makan tanaman, Ngga. Lu tega nikung gue."
"Ya Tuhan, Ray...."
Tok! Tok!
"Masuk," kata Raymond.
Ceklek!
Pintu terbuka, dan sosok Regina berdiri di depan pintu. "Permisi, maaf, Pak. Apa Bapak memangggil saya?"
Raymond mengangguk, dalam kelebat cepat ia menghampiri dan menyeret paksa tangan perempuan itu ke toilet hingga menghasilkan dentuman keras ketika Raymond menutup pintu, sementara di sisi lain: aku dan Roby hanya bisa menganga keheranan menyaksikan kegilaan Raymond. "Saya butuh kamu," tekannya. Masih ada amarah dalam suaranya.
"Tapi, Pak--"
Hening, lalu terdengar engahan panas. Kutebak, Raymond baru saja membungkam bibir Regina dengan sebuah ciuman keras.
"Pak, tolong... di luar kan masih ada orang...."
"Peduli setan!"
"Diam dan menurut. Lakukan saja tugasmu."
Astaga... berengsek!
"Ray!" teriakku, "kita mesti bicara."
"Ah!"
"Ray!"
"Ah! Pak, pelan-pelan!"
"Woy! Bajingan!"
"Aaah...!"
"Ray...!"
"Aaah... sakit!"
Roby menarikku. "Sudah, Ngga! Semakin lu memaksa Raymond, semakin dia melampiaskan amarahnya pada Regina. Kasihan dia, kan? Sudahlah, kita pergi dulu saja dari sini."
"Dasar gila! Psikopat!"
"Aw! Ah! Pak, sakit, Pak...!"
"Berengsek lu, Ray!"
"Sakiiiiiiiiiit...! Tolong pelan-pelan saja, Pak. Bapak menyakiti saya."
Argh!
"Sudah, Ngga! Ayo!" Roby menarikku keluar.
Dasar berengsek! Aku sangat kesal. Tapi...
Kucoba mengatur napas perlahan dan menurunkan emosiku. Baiklah. Sabar, Rangga. Sabar. Yang kau hadapi saat ini adalah sosok orang gila. Benar-benar gila.
Speechless....