Gairah Cinta CEO Bastard

Gairah Cinta CEO Bastard
Daddy!


Sudah satu bulan Diego tinggal bersama dengan calon keluarga kecilnya itu. Tak jarang Juliet dan Diego melakukan olahraga panas mereka di saat-saat tertentu.


Terkadang tengah malam Diego mendatangi kamar Juliet. Sehingga, kamar itu berubah menjadi kamar yang panas karena di isi dengan suara yang panas.


Hubungannya dengan Juliet semakin hari semakin membaik, begitu juga dengan Adam dan Abraham.


Hanya saja kedua bocah itu terlalu jual mahal untuk mengakui mereka telah memaafkan Diego. Ego mereka terlalu tinggi untuk mengatakannya.


Padahal hampir setiap hari Diego meminta maaf pada kedua anaknya itu. 


Seperti sekarang, Diego sedang mengajarkan kedua anaknya itu bermain mainan helikopter terbang.


"Waw … dia terbang!" pekik Adam bertepuk tangan riang melihat helikopter kecil itu terbang.


Diego tersenyum senang melihat wajah berbinar Adam dan Abraham. Pria tampan itu bahagia karena secara perlahan kedua anaknya itu telah menerima kehadirannya.


"Kalian ingin mencobanya? Daddy sudah belikan tiga helikopter, satu untuk Daddy, satu untuk Abraham dan satu untuk Adam!" ujar Diego seraya mengambil kotak bungkusan helikopter tersebut lalu memberikannya pada Adam dan Abraham.


"Baiklah, karena Anda telah memaksa nya. Maka, kami akan menerimanya! Kata mommy, tidak baik menolak rezeki!" ujar Adam yang masih jual mahal.


Diego terkekeh kecil mendengar ucapan Adam, pria tampan itu tak habis pikir bagaimana bisa anaknya itu sangat pandai bersilat lidah.


"Ayo coba seperti yang Daddy ajarkan tadi!" 


"Waw … punyaku terbang, Adam!"


"Ha ha … punya ku juga! Lihatlah punyaku terbang nya lebih tinggi!"


Diego tersenyum senang melihat kedua anaknya itu terlihat bahagia. Diego sangat menikmati momen ini.


Ada rasa hangat menjalar di dalam hatinya, ketika melihat kedua bocah yang amat mirip dengannya bermain dengan raut wajah bahagia.


Pria tampan itu tak menyangka bahwa dirinya telah memiliki dua anak sekaligus.  Padahal dulu dia pernah berpikir untuk melajang seumur hidup.


Akan tetapi, takdir berkata lain. Di antara teman-temannya yang Bastard, dialah yang lebih dulu punya anak.


Ini seperti mimpi' yang indah bagi Diego.


Juliet datang seraya menenteng nampan yang berisikan cemilan untuk Diego, Adam dan Abraham.


"Makanannya datang!" teriak Juliet membuat Adam, Abraham dan Diego langsung menoleh ke belakang.


"Hore … makanannya datang!" pekik Adam dan Abraham meletakkan remote control helikopter tersebut di tanah lalu berlari menghampiri Juliet.


Diego pun mengikuti langkah kedua anaknya itu. Mereka duduk di kursi taman belakang. Juliet menghidangkan susu coklat untuk kedua anaknya.


Untuk Diego Juliet hidangkan jus jeruk. Mereka layaknya keluarga kecil yang harmonis.


"Masakan mu memang dari dulu enak, Sayang!" Diego memuji Juliet setelah mengunyah cake coklat yang baru saja di buat oleh Juliet.


Pipi Juliet merona mendengarnya, Adam dan Abraham yang mendengar Diego memanggil mommy mereka dengan panggilan sayang pun tak marah.


Mereka telah menerima kehadiran Diego secara perlahan. Terlebih lagi sudah satu bulan mereka hidup di bawah atap yang sama.


Tak ada lagi gangguan dari Alex, Max dan Adam. Di karenakan ketiga CEO Bastard itu telah Ia tendang keluar dari rumahnya.


"Masakan mommy memang yang paling enak! Adam sayang mommy!"


Kedua bocah itu memeluk erat tubuh ramping Juliet. Wanita cantik itu tersenyum seraya membelai punggung kedua anaknya itu.


Diego hanya bisa tersenyum miris karena sampai sekarang Adam dan Abraham masih terlalu jual mahal dengannya. Bahkan, mereka tak pernah memanggil Diego dengan panggilan Daddy.


Anda! Pak Tua, itulah panggilan yang mereka sematkan untuk Diego.


Juliet yang paham akan raut wajah Diego pun segera melepaskan pelukan hangat tersebut.


"Sayang, tolong ambilkan kue kering yang telah aku hidangkan di dapur! Aku lupa membawanya tadi!" pinta Juliet lembut pada Diego.


"Okey." Diego bangkit berdiri lalu mengecup kening Juliet sebelum pergi meninggalkan calon istri dan kedua anaknya itu.


Setelah Diego pergi meninggalkan mereka. Juliet segera menatap lembut kedua anaknya itu.


"Sayang … apa kalian belum bisa memaafkan Daddy?" tanya Juliet hati-hati.


Adam dan Abraham terdiam mendengarnya, mereka tak tahu harus menjawab apa.


"Sayang … "


"Sebenarnya sudah, Mom … tapi, kami masih belum terbiasa dengan kehadiran Daddy!" jelas Adam pelan.


Juliet tersenyum lebar mendengarnya. Wanita cantik itu segera membelai puncak kepala Adam dan Abraham.


"Kalian harus terbiasa dengan kehadiran, Daddy! Kasihan Daddy kalau terus-terusan kalian abaikan. Setiap orang pasti punya kesalahan, Sayang. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau berubah menjadi lebih baik!"


"Dan Daddy salah satu contoh orang baik itu. Lihatlah bagaimana pengorbanan Daddy untuk kita. Dia rela tidak bekerja demi bisa bermain dengan kalian! Kalau kalian masih mengabaikan Daddy. Mommy takut, Daddy nantinya lelah bersama kita karena terus kalian abaikan!"


"Alhasil, Daddy pergi meninggalkan kita lalu mencari keluarga baru. Karena kita yang menjadi keluarganya sekarang telah mengabaikan nya! Apa kalian mau Daddy pergi meninggalkan kita lagi?"


Juliet berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah di pahami oleh kedua anaknya itu.


Adam dan Abraham yang mendengarnya pun langsung menggelengkan kepalanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Gak mau, Daddy cuma milik Adam dan Abraham!" ujar keduanya serempak dengan suara yang bergetar menahan tangis.


"Kalau begitu, mulai sekarang kalian harus memaafkan Daddy dan panggil Daddy, bukan pak tua lagi!" balas Juliet membuat Adam dan Abraham mengangguk kepalanya cepat.


"Sayang … apa ini kuenya?" tanya Diego yang baru saja tiba.


Adam dan Abraham segera turun dari kursi berlari memeluk erat kaki jenjang Diego.


"Daddy … "


Degg.


Bersambung.


Author hari ini kurang sehat, dan punya pekerjaan offline. Jadi kalau up nya telat author minta maaf🙏


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰🥰


Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰