Gairah Cinta CEO Bastard

Gairah Cinta CEO Bastard
S2 : Ayo Terapi, Elliz!


"Tentu saja ada!" Juliet segera mengambil ponselnya yang terletak di atas meja dekat ranjang tidur mereka.


"Ini dia!" Juliet memperlihatkan foto saat dirinya hamil sembilan bulan pada Diego.


Mata pria tampan itu berkaca-kaca ketika melihat sosok istrinya yang hamil besar tanpa dirinya. 


"Baju nya kenapa ketat sekali? Apa kamu tidak sesak memakai nya?" tanya Diego ketika melihat baju yang di pakai oleh Juliet sangat pas pada tubuhnya yang kala itu sedang hamil.


"Sesak sih sesak, tapi aku bisa menahannya. Kalau saat itu aku utamakan beli baju yang longgar, maka uang ku akan kurang, Sayang. Tidak cukup untuk membayar biaya persalinan ku di rumah sakit!" jawab Juliet jujur tanpa sadar membuat hati Diego kembali sakit.


"Maafkan aku, Sayang! Andai aku tidak bodoh saat itu, pasti kamu tidak akan mengalami hal demikian. Maafkan aku …" 


Pria tampan itu meneteskan air matanya menatap Juliet dengan sorot mata bersalah. 


"Ck … kenapa sih kamu dikit-dikit mewek, Sayang! Aku tadi itu hanya curhat bukan mengeluh. Jangan sedih lagi, ya! Aku gak apa-apa, kok. Lagian sekarang kita juga sudah bahagia bersama anak-anak!"


Juliet berusaha menenangkan Diego yang sekarang terisak. Pria tampan itu memeluk erat tubuh Juliet seolah-olah takut kehilangan.


"Maaf, Sayang! Aku janji akan berusaha menjadi suami dan Daddy yang baik untuk anak-anak kita! Jangan pergi lagi dari kehidupan ku, ya. Aku bisa gila kalau sampai kamu pergi!" 


Diego berucap serak, pria tampan itu merasa takut bila suatu hari nanti Juliet kembali pergi meninggalkan dirinya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, Sayang!" Juliet menghapus sisa air mata yang jatuh membasahi pipi Diego.


"Kita tidur, ya. Sudah malam." Diego kembali mengelus perut Juliet membuat wanita cantik itu menggigit bibir bawahnya.


Entah mengapa tiba-tiba dirinya menginginkan Diego saat ini. Wanita cantik itu menahan tangan Diego yang sedari tadi sibuk membelai perutnya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Diego heran.


"Baby nya minta di jenguk," cicit Juliet pelan menatap Diego dengan sorot mata yang sudah sangat bergairah.


Senyuman nakal terbit dari wajah tampan Diego. Pria itu paham akan maksud perkataan istrinya itu.


Lelaki mana yang tidak ingin menjenguk anaknya yang berada dalam rahim Istri. Terlebih lagi tubuh Juliet yang semakin hari semakin seksi.


Bagian-bagian tertentu pada tubuh Juliet semakin berisi membuat Diego semakin suka memainkan tubuh Juliet.


"Dengan senang hati, Sayang! Aku akan berikan servis terbaik untukmu."


Diego segera mengambil posisi teraman. Pria tampan itu tak ingin membahayakan calon anaknya.


Pergumulan panas pun tak dapat terelakkan pada malam itu. Di tengah malam, suasana mencekam dan cuaca yang semakin dingin tak membuat pasangan suami istri itu mengurungkan niat mereka untuk berc*nta.


Suara erangan dan d*sahan terdengar menggema dalam kamar besar itu. Juliet berkali-kali mendapatkan pelepasan karena ulah Diego yang sangat pandai membuat wanita itu lemas.


"Terima kasih, Sayang." Diego mengecup kening Juliet yang penuh dengan keringat bejat percintaan mereka.


*


*


*


Matahari terbit dari ufuk timur, cahaya nya yang keemasan masuk ke dalam celah-celah jendela kamar milik sepasang pengantin baru, membuat kedua anak Adam itu perlahan membuka mata mereka.


Elliza tersenyum manis ketika melihat wajah tampan Alex yang berjarak sangat dekat dengannya.


"Tampan sekali suamiku." Elliza mengusap rahang tegas milik Alex dengan lembut.


Gadis cantik itu merasa bahagia karena semalam Alex mengalami kemajuan. Pria tampan itu tak lagi bermain kasar, mereka berdua hanya melakukan pemanasan dengan lembut.


"Aku sudah dari lahir tampan, Elliz." Alex tiba-tiba membuka matanya mendekap pinggang Elliza erat membuat tubuh mereka yang masih polos bersentuhan.


"Kamu sudah bangun dari tadi, ya! Cuma pura-pura tidur." Elliza menyipitkan matanya menatap wajah tampan Alex dengan sorot mata penuh selidik.


"Tadinya aku mau pura-pura tidur. Tapi, gak bisa karena harta Karun ku bangkit lagi minta di tanam ke dalam tanah subur milik mu, Elliz!" Alex berucap santai seraya tersenyum nakal menggoda Eliza.


Gleg.


Elliza menelan ludahnya ketika merasakan sesuatu yang panjang menusuk paha nya di bawah sana.


"Sa-sayang, jangan macam-macam. Jahitan ku belum kering. Jadi, harta Karun mu belum bisa di tanam!" Elliza merasa gelisah di kala Alex menggesekkan harta Karun nya itu.


"Bisa pakai mulut 'kan, Elliz? Seperti pisang coklat kemarin pakai mulut juga! Bukannya kamu sudah janji mau kasih aku terapi plus-plus? Ayo tepati sekarang. Mumpung tenaga ku masih full!" 


Alex menangis janji Elliza membuat gadis cantik itu tak bisa mundur lagi. Posisi Eliza saat ini bagaikan memakan buah simalakama.


Maju tak bisa, mundur apa lagi?


*


*


*


Terapi kita mulai lagi ya, Bun🤭🤭


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🙏🥰


Salek Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰