
"Maaf, Pak. Saya mau mengingatkan, malam ini ada undangan ulang tahun perusahaan Dirgantara Group," kata Karin pada jumat sore itu. Seperti biasa, Suci selalu ikut aku ke kantor.
Aku hanya mengangguk pada Karin, eh malah Suci yang merespons. Dia sedikit tahu tentang perusahaan itu -- perusahaan yang dipimpin oleh Reno Dirgantara, ayahnya Rhea.
"Dirgantara Group? Itu perusahaan lumayan besar, kan? Aku pernah jadi brand ambassador produk perusahaan itu. Aku boleh ikut, ya, Mas?"
Hah? Aku sedikit tercengang. Aku saja tidak ingin hadir. Tidak ingin bertemu dengan orang yang pernah menjadi bagian keluargaku di masa lalu.
"Hallo... Mas... bumi memanggil! Apa aku tidak boleh ikut? Kamu tidak mau mengajakku? Iya?"
Seketika Karin tertegun, seolah dia menyadari kalau Suci tidak tahu kalau itu perusahaan mantan mertuaku. "Maaf, Pak. Apa Bapak mau mengirim perwakilan saja?"
Aku berdeham. Tenggorokanku terasa kering. Cepat-cepat Suci berdiri dan menyodorkan minuman miliknya. "Ini," katanya, "minum dulu."
"Terima kasih."
"Sama-sama, Mas. Jadi, bagaimana?"
"Emm, aku rencananya tidak ingin pergi."
"Lo, memangnya kenapa?"
"Sedang tidak ingin saja."
"Hmm, sayang sekali. Kamu ada pekerjaan lain?"
Kugelengkan kepalaku dan menjawab tidak. "Aku hanya ingin pulang dan menghabiskan waktu bersamamu."
Eit dah... dia merajuk lalu masuk ke ruangan pribadi kami. Kupijat pelipisku dan menggeleng-gelengkan kepala. Tapi kupikir lucu juga, risiko memperistri wanita muda. Rhea mana pernah ngambek-ngambekan kecuali kalau aku mengganggunya sewaktu dia bekerja, itu pun bukan ngambek, tapi mutlak -- kesal padaku.
"Pak, maaf. Saya salah, ya?" tanya Karin. Dia nampak tak enak hati terhadapku.
Lagi, aku menggelengkan kepala. "Tidak. Santai saja. Dia hanya belum tahu kalau itu perusahaan mantan mertua saya."
"Oh, mantan mertua. Jadi kamu tidak mau mereka tahu kalau kamu sudah punya istri baru? Iya, kan?"
Busyeeeet... Suci berdiri di balik pintu, sepertinya dia tadi ingin keluar tapi tidak jadi. Dia menutup kembali pintu itu dengan cukup keras.
"Pak, perempuan kalau ngambek harus dilembutin. Bapak harus bujuk, kalau perlu Bapak rayu."
Sebenarnya aku tahu, Karin bahkan tidak perlu memberitahuku, apalagi mengajariku. Tapi, toh aku tidak bisa menyahut. Aku kan mantan duda -- pria yang pernah gagal berumah tangga. Mana bisa aku pamer atau berlagak sok tahu di depan orang lain tentang cara dan keahlian dalam menghadapi perempuan.
Yah, pada akhirnya aku hanya bisa mengangguk. Kemudian berdiri dan menghampiri istri beliaku itu. Dia tengah berdiri di depan jendela kaca. "Jangan marah," kataku. "Aku hanya tidak kepingin bertemu dengan mantan mertuaku. Itu saja. Tidak ada alasan lain."
"Bohong," sungutnya -- dia masih merajuk.
Hmm... aku berusaha menahan tawa, nyaris tidak bisa. "Ya sudah, kalau begitu aku akan pergi dan aku akan mengajakmu. Bagaimana? Kamu mau?"
"Tidak usah kalau kamu terpaksa. Aku tadi dengan percaya dirinya mau ikut, supaya orang-orang tahu kalau aku ini istrimu. Tapi kamu... mungkin kamu malu, ya? Apa karena aku tidak secantik mantan istrimu? Atau... barangkali kamu masih berharap bisa rujuk lagi dengan dia? Apa begitu?"
Ugh! Dia cemburu?