
Indie seakan menggunakan kondisinya sebagai alasan untuk menghindar dari orang-orang rumah. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam kamar. Tapi Suci tidak tahan untuk tidak mengajaknya bicara. Ia ingin masuk ke kamar Indie, tapi aku melarangnya. Aku mesti melihat dan mengontrol emosi Suci secara langsung, tapi aku tidak enak kalau harus ikut masuk ke kamar Indie. Jadi, Suci pun menyuruh Indie keluar dan memintanya menemui kami di tepi kolam. Via whatsapp, Suci mengatakan kepada Indie kalau dia sudah tahu apa yang terjadi, dan dia bermaksud mengajak Indie mengobrol -- kalau bisa mencari solusinya bersama-sama.
"Jangan menyimpan masalah sendirian. Mungkin kamu tidak mau Mama sampai tahu, tapi kamu punya Mbak, Sayang. Mbak akan bantu dan menemanimu melewati semua ini."
Voice note terkirim. Setelah mendengarkan suara Suci, Indie pun mengintip dari jendela kamarnya. Suci tersenyum kepadanya dan ia pun mau diajak bicara. Beberapa menit kemudian ia menemui sang kakak di halaman belakang. Tapi, untuk sesaat Indie ragu karena melihatku tak beranjak dari sana. Apalagi Billy pasti sudah melarangnya menceritakan hal ini pada semua orang, terutama padaku.
"Mas Rangga sudah tahu masalah kalian, dan dia juga yang cerita pada Mbak," kata Suci.
Aku mengangguk untuk meyakinkan Indie. "Mas di sini bukan mau merecokimu. Mas cuma mau menjadi pendengar, sekalian Mas harus mengawasi mbakmu juga, biar dia tidak emosi. Boleh, kan, Mas di sini?"
"Oke," sahutnya lemah. Dia pun duduk di samping Suci. "Mas Rangga tahu masalah ini dari Mas Billy?"
Suci yang menyahut, "Mas Rangga mendengar obrolan kalian semalam," katanya.
Praktis, Indie langsung melirik ke arah jendela kamar kami, dan pasti dia memperkirakan apa mungkin aku bisa mendengar obrolan mereka semalam -- sementara jarak jendela itu dengan posisi dia dan Billy bicara cukup jauh. Mungkin dia merasa heran sekaligus takjub kalau benar aku bisa mendengar obrolan mereka dari jendela kamar itu.
"Mas Rangga bilang semalam kamu pingsan. Bagaimana keadaanmu sekarang? Kandunganmu juga baik-baik saja, kan?"
Indie mengangguk. "Baik, Mbak. Tidak terjadi apa-apa dengan kandunganku."
"Syukurlah. Dia anak yang kuat."
"Harus. Dan ingat, kamu tidak sendiri. Kami semua akan mendampingimu."
"Yeah, aku tahu itu. Terima kasih, Mbak. Emm... tapi... tolong tetap rahasiakan soal ini dari Mama, ya? Tolong? Aku mohon, ya, Mbak? Please?"
Kukira Suci akan menggeleng, ternyata tidak. Dia malah mengangguk setuju. "Mbak tidak akan bilang apa-apa pada Mama."
"Terima kasih," ucapnya. Ia pun memeluk Suci.
"Jadi, apa kalian sudah bicara dan memikirkan solusinya?"
"Belum, Mbak. Aku... aku belum siap untuk itu. Aku bukan mempermasalahkan ada wanita lain yang hamil oleh Mas Billy, ataupun Mas Billy akan punya anak dari perempuan lain. Bukan itu." Ia terisak.
Suci mengangguk. "Mbak tahu," katanya sambil mengelus pundaknya. "Kamu takut dia akan menikahi perempuan itu, kan?"
"Yeah." Indie balas mengangguk. "Aku percaya kalau semua itu terjadi sebelum kami menikah. Aku tidak berhak marah untuk itu. Tapi kalau soal diduakan... aku... aku tidak bisa, aku tidak mau."
Kami semua tahu ini sulit. Tapi membiarkan perempuan lain hamil dan tidak dinikahi, itu rasanya kejam. Aku menyadari itu, meski dulu aku pernah tidak ingin menikahi Suci tapi aku menginginkan anaknya. Tapi sekarang aku sudah sadar sepenuhnya kalau itu seratus persen salah. Benar-benar salah.