
Terbangun pagi ini aku merasa damai. Aku mengingat jelas kata demi kata ucapan Suci semalam. Dia benar, semua orang punya masa lalu.
"Aku pernah punya rasa. Aku pernah menyukai lawan jenis. Tapi itu hanya sebatas rasa yang sudah lama mati. Tapi, tentang aku dan kehormatanku sebagai seorang istri, jangankan keperawananku, bibirku saja kamu yang pertama kali menyentuh. Kamu tahu aku perawan, kamu tahu semua bagian tubuhku masih murni saat pertama kali kamu menyentuhku, ya kan? Sementara kamu, jangankan keperjakaan, kamu bahkan sudah pernah menikah dan itu pun gagal. Jadi kalau kita bicara soal ketakutan, aku yang mestinya takut karena berani mengambil risiko menikah dengan seorang lelaki yang pernah gagal. Pemimpin yang pernah gagal. Sori, aku bukannya bermaksud menyinggung. Tapi perlu kamu sadari, aku memberikan kehidupanku kepadamu. Jadi, teruslah ada di sisiku, dua puluh empat jam bersamaku. Bahkan kalau perlu, aku mengizinkanmu memborgol tanganku dengan tanganmu. Hmm? Apa perlu seperti itu?"
Saat itu aku menggeleng.
"Mas... kalau kamu meragukan hatiku, tidak apa. Aku bisa mengerti. Tapi... kamu jelas bisa melihat, ragaku... selalu ada di sini. Selalu bersamamu dan menemanimu. Jadi, meskipun ketakutan itu tidak bisa pergi, setidaknya jangan jadikan ketakutanmu itu seperti kerikil yang mengganggu perjalanan cinta kita. Kamu mengerti maksudku, kan? Aku mencintaimu."
Yeah, semuanya benar. Sebenarnya aku sedikit pun tidak bermaksud memercikkan api, tapi kepahitan masa laluku yang merongrongku dari dalam. Tapi aku lega, Suci sangat bijak saat menanggapi rasa paranoidku. Semalam, saat aku meminta maaf, Suci berkata bahwa dia mengerti sepenuhnya.
"Kamu hanya perlu membahagiakanku terus, itu juga yang akan selalu kulakukan untukmu. Dan kita... akan selalu bersama-sama, setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap waktu, dua puluh empat jam, bersama, selamanya."
Lalu kami berciuman di tengah keramaian. Begitu damai kurasakan. Aku selalu seperti singa yang mampu ia jinakkan.
"Kenapa, sih, kamu memandangiku sampai sebegitunya?"
Mata indah itu baru saja terbuka sesaat, tetapi terpejam kembali seraya meringkuk lebih dekat kepadaku. Aku tersenyum, lalu mengecup singkat puncak kepalanya. "Tidak apa-apa, Sayang. Omong-omong, kamu capek banget, ya? Tumben, biasanya kamu yang bangun duluan."
"Em, capek banget, Mas. Luar biasa," Suci menyahut meski matanya masih terpejam. "Aku butuh layanan pijat, kalau kamu tidak keberatan, sih."
Ah, siap. Apa susahnya memijat? Itu tidak akan mencoreng kehormatanku sebagai seorang suami, malah justru suatu kebanggaan karena bisa melakukan sesuatu -- meskipun hanya hal kecil, namun itu bisa menyenangkan istri.
"Mau jawaban jujur?"
"Ya, jujur saja."
"Kalau mesti jujur ya lumayan. Kalau mesti sedikit nggak jujur, ya kubilang saja enak." Dia terkikik. "Tapi lumayanlah untuk ukuran seorang bos. Kamu kan bukan ahli pijat."
"Bisa saja kamu." Aku ikut terkikik. "Jadi, apa kamu mau pergi ke spa, atau mau dicarikan tukang urut? Kalau mau ke spa, aku siap mengantar. Cusss, otewe kita. Bagaimana? Mau?"
Suci menggeleng lemah. "Aku mau pijatanmu saja," sahutnya. Nampaknya ia masih sangat mengantuk atau super kelelahan. "Aku suka dimanjain sama kamu, Mas. Terima kasih, ya. Kamu suami luar biasa."
"Sama-sama, Sayang. Aku siap kalau mesti memanjakanmu terus."
"Uuuh... manisnya suamiku. Lanjut terus, ya, pijatnya. Yang lama."
"Oke. Apa pun untuk istriku tercinta. Sampai jari-jariku keriting juga tidak masalah."
"Gombal! Beneran keriting, lo, nanti. Kayak itu tu...." Suci terbahak-bahak.
Dasar edan! Itu apa, coba?