Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Lega Dalam Nelangsa


Ceklek!


Praktis Roby terkejut melihatku terbaring lemah di atas tempat tidur, namun ia tetap ingat untuk mencegah dua perempuan di belakangnya supaya tidak ikut masuk. "Kalian tunggu di sini." Roby pun masuk, menutup pintu dan menghampiriku.


"Tolong," kataku.


Roby mesti mendekatkan telinganya untuk mendengar suaraku. "Lu kenapa, Ngga?"


"Bawa gue ke rumah sakit."


Roby mengangguk, ia bergegas memunguti pakaianku dan membantuku mengenakannya kembali seraya melontarkan pertanyaan-pertanyaan -- lebih tepatnya celotehan yang tak mampu kujawab. Setelahnya ia memanggil Karin untuk bantu memapahku dan membawaku ke mobil. Dan Jessy yang berjalan di depan bertugas membuka pintu dan menekan tombol lift ketika kami turun ke lantai bawah.


Sialnya, Karin yang tidak ikut mengantarku ke rumah sakit ternyata menerima panggilan telepon dari Suci, dan sekretarisku itu malah dengan polosnya mengatakan keadaan yang sebenarnya. Dan, ia tak lupa mengatakan bahwa aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit dibawa oleh Roby dan Jessy, sehingga ponsel Jessy langsung berdering.


Andainya aku bisa menghalangi, aku tak ingin Suci tahu tentang kondisiku. Apalagi musibah yang menimpaku satu jam yang lalu.


Dan lagi, dalam ketidakberdayaan ini, aku berharap Suci mampu mengatasi emosinya. Aku tidak ingin rasa khawatirnya terhadapku malah membuat dirinya sendiri shock dan malah jatuh sakit.


Untunglah, Roby dan Jessy mampu mengerti kata-kataku yang hampir tak terdengar itu.


Aku mesti memastikan obat-obatan yang masuk ke dalam tubuhku itu tidak akan menimbulkan efek samping yang membahayakan kesehatanku.


Aku tahu, sewaktu Suci tiba di rumah sakit, ia berusaha tegar walau beribu tanda tanya membebani pikirannya. Bukan perkara mudah untuk meyakinkannya bahwa aku hanya kelelahan dan keadaanku baik-baik saja. Dia bukan perempuan bodoh yang bisa dengan mudah kubohongi.


"Aku tahu kamu," katanya, "staminamu bagus. Semua yang kamu konsumsi aku yang mengurus semuanya, aku tahu semuanya sehat. Asupan gizimu cukup. Kamu juga cukup istirahat. Aku memperhatikan semuanya secara detail. Aku juga sering bertanya pada Karin bagaimana tentang pekerjaan kantor, dia bilang semuanya baik-baik saja. Jadi aku tidak bisa percaya kalau kamu kelelahan. Tolong jujur kepadaku, Mas. Beritahu aku, sebenarnya kamu kenapa?"


Aku berusaha menyunggingkan senyum walau hatiku perih mengingat seakan diriku ini sangat hina dan kotor karena ternodai oleh perempuan lain -- perempuan yang sering dipakai bersamaan oleh lelaki lain. Menjijikkan sekali rasanya. "Jangan khawatir," kataku dengan susah payah berusaha bicara. "Jangan stres, ya. Kasihan anak kita."


Juga Roby, kasihan dia mesti kelimpungan mengurusi administrasi rumah sakit dan juga menemui dokter untuk memintanya merahasiakan keadaanku dari Suci. Dengan mempertimbangkan riwayat kehamilan Suci yang rentan, dokter pun setuju untuk merahasiakan keadaanku kepada istriku. Namun aku tahu, dokter pun tak bisa menyalahi kode etiknya. Mereka tak mungkin berbohong.


"Keadaan Pak Rangga baik-baik saja. Hanya butuh istirahat, dan besok sudah boleh pulang."


Itu yang dijelaskan oleh sang dokter kepada Suci. Ia tidak berbohong, keadaanku memang baik-baik saja. Hanya saja pengaruh obat berdosis tinggi itu masih bekerja di dalam tubuhku. Hasil laboratorium pun menunjukkan hasil yang sesuai dengan harapanku.