Gairah Cinta CEO Bastard

Gairah Cinta CEO Bastard
S2 : Elliza Terluka!


Elliza menghela nafas lega ketika melihat paman dan bibinya telah pergi. Elliza mendorong keranjang belanjaan nya menuju meja kasir.


Setelah membayar nya, Elliza buru-buru keluar dari Mall tersebut. 


"Syukurlah, mereka tidak melihat ku!" gumam Elliza bernafas lega, gadis cantik itu menyeret langkahnya menuju mobil supir Andreas yang sudah tak jauh lagi darinya.


Namun, tangannya lebih dulu di cekal oleh seseorang membuat Elliza tersentak kaget.


"Di sini kamu rupanya!" Paman Elliza menatap tajam gadis itu.


Degg.


Tubuh Elliza membeku melihat raut wajah pamannya yang terlihat sangat garang. Gadis itu merasa sesuatu yang buruk tak lama lagi akan menimpa nya.


"Pa-paman, bibi!" Bibir Elliza bergetar seperti ingin menangis.


Bola mata gadis itu berkaca-kaca, wajahnya berubah pucat pasi. Bahkan, belanjaan di tangannya jatuh begitu saja, Elliza seolah kehilangan tenaga nya.


"Dasar gadis sialan! Apa kamu tahu gara-gara kamu aku di pukul oleh preman, huh? Gara-gara kamu kabur wajahku jadi sasaran amukan mereka!" bentak paman Elliza membuat gadis itu menjatuhkan butiran kristal membasahi pipinya.


"Mereka jahat, Paman!" Elliza berkata dengan bibir bergetar. Gadis itu menundukkan wajahnya tak berani menatap wajah sang paman.


Elliza meringis kesakitan di kala rambutnya di tarik oleh bibi nya.


"Akk … sakit, Bibi!"


"Dasar anak tidak tahu di untung! Sudah baik kami mengurus mu dari kecil sampai dewasa! Bukannya balas jasa kamu malah memberikan kami masalah! Gara-gara kamu rumah kami di ambil oleh muncikari sialan itu!" sentak bibi Elliza murka.


"Lebih baik kita bawa dia ke muncikari agar rumah kita di kembalikan!" ujar sang paman membuat Elliza menangis sesenggukan.


Gadis itu menggelengkan kepalanya tak terima, bibi Elliza tersenyum dengan raut wajah berbinar.


"Benar, Sayang! Kita bawa saja dia kembali!" balas bibi Elliza tanpa belas kasih.


"Jangan … hiks … aku gak mau kembali ke tempat haram itu! Aku gak mau di jual!" Elliza menangis histeris memberontak dari cengkraman bibinya.


Plak.


Plak.


Dua kali Elliza mendapatkan tamparan keras dari pamannya membuat wajahnya terpental ke samping. 


Telinga Elliza berdenging menandakan kerasnya tamparan tersebut. Cairan kental keluar dari sudut bibir Elliza, rasa asin darah dapat Elliza rasakan.


"Banyak ngomong kamu! Seharusnya kamu itu sadar kalau sudah waktunya kamu balas jasa kami! Anj*ng saja kalau di tolong dia akan berterima kasih pada orang yang menolong nya dengan cara menjadi peliharaan yang baik!" bentak paman Elliza kesal.


"Kita bawa dia sekarang, Sayang!" Paman Elliza membopong tubuh gadis itu seperti karung beras.


Elliza memberontak membuat bibi nya kesal dan memukul kepala Elliza berkali-kali.


Bugh.


Bugh.


Bugh.


"Akhh … sakit!" Elliza menangis sesenggukan di kala kepalanya terasa berdenyut akibat pukulan dari bibi nya.


"Makanya jangan melawan!" bentak bibinya kesal.


Elliza berbinar di kala mendengar suara barito sekarang pria yang tak lain adalah Pak Li. Supir Alex yang ditugaskan menemaninya pergi ke Mall.


"Pak Li tolong!" teriak Elliza memberontak dalam gendongan pamannya.


Pak Li yang sedari tadi menunggu di mobil pun merasa heran karena Elliza terlalu lama di dalam Mall. 


Pak Li pun turun dari mobil, pria paruh baya itu terkejut melihat Elliza di bawa paksa oleh dua orang asing. Bahkan, barang belanjaan Elliza jatuh berceceran di jalan.


"Jangan ganggu kami!" ujar paman Elliza dingin.


"Dia bekerja di rumah Tuan ku maka otomatis dia menjadi tanggung jawabku! Lepaskan dia atau … "


Pak Li mengeluarkan pistol dari saku celana. Pak Li merupakan ahli bela diri sabuk hitam. Setiap pengawal dan sopir yang Alex pekerjakan semuanya ahli bela diri.


Menjadi orang kaya harus memiliki pengawal yang hebat dan terlatih. Itu semua karena Alex tak tahu kapan musuh menyerang.


Gleg.


Paman Elliza menelan ludahnya melihat pak Li menodongkan pistol ke arah nya. Pria paruh baya itu tak menyangka Elliza akan bekerja di tempat orang penting.


"Atau kau memang ingin mati! Sangat gampang bagi Tuan ku untuk memalsukan kematian mu!" lanjut pak Li menyeringai kejam.


"Ba-baiklah! Jangan main kekerasan! Aku akan menyerahkan gadis ini untukmu!" Paman Elliza mendorong gadis itu kasar 


Elliza berlari bersembunyi di belakang tubuh pak Li. Gadis itu sangat ketakutan, dia merasa bersyukur karena ada orang yang menolongnya.


Bila tidak sudah dipastikan Elliza akan kembali ke tempat haram itu.


"Awas saja kalau aku melihat kalian mengganggu nya lagi. Aku pastikan kening kalian bolong!" ancam pak Li membuat paman dan bibi Elliza berlari ketakutan.


"Kamu tidak apa-apa, Elliza?" tanya pak Li khawatir melihat pipi Elliza yang lebam dan bibirnya berdarah.


"Aku baik-baik saja, Pak Li! Ini hanya luka kecil. Terima kasih karena sudah menolongku!" Elliza tersenyum tulus membuat pak Li bernafas lega.


"Ya sudah sekarang kita pulang!"


"Tapi, belanjaan nya!"


"Belanjaan nya masih utuh! Tidak rusak sama sekali. Jadi, tidak ada yang harus di khawatirkan, kita bisa memungutnya lagi!" jelas pak Li berusaha menenangkan Elliza.


Elliza dan pak Li pun segera memunguti belanjaan tersebut. Setelahnya mereka segera pulang ke rumah mewah Alex.


*


*


*


Kira-kira gimana ekspresi babang Alex lihat Elliza terluka ya🤭🤭


BTW ... author lagi sakit Gigi ini😅😅 ternyata sakit gigi lebih parah dari sakit hati wkwkwkwk 🤣🤣


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰