Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Kembali Semula


Sudah hampir menjelang siang ketika kami beranjak dari tempat tidur pada keesokan paginya, seperti sepasang ayam yang meringkuk di sepanjang waktu. Sudah sedari pagi Suci membujukku supaya pergi ke kantor, namun aku masih malas. Aku masih ingin menghabiskan waktu berduaan dengannya di kamar hotel. Bermesraan selayaknya pasangan kekasih yang memadu kasih karena lama tak bertemu.


Waktu itu dia sudah selesai mandi, tapi aku berhasil membujuknya kembali ke ranjang. Tepatnya, membawanya kembali ke ranjang. Wangi tubuhnya yang segar membuatku bergairah hingga kuajak ia menghabiskan waktu cukup lama, kembali menghangatkan diri dengan cinta yang kami punya.


"Nah, aku sudah menuruti kemauanmu. Sekarang kamu bangun, ya. Cepat mandi."


Pura-pura menguap. "Aku ngantuk," ujarku.


"Kamu ini, Mas. Katanya seorang pekerja keras. Bangun, dong... kamu kan punya tanggung jawab."


Uuuh... pintar sekali dia membujukku. "Iya, aku akan pergi ke kantor. Tapi kamu bantu aku mandi dulu, ya."


"Idiiih...."


"Please...."


"Dasar manja."


"Aku mohon...."


"Iya, iya, baik. Ayo bangun."


Dengan cengiran lebar aku pun bergegas bangun dan mengikutinya ke kamar mandi. Aku duduk di atas penutup closet dan membiarkan Suci menyirami tubuhku dan menggosokku dengan sabun. Eh, bukan, dia menuangkan sampo lebih dulu dan memijat kepalaku. Menenangkan sekali. Pelayanan istri yang kurindukan setelah aku menghindarinya cukup lama. Setelah itu barulah ia menyabuni tubuhku.


"Buka," perintahnya, ia menyuruhku memperlebar interval kakiku hingga dengan mudah dia bisa menggosok di seluk pangkal pahaku.


Geli, aku menggeleng-gelengkan kepala karena Suci mengajak bicara sesuatu yang sedang kembali off di sana.


"Nah, sekarang kamu sudah bersih," katanya, lalu ia bicara dalam bisikan, "Nanti siang kita bertemu lagi. Ingatkan pemilikmu untuk kembali ke singgasananya, oke?"


Hah! Dasar edan.


"Bicara padaku, Yang, kalau nanti siang kamu mau minta jatah lagi. I will do it for you. Aku akan selalu siap, kapan pun itu."


Suci terkekeh-kekeh. "Bagus, sinyal terkirim." Dia mengerling nakal, lalu membilas tubuhku sampai bersih.


Sudah selesai. Giliran dia yang mesti mandi ulang secepat kilat, dan aku hanya memperhatikan. Dia menyuruhku berdiri di depan wastafel dan menggosok gigi. Aku tak boleh menyentuhnya supaya diriku tidak kembali terbakar hasrat.


Ya Tuhan... bahagianya aku. Segera kuikuti dia keluar dari kamar mandi. Mula-mula dia menata rambutku dengan gel, lalu deodorant, setelahnya parfum. Kemudian, dengan lembut, Suci mengenakan semua pakaianku, kecuali pakaian *alam. Dan terakhir, dia memasangkan dasi dan jasku.


"Aku sudah melakukan semuanya untukmu. Sekarang, kamu mesti semangat. Jangan mengingat-ingat hal buruk yang sudah lewat, oke?"


Aku mengangguk. "Terima kasih. Kamu istri terbaik. Yang paling sempurna."


"Paling sempurna?"


"Yeah, paling sempurna."


"Oh, ada yang tidak sempurna, dong?"


"Eh, bukan seperti itu."


"O ya?"


"Ayolah, aku hanya salah bicara. Kamu satu-satunya."


Dia nyengir. "Aku tahu, kok. Lagipula kamu tidak akan berani. Kupotong anu-mu kalau kamu berani macam-macam padaku."


"Uuuh... memangnya gadis selembut kamu bisa melakukan itu?"


Suci yang tengah menyisir rambutnya menoleh ke arahku. "Wanita yang tersakiti kadang bisa melakukan apa pun. Kamu tidak lupa, kan, kalau aku pernah membunuh orang? Dan aku bermaksud membunuhmu juga kalau kamu terbukti membohongiku dengan hasil lab itu."


Ah, sadisnya dia.


"Tidak percaya? Aku berniat merayumu, lo. Setelah itu aku akan memberimu minuman beracun. Kemudian, aku akan berteriak pura-pura menemukanmu tergeletak di lantai meregang nyawa. Lalu, berita kematian seorang pemilik hotel yang tewas di kamar pribadinya akan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Boom! Heboh!"


Aku bertepuk tangan. "Dongeng yang bagus. Tapi lebih baik kamu segera berpakaian sebelum aku mengajakmu kembali ke balik selimut."


"Hah! Dasar suami mesum! Otakmu isinya cuma ranjang, iya?"


Tentu saja, punya istri yang menggairahkan, itu keberuntungan yang tidak boleh disia-siakan.


Lagipula hari sudah menjelang siang. "Bagaimana kalau besok saja kita ke kantornya?"