Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Rencana Bulan Madu


"Omong-omong, kamu masih sibuk, ya?"


"Tidak juga. Tapi masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai. Memangnya kenapa?"


"Kita bulan madu, yuk? Akhir tahun ini sampai awal bulan tahun baru. Mau, tidak?"


Wah, ada apa ini? Tumben, pikirku. "Kamu serius, Yang? Kamu mau kita bulan madu? Aku tidak salah dengar, kan?" cerocosku kesenangan.


Dia mengangguk sambil tersenyum.


"Baiklah. Akan kuselesaikan semua pekerjaanku sampai akhir tahun ini."


Yeay, bulan madu, I am coming. Rasanya hatiku menjerit demikian. Semangatku membara.


Tetapi...


Hah! Bulan madu katanya, sewaktu pertama kali kutanya mau ke mana, Suci bilang nanti saja akan ia pikirkan. Dan semakin mendekati hari H, dia tetap tak kunjung menyebutkan tujuannya. Dia hanya cengar-cengir sewaktu aku kembali menanyakan keinginanannya.


"Jangan begitu...," kataku. "Kan lebih enak kalau kita prepare dari jauh-jauh hari. Tiket pesawat, booking hotel, terus mau pakai apa menyesuaikan musim di tempatnya. Belum lagi ini itunya."


Ah, dia kan bukan perempuan bodoh. Dia pasti tahulah tentang semua itu. Akhirnya, aku hanya mengatakan terserah padanya saja. Aku akan ikut ke mana pun yang dia inginkan. Tetapi...


Euw! Tepat pada hari H, dia hanya mengepak beberapa helai pakaian, hanya satu koper kecil untuk memuat pakaian kami berdua. Yang justru lebih banyak malah bahan-bahan makanan, satu boks plastik ukuran paling besar. Gila!


"Kita mau pergi ke mana, Yang?"


"Kita akan menghabiskan seminggu ini di rumah Mama." Dia tersenyum, sangat semringah.


"Lo? Katanya mau bulan madu? Kok...? Kenapa kita malah pergi ke rumah Mama? Itu namanya menginap, bukannya--"


Sesungguhnya waktu itu aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Suci. Tapi tidak apa-apa, pikirku lagi. Di mana pun, asal bersamanya, kebahagiaan itu akan menyertai. Yeah, asalkan aku selalu bersamanya, dan dia selalu bersamaku.


"Kamu tidak keberatan, kan? Kok lesu begitu?"


"Nggak, Sayang. Aku happy, kok." Kupeluk istriku erat-erat. "Di mana pun tempatnya, yang penting quality time di antara kita berdua, ya kan?"


"Yah!" Dia tersenyum. "Kita bisa berduaan sepanjang waktu. Yang benar-benar berduaan. Hanya ada kamu dan aku."


Berdua...?


"Sebentar, maksudnya bagaimana, Sayang? Mama dan Mbok...?"


Suci mengerlingkan mata. "Kita bertukar tempat," sahutnya. "Setelah nanti kita sampai di rumah Mama, Mama dan Mbok yang akan tinggal di sini. Tentu saja Mama sudah setuju. Apa pun untukku katanya."


"Oke." Aku mengangguk-anggukkan kepala. "Tampaknya kamu sudah mengatur rencana ini dengan matang," selidikku. "Aku jadi penasaran, apa saja yang akan kita lakukan di sana?"


Hah! Semburat kemerahan menghiasi wajah istriku, dia terlihat malu bercampur geli. Aku yakin saat itu terbesit kelakuan konyol yang akan ia lakukan pada saat kami hanya berduaan. Tentu saja yang sudah ia rencanakan itu akan sangat menyenangkan.


"Tidak perlu kukatakan. Tapi aku menjanjikannya."


"Oke. Jadi kapan kita berangkat?" Aku bersemangat.


"Sekarang. Ayo, aku akan membuat setiap detikmu bagaikan di surga, dengan pelayanan ekstra seorang bidadari cantik."


Well, pikiranku mulai berkelana. Sungguh dia membuatku sangat penasaran, dan tentunya aku pun sudah sangat tidak sabar. Apa yang akan kudapatkan di sana? Sesuatu yang menyenangkan? Oh, apa gerangan?