
Alex menghela nafas berat melihat gadis cantik itu sekarang menangis di hadapannya. Pria tampan itu bukan maksud ingin merendahkan.
Akan tetapi, dia hanya ingin gadis di hadapannya ini menghargai dirinya sendiri.
Namun, karena mulut pria tampan itu sangat pedas layaknya sambal mercon membuat hati gadis itu sakit.
"Saya hanya gadis rendahan! Tubuh saya sudah kotor, saya menjijikkan!"
Gadis itu menangis sesenggukan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Apa kau sedang mengadu nasib mu padaku, Nona?" tanya Alex datar membuat gadis cantik itu mendongak menatap Alex dengan bola mata yang memerah.
"Tidak, Tuan! Saya hanya mengakui kalau saya memang rendah!" jawab gadis itu polos membuat Alex berdecak kesal.
"Apa kau tahu kalau manusia yang paling menjijikkan bagiku adalah manusia yang menganggap rendah dirinya! Beri harga yang mahal untuk dirimu sendiri agar orang juga menghargai dirimu dengan mahal!"
"Baru sehari kau berada di rumah ku, sudah tiga kali kau menangis! Kalau kau memang berniat bekerja di rumah ku, jangan jadi gadis cengeng yang bisanya cuma menangis saat di bentak sedikit!"
Alex berkata pedas membuat gadis itu berusaha menahan tangisnya agar tak kembali pecah.
Gadis itu menghapus air matanya dengan kasar karena takut Alex marah dan mengusir dirinya.
"Saya tidak akan nangis lagi, Tuan! Jadi, tolong jangan usir saya!" Gadis cantik itu berusaha menampilkan senyum manis nya.
Meski matanya masih berkaca-kaca, gadis itu tersenyum paksa ke arah Alex.
"Sekarang bangun! Aku tidak suka melihat ada orang yang berlutut di hadapan ku, apalagi itu adalah wanita!" ketus Alex membuat gadis cantik itu langsung bangkit berdiri.
"Siapa namamu?" tanya Alex menatap lekat wajah sembab gadis cantik itu.
"Elliza, Tuan!" balas gadis itu pelan.
"Berapa umurmu?"
"19 tahun, Tuan!"
"Kenapa kau bisa masuk ke dalam rumah ku dan kenapa tubuh mu penuh dengan lumpur semalam?" tanya Alex seraya menaikkan alisnya.
"Saya panjat pagarnya, Tuan! Saya sengaja membalur tubuh saya dengan lumpur agar orang-orang jahat itu tidak mengenali saya dan menganggap saya hanya orang gila!" jelas gadis cantik itu jujur membuat Alex mengerti.
Pria tampan itu tak bertanya lebih banyak lagi karena dia akan mencari tahu sendiri seluk beluk tentang kehidupan gadis itu.
"Hemmm! Lalu kenapa kamu tidak memakai bra?" tanya Alex santai membuat gadis cantik itu malu.
Dengan gerak cepat dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Itu-itu … saya kabur saat–,"
"Berapa ukuran dada mu?" tanya Alex tanpa memperdulikan alasan gadis itu.
Blussh.
Pipi gadis cantik itu memerah padam mendengar pernyataan vulgar yang keluar dari mulut Alex.
Dia tak menyangka Alex akan bertanya secara gamblang pada dirinya.
"40, Tuan!" jawab gadis itu cepat membuat Alex menelan ludahnya.
Gila … besarnya udah macam buah semangka batin Alex mesum.
Ekhem.
Alex berdehem pelan guna menormalkan pikiran nya yang tadinya berkelana membayangkan fantasi liar nya bersama Elliza.
Setelahnya Alex mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Antaranya ke rumah ku 50 setelan pakaian dalam wanita, ukuran dadanya 39 dan pinggulnya kira-kira seukuran gadis remaja!" titah Alex santai di hadapan Elliza.
Wajah gadis cantik itu memerah padam hingga ke tulangnya. Andai ada lubang semut di sekitarnya pastilah Elliza akan memilih bersembunyi di sana.
Alex tiba-tiba teringat akan sesuatu.
"Selera mu yang seperti apa?" tanya Alex pada Elliza seraya menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Maksudnya, Tuan?" tanya Elliza bingung.
"Ck … kamu suka bra yang polos atau ada renda di pinggir nya! Mau warna apa? Hitam, putih, merah atau pink! Tapi, sepertinya kamu akan terlihat seksi bila memakai pakaian dalam berwarna hitam atau merah!"
"Itu terkesan lebih menantang dan berani! Baiklah aku tahu selera mu sekarang! Jhon … kau masih berada di sana! Pilihlah bra yang ada renda nya. Aku ingin warnanya hitam dan merah terang!"
Alex segera menutup teleponnya lalu menatap wajah Elliza dengan wajah tanpa dosa.
Alias WATADOS!
Elliza hanya bisa mengedipkan matanya berkali-kali mendengar ucapan Alex.
Padahal gadis cantik itu belum sempat menjawab. Akan tetapi, Alex sudah berhasil menebak semuanya dengan benar.
"Tuan," lirih Elliza pelan.
"Aku tahu, kau ingin berterima kasih padaku, 'kan! Tidak usah … karena itu tidak gratis, malam ini kau harus membayar semuanya!" ujar Alex tersenyum penuh arti membuat Elliza merasa waspada.
*
*
*
Waduh … babang Alex selain galak, dia blak-blakan dan to the poin ya, Bun 🤭..
Kira-kira apa bayarannya yah?😂🙈
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰🥰
Komentar nya Ojo kendor, vote nya juga🔥🔥🔥
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏🥰