Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Lagi, Gelisah....


Apa? Tewas?


Oh, itu benar-benar kabar buruk. Spontan kakiku menginjak rem dengan tajam. "Apa yang terjadi? Kenapa bisa begitu?"


"Saya belum tahu. Bu Rhea masih histeris."


"Oke," kataku panik. "Saya pulang sekarang."


"Ya, Tuan."


Tut! Sambungan telepon tertutup.


"Sayang, kamu pegangan. Aku mau ngebut."


Suci cemas. "Ada apa? Siapa yang tewas?" tanyanya.


Tapi aku tidak menjawab. Aku fokus menyetir dan melajukan mobil dengan kencang.


Sesampainya di rumah, aku menyuruh Suci langsung masuk ke dalam rumah sementara aku segera ke ruang bawah tanah melalui pintu masuk paviliun samping. Billy dan dua orang anak buahku yang berjaga di paviliun tengah berdiri di depan pintu -- dengan sosok mayat yang terbaring tertutup kain.


"Kemungkinan mereka bertengkar, Tuan. Sepertinya Bu Rhea mendorong Biktor dan menyebabkan kepalanya terbentur, sebab ada luka di bagian belakang kepalanya."


Ya Tuhan, pusing sekali kepalaku. Bagaimana ini?


"Kuburkan dengan layak, Mas."


Aku tersentak mendengar suara itu. "Sayang?"


Suci melangkah masuk dari arah lorong, dan dengan sebuah kain di tangannya. "Tolong kuburkan dia baik-baik. Bersihkan dan siapkan peti. Aku tidak mau kalau kamu memperlakukannya seperti hewan. Janji?"


Kuhela napas dalam-dalam, kemudian mengangguk. Aku terpaksa mengiyakan dan berjanji. "Kamu urus, Bill. Pastikan pekerjaanmu bersih. Jangan sampai hal ini diketahui oleh orang luar."


"Siap, Tuan!"


"Ayo," kataku pada Suci.


"Aku mau masuk, Mas," pinta Suci, dia ingin menemui Rhea. "Tolong, buka pintunya."


Praktis, aku menggeleng -- menolak permintaannya yang berat untuk kupenuhi.


"Tapi, Yang--"


"Mas, kita sudah membahas ini tadi...."


"Situasinya berbeda, Sayang. Sekarang ini--"


"Jangan menunda-nunda, Mas. Aku yakin dia sangat ketakutan sekarang. Kasihan...."


Aku tahu, tapi rasanya aku tidak ingin melakukan itu sekarang. Sebab...


"Kita ke rumah dulu. Nanti aku minta Bibi Merry membawanya keluar."


Suci menolak. "Sekarang saja," katanya. "Aku tidak mau kamu banyak alasan, apalagi sampai berubah pikiran."


"Tidak akan...."


"Ya, sudah. Ayo, buka pintunya."


"Nanti, ya. Kita tunggu di rumah saja."


"Mas, buka!" katanya agak keras.


"Tidak! Dia tidak mengenalmu."


"Aku yang ingin mengenalnya."


Keras kepala!


"Mas... aku tidak suka kamu menutupi-nutupi masalah ini dariku. Aku ingin memastikan sendiri semuanya berjalan sesuai yang aku inginkan. Tolonglah, aku mohon...."


Euw! Untung saja Billy dan yang lain sudah pergi. Kalau tidak, betapa malunya aku yang seakan takluk pada istriku ini.


"Baiklah," kataku. Kuambil kunci yang ditaruh di dalam laci sebuah meja kecil di samping pintu itu, lalu membuka ruangan di mana Rhea terkurung di dalamnya.


Dan sesuai yang kukhawatirkan, Suci menatap ruangan itu dengan gamang. Meski anak buahku menyiapkan tempat tidur yang tebal dan terlapis kain -- di mana di bawahnya merupakan tumpukan jerami, dan ada sirkulasi udara yang baik di dalam ruangan itu, tapi di ruangan itu tidak ada toilet. Suci meringis melihat Rhea meringkuk dengan mendekap tubuh telanjangnya dengan kedua tangan dan kakinya, juga ketika ia melihat dua nampan ember berukuran besar. Satu berisi penuh pasir, dan satu berisi air tanpa gayung -- layaknya kubangan yang mereka gunakan untuk membasuh tangan, kaki, dan wajah mereka. Mungkin juga untuk mereka berendam. Mungkin juga Suci menggerutu di dalam hati: betapa kejam suaminya ini.


Oh Tuhan....