
Matahari terbit dari ufuk timur, cahaya keemasan nya masuk ke celah-celah jendela kamar para penghuni rumah besar yang berada di salah satu kota negara Amerika.
Gadis cantik itu perlahan membuka matanya, dia bangkit duduk lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Eugh … ya ampun! Ini sudah pagi, aku harus bekerja. Kalau tidak bisa di pecat aku!" Elliza beranjak dari kasur berlari menuju kamar mandi.
Namun, saat tiba di sana Elliza merasa risih pada pangkal pahanya. Gadis itu melepaskan celana d*lam nya.
"Ya ampun … apa ini putih-putih, lengket lagi! Ah … apa aku ngompol atau ini keputihan?" Gadis itu merasa jijik melihat celana d*lam nya yang di penuhi cairan aneh.
Elliza segera memasukkan celana nya ke dalam keranjang kotor. Tubuh gadis cantik itu sudah polos tanpa ada sehelai benang pun yang melekat pada tubuhnya.
Elliza kembali mengernyitkan dahinya di kala menatap pantulan dirinya di depan cermin besar yang berada di dalam kamar mandi.
Kamar pelayan yang berada di rumah Alex tidak ada yang kecil. Pria tampan itu memberikan fasilitas mewah untuk setiap pekerja nya.
Alasannya hanya satu Alex suka kemewahan.
"Ya ampun, tubuh ku merah-merah seperti ini! Apa di dalam kamar mewah ini ada nyamuk? Bagaimana bisa dada dan perut ku merah-merah seperti ini?"
Elliza menatap aneh tubuhnya yang memerah layaknya di gigit nyamuk.
"Sudahlah, biarkan saja di gigit nyamuk! Daripada aku si luar sana di gigit pria hidung belang! Masih syukur Tuan Alex beri tempat tinggal dan pekerjaan untukku. Aku tidak boleh ngeluh!"
Elliza segera membersihkan dirinya, setelah selesai wanita itu segera memakai pakaian pelayan.
"Huff … semoga Tuan Alex tidak marah karena aku telat bangun!" Elliza beranjak keluar dari kamarnya.
*
*
*
"Alex … di mana Barbie hidup papa, Al?" Ayah Alex bertanya pada putra nya itu.
"Pa, buka mulut papa! Tidak baik berbicara saat makan!" Alex berkata lembut seraya menyuapi sang ayah bubur ayam.
Mereka sekarang sedang berada di halaman belakang. Sesuai janji Alex yang tidak akan bekerja selama dua Minggu demi bisa bermain dengan sang ayah.
Ayah Alex ingin sarapan di bawah sinar mentari pagi, dengan senang hati Alex mengabulkan permintaan sang ayah.
"Tapi, papa mau Barbie hidup Alex!" rengek sang ayah menatap Alex dengan tatapan puppy eyes.
Alex tersenyum lembut, pria tampan itu mengangguk kepalanya.
"Baiklah, kalau aku panggil Barbie hidup papa habiskan sarapan papa, ya!" tegas Alex membuat sang ayah mengangguk patuh dengan raut wajah berbinar.
"He'um … papa janji! Janji … janji … papa janji!" kata ayah Alex berkali-kali.
Alex segera menghubungi kepala pelayan di rumahnya, lalu menyuruh Elliza mendatangi mereka.
Elliza yang sedang membersihkan kaca jendela rumah Alex pun terpaksa menghentikan pekerjaannya.
"Kamu di panggil Tuan muda! Bersihkan dulu tangan mu!" ujar kepala pelayan dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
"Baik, bibi!" Elliza tersenyum manis membuat kepala pelayan itu menarik sudut bibirnya.
Elliza segera mencuci tangan nya terlebih dahulu lalu dia segera beranjak menuju tepat Alex dan ayahnya berada.
"Tuan, memanggil saya?" Elliza bertanya dengan nada sopan pada Alex.
Degg.
Pria tampan itu menelan ludahnya kasar ketika melihat senyuman manis Elliza. Sontak saja Alex teringat akan aksi nakal nya semalam.
Benar, Alex yang menjadi nyamuk nakal sehingga membuat dada dan perut Elliza memerah.
Pria tampan itu mencicipi tubuh Elliza dengan lembut saat malam tadi. Sebelumnya Alex membius Elliza terlebih dahulu agar gadis itu tak bangun di saat dirinya sedang melancarkan aksi nakalnya itu.
Alex berhenti di saat Elliza mencapai puncak berkali-kali. Meski tak sampai memasuki Elliza, Alex sudah merasa puas dengan menyesap biji kacang dan bukit kembar gadis cantik itu.
"Barbie … halo Barbie!" Ayah Alex bertepuk tangan riang melihat kehadiran Elliza.
Pria tua itu menatap Elliza dengan raut wajah berbinar.
"Alex, papa mau di suapi Barbie hidup!" pinta sang ayah penuh harap.
Alex tersadar mendengar rengekan sang ayah. Pria tampan itu segera menepis fantasi liarnya yang kembali meracuni otak kecilnya.
"Suapi papa ku! Jangan sampai papa ku tersedak!" tegas Alex menatap dingin Elliza.
Gadis cantik itu hanya bisa mengangguk patuh. Elliza paham betul maksud Alex, itu artinya bila sampai sang ayah tersedak karena ulahnya.
Siap-siap Elliza di tendang dari kediaman Alex.
"Baik, Tuan!" Elliza mengambil mangkuk sarapan dari tangan Alex.
Lalu gadis itu menyuapi ayah Alex dengan telaten. Alex menatap setiap pergerakan yang di lakukan oleh Elliza.
Gadis di hadapannya ini sangat lembut, senyuman manis tak pernah pudar dari wajah Elliza.
Gadis itu melakukan pekerjaan nya dengan baik. Alex bisa menilai ketulusan Elliza dari sorot mata gadis itu menatap ayahnya.
"Tuan!" panggil seseorang membuat Alex menoleh ke samping.
Alex melihat sekretaris nya tiba dengan membawa amplop coklat di tangan kanannya.
"Aku titip papa ku! Jangan sampai dia terluka sedikitpun. Bila papa minta tambah sarapan nya, tinggal panggil pelayan lainnya. Jangan jauh-jauh dari papa ku! Kamu paham!" tegas Alex pada Elliza membuat gadis itu mengangguk patuh.
"Paham, Tuan!"
"Pa, Alex pergi dulu sebentar! Papa main bersama Barbie hidup dulu. Nanti, Alex balik lagi ke sini!" Alex mencium kening keriput sang ayah.
Kemudian Alex pergi meninggalkan Elliza dan ayahnya.
"Tuan, benar-benar pria yang hangat!" gumam Elliza tersenyum manis menatap punggung Alex yang perlahan menjauh.
*
*
*
Gila … babang Alex gercep banget ya, Bun🙈😜🔥🔥
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏