Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Trauma


"Mas...," kata Suci. Dia masih duduk tenang di hadapanku. "Itu tidak benar, oke? Aku tahu, kamu pasti sudah berusaha untuk bertanggung jawab, ya kan?"


Aku mengangguk pelan. Kuseka mataku yang berkaca. "Memang. Mereka sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawa mereka tetap saja tidak tertolong. Tim dokter sudah berusaha menyelamatkan mereka. Tapi takdir... takdir baik tidak berpihak kepadaku. Mereka meninggal. Dua nyawa... dua nyawa sekaligus. Aku tidak sengaja. Sumpah aku tidak sengaja menabrak mereka. Aku bukannya mau membela diri, tapi... aku benaran tidak melihat mereka. Mereka berkendara, pakai motor, lampu belakangnya mati, hujan lebat, aku benaran... aku benaran tidak melihat motor mereka dalam jarak pandangku. Tapi, aku tahu aku salah. Aku ngebut. Dan... apa mau dikata? Hal itu terjadi. Aku yang menabrak, dan aku yang menyebabkan kematian mereka. Aku."


"Aku mengerti," kata Suci. Dia masih duduk tenang di depanku. "Tapi waktu itu kamu tidak kabur, kan? Maksudku, kamu tidak melarikan diri? Kamu yang membawa mereka ke rumah sakit, walaupun...?"


Aku menggeleng. "Tidak. Aku tetap di sana. Waktu itu jalanan sepi. Hanya ada beberapa mobil yang lewat. Aku meminta pertolongan untuk membawa korban ke rumah sakit. Sesampainya di sana... mereka berdua sampat mendapat tindakan, tapi tetap tidak tertolong. Mereka... mereka tewas karena kesalahanku. Aku...."


Suci beringsut maju, duduk lebih dekat di depanku. "Lalu? Bagaimana bentuk pertanggungjawaban-mu selanjutnya? Emm... kamu mengerti, kan, apa maksudku? Kamu tidak dipenjara, jadi mestinya... ada pertanggungjawaban lain...?"


Suci mengangguk dengan senyuman. "Kamu beruntung karena kamu punya seorang ibu yang begitu sayang padamu. Dia bersedia pasang badan untuk anaknya. Sayang, aku belum pernah bertemu dengannya. Kalau dia masih ada, dia pasti jadi ibu mertua yang baik. Mertua idaman menantu."


Aku mengangguk. "Pasti," kataku membenarkan. "Dia pasti akan sangat sayang padamu. Dia persis sepertimu, wanita berhati malaikat."


"Terima kasih atas pujiannya. Tapi omong-omong, bagaimana dengan papamu?"


Deg!