Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Bebas


"Sabarlah sedikit," protes Suci saat ia tidak sengaja hampir menjatuhkan mangkuk yang ada di tangannya.


Aku menggeleng. "Fokuslah pada bagianmu. Dan aku fokus pada bagianku."


"Mana bisa, Mas...," ia merengek. *esahan seksi praktis lolos dari bibirnya.


Oh, dia membuat gairahku semakin terbakar.


"Ya ampun, Mas...."


"Ssst...."


"Ouch!"


"Nikmat, kan?"


"Ya, sih. Tapi kan...."


"Rileks, Sayang. Nikmati saja."


Gemetar. Kedua kakinya goyah dan ia mesti menopang tubuhnya dengan kedua tangan menahan di sisi wastafel. *rangannya sungguh seksi tatkala aku mengambil bagian lembut itu dengan mulutku. Dan, rasa nikmat menyeruak di antara aromanya yang manis. Yang menggiurkan dan membuatku ingin terus merasakannya. Tetapi...


"Ya ampun, Mas. Gila kamu...," *rangnya. Seluruh sarafnya menegang.


Ugh! Dia mencengkeram rambutku. Membuatku jadi berpikir, bagaimana nanti ketika ia melahirkan? Begini saja ia sampai mencengkeram rambutku begitu kuat. Duh... duh... duh... aku mesti berdiri.


"Ouch, Mas...!" dia kembali memperdengarkan rintihan nikmat, sungguh meresapi ketika aku menggigit dan mengisa* pundaknya.


"Sebentar lagi, Mas," sahutnya. "Dan omong-omong, aku tidak punya banyak rencana, tapi sungguh, apa pun yang kamu inginkan, kita bisa melakukannya tanpa terkecuali. Apa pun."


Dan inilah yang kuinginkan. Begitu ia selesai dengan kesibukannya di wastafel, kuangkat satu kakinya, menekuk lutut dan menaruhnya dengan nyaman di atas counter, dan aku segera memosisikan diri hingga kami menyatu dengan sempurna.


"Please, menunduk sedikit," pintaku.


Suci menurut, mencondongkan tubuhnya dan aku mengimbangi. Pergerakan kami dengan irama dan ritme yang teratur, santai, namun tetap saja Suci merasa tidak nyaman jika berlama-lama dengan posisi seperti itu. Pinggangnya terasa pegal dan aku terpaksa melepaskannya. Seketika Suci kembali berdiri tegak, ia berputar dan aku menggunakan jeda itu untuk memeluknya. Mencium bibir, pipi, dan lehernya, lalu memulai lagi dari awal.


"Aku ingin masuk," bisikku kemudian.


Suci mengangguk, lalu perlahan kuangkat ia dan mendudukkannya di samping wastafel. "Mari kita tuntaskan," katanya, balas berbisik dan senyuman hangat pun kembali mengembang. Dia benar-benar cantik dan manis. Kucing kecilku yang menggemaskan.


Aku tersenyum puas, penuh kemenangan saat menyambut kebebasanku. "Aku ingin menyiksamu, Sayang. Kau boleh memohon ampun jika perlu, tapi kurasa aku akan kesulitan menahan diri."


Hah!


Dia terkekeh. "Jangan membuatku ngeri, Mas. Aku takut tidak bisa menanggungnya."


Maka nikmati saja! Untuk apa mencegahku? Kurasa aku sudah kerasukan setan cinta.


"Mas!" ia tersentak, merasakan serangan kuat yang tiba-tiba. "Ya Tuhan! Ya Tuhan! Mas...!"


Menggema. Ia mengeran* kuat dan benar-benar tak menahan apa pun di dalam ruangan tertutup itu hingga suaranya menggema, nyaris melengking membelah ruangan. Sungguh, aku merasa puas atas kebebasan yang kami miliki, plus keliaran yang tak perlu ditahan terhadap satu sama lain. Kemudian, sesaat setelah aku menurunkan kembali ritme bercinta kami, Suci mengaitkan kakinya di pinggangku sementara kedua tangannya melingkar ke balik punggung dan leherku. Kami menyatu, menempel, menghunjam dan dihunjam hingga berkeringat: basah, *endesah dengan deru napas yang tak beraturan, dan, berakhir dengan *rangan saat kami mencapai puncak bersama. Oh, manis sekali.


Sungguh, ini bulan madu yang indah. Terima kasih, Sayang....