
Dengan perasaan gugup, aku dan Suci menghampiri pasangan pengantin baru itu di pelaminan. Sejujurnya, ada rasa cemas yang kurasakan, bagaimana seandainya ia masih menolak kehadiranku meski ia sendiri yang telah mengundangku? Tetapi, ternyata tidak seperti apa yang kukhawatirkan, Raymond menerima kedatanganku dengan senyuman hangat. Kami berpelukan sebagai sahabat lama. Rangkulan yang bisa dikata berlangsung cukup lama dari yang semestinya.
"Selamat, Bro. Semoga kalian langgeng dan selalu bahagia."
Lagi, dia tersenyum. "Terima kasih sudah datang," ucapnya. "Tapi lu jangan minta gue supaya minta maaf duluan, ya. Gue gengsi. Lu saja yang minta maaf ke gue. Gimana?"
"Oke, baiklah," kataku. "Gue minta maaf, setulus hati."
Roby cekikikan melihat tingkah kedua sahabatnya ini yang berbaikan dengan cara yang paling aneh sedunia.
"It's ok. Sebagai bos yang murah hati dan seorang pemimpin perusahaan besar, gue memaafkan semua kesalahan lu."
Hah!
"Waw sekali. Terima kasih Bapak Raymond karena sudah bersedia memaafkan saya," ujarku yang membuat semua orang di sekeliling kami jadi tertawa.
Itu yang ia inginkan sejak dulu: pengakuan atas keberadaan dirinya dan perhatian dari orang tuanya. Aku benar-benar turut bahagia untuknya.
Ah, andai saja ini juga terjadi pada Roy. Tapi sepertinya tak mungkin lagi. Aku malah bertambah curiga pada Roy setelah melihat sendiri bahwa Raymond sudah jauh berubah. Sepertinya memang Roy si biang masalah dari kedatangan Lady Sandra hari itu. Namun Roy malah bersikap biasa saja. Dia malah membawa Karin sebagai pasangannya di acara resepsinya Raymond. Dia menunjukkan kedekatannya dengan Karin. Tapi menurutku itu hanya sebatas pura-pura.
Feeling-ku berkata seperti itu.
Sebuah keajaiban lain adalah ketika Raymond bisa bersikap baik kepada Suci. Dia memperkenalkan istrinya, Andini, yang katanya lebih cantik dari Suci. Dia mengatakan itu dalam nada bercanda namun pujian yang benar -- berdasarkan kaca mata lelaki yang sedang jatuh cinta.
Tapi dari kaca mataku, Suci-lah yang paling cantik.
"Ya, ya," kata Suci. "Dia lebih cantik dari aku. Dan pastinya dia juga masih sangat muda."
Semua orang tertawa bahagia. Dan kutangkap Raymond berbisik pada wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu, "Jangan tersinggung, ya. Have fun. Tidak ada yang bicara serius dan menghina di sini. Nanti juga kamu terbiasa."
Andini mengangguk. Dia sepertinya seorang gadis yang pemalu. Kurasa, aku mesti mengatakan bahwa dia beruntung karena Raymond melabuhkan hati kepadanya. Jiwa petualangnya sudah berakhir. Mungkin.
"Aku berharap istrinya cepat-cepat hamil," bisik Suci. "Supaya Mas Raymond bisa berubah total sepertimu."
Dia benar. Mungkin sepertiku, cinta dan anak yang membawa anugerah. "Aamiin, Yang."
Itu artinya aku akan memberikan posisi tetap pada Billy untuk menempati posisi yang ditinggalkan Raymond. Dia tak akan kembali lagi ke perusahaanku.
Ah, untuk apa juga memikirkan hal itu pada saat ini? Ini momen bahagia, saatnya untuk bernostalgia dengan sahabat-sahabatku.
"Jangan minum alkohol lo, Mas," tegur Suci saat petugas katering membawakan nampan minuman ke meja kami. Matanya mendelik lebar.
Takut sekali, sih, dia.
Aku tersenyum. "Iya, Sayang. Aku patuh padamu."
"Dan aku cinta padamu. Suamiku yang tampan dan penyayang."
Uuuh... senyumannya menggoda. "Cari kamar, yuk?"
"Eit dah, dasar suami mesum!"