
Seorang pria tampan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewahnya. Banyak para pelayan berjejer rapi berdiri menyambut kedatangannya.
Pria tampan itu terlihat acuh, hingga dia melihat sang ayah yang sedang duduk di kursi roda menatap datar dirinya.
"Hai, Pa! Sudah makan siang?" tanya Alex penuh perhatian pada pria paruh baya yang sangat di hormati nya itu.
Bukannya menjawab pria paruh baya itu malah menjewer telinga Alex keras membuat Alex meringis kesakitan.
"Haduh, Pa! Sakit … ini telinga bukan Oreo yang bisa di putar!" Alex meringis kesakitan membuat pria paruh baya itu mencebikkan bibirnya.
"Kamu jahat! Papa sudah menunggu kamu pulang dari kemarin. Tapi, kamu tidak pulang … padahal kamu udah janji mau ajak papa main mobil-mobilan! Kamu jahat, papa marah pokoknya!"
Pria paruh baya itu marah seperti anak kecil yang sedang merajuk pada orang tuanya karena tidak di belikan mainan.
Bedanya, umur pria itu sudah lebih dari setengah abad. Akan tetapi, tingkah lakunya seperti anak kecil yang berumur 10 tahun.
Alex yang melihat sang ayah merajuk pun merasa bersalah. Dia teringat akan janjinya beberapa hari yang lalu akan mengajak sang ayah bermain mobil-mobilan.
Ayah Alex mengalami kelainan pada mentalnya. Bisa di katakan ayah Alex telah kembali pada masa anak-anaknya. Itu terjadi karena kebangkrutan perusahaan milik ayah Alex pada saat umur Alex berumur 14 tahun.
Di kala itu cobaan datang bertubi-tubi, perusahaan ayah Alex bangkrut, sang ibu meninggal dunia karena mengalami serangan jantung dan sang ayah mengalami stroke.
Alex di paksa menjadi dewasa' saat belum waktunya tiba. Pria itu terpaksa menjadi tulang punggung keluarga, untung saja ada ayah Diego, ayah, Max dan ayah Damian yang menolong perusahaan milik ayahnya.
Alex di ajarkan tentang bisnis oleh para ayah temannya itu karena tidak ada pewaris lain dalam keluarga Alex selain dirinya.
Tidak ada waktu untuk menangis dan mengeluh, Alex di himpit oleh keadaan. Beberapa tahun kemudian perusahaan ayah Alex kembali berdiri seperti semula.
Hanya saja, itu tak dapat membuat ayah Alex sembuh. Pria itu malah semakin parah penyakitnya, apalagi di umurnya yang sudah tua sekarang membuat ayah Alex terkena penyakit alzheimer.
Tak jarang ayah Alex bersikap seolah-olah ibu Alex masih hidup.
Seiring berjalannya waktu, ayah Alex sudah lumayan sembuh. Namun, masih tak bisa berjalan.
Akan tetapi, yang membuat Alex sedih adalah sang ayah telah kembali ke mental anak kecil.
Itulah sebab nya Alex sangat marah saat mengetahui kisah hidup Juliet setelah di campakkan oleh Diego.
Dia paling tahu bagaimana perasaan Juliet karena dia pernah di posisi wanita itu.
"Maafkan aku, Pa! Kalau begitu kita main sekarang aja!" bujuk Alex membuat raut wajah sang ayah berbinar bahagia.
"Ayo-ayo Alex … ayo kita main!" ajak sang ayah girang membuat Alex tersenyum lebar.
Pria tampan itu segera mendorong kursi roda sang ayah. Sesekali Alex berlari membuat sang ayah tertawa karena merasa senang.
Seperti anak kecil yang duduk di kereta dorong lalu sang ayah mendorong kereta itu dengan kecepatan tinggi seolah-olah ingin balapan.
Bedanya sekarang, sosok ayah yang duduk di kursi roda dan sosok anak yang berbakti mendorong kursi roda tersebut.
"Wuss … kita terbang, Pa!" teriak Alex seraya berlari membuat sang ayah tertawa lepas lalu bertepuk tangan.
"Ha ha ha … lagi-lagi Alex! Yang kencang Alex … ha ha ha, papa suka!"
Pria paruh baya itu menoleh ke belakang melihat Alex yang tersenyum lebar ke arahnya.
"Sesuai perintah Anda raja ku!" balas Alex lalu mempercepat larinya.
Suara gelak tawa keluar dari bibir Alex dan ayahnya. Para pelayan yang melihatnya pun ikut merasa bahagia sekaligus terharu.
Sangat jarang di zaman sekarang ada anak yang mau berbakti dan merawat orang tuanya yang sakit.
Bahkan, pria itu sendiri yang membersihkan hajat ayahnya. Bila memang dia sedang berada di rumah.
"Tuan muda memang laki-laki impian!"
"Benar, lihat saja bagaimana perlakuan Tuan muda pada tuan besar. Bayangkan kalau nanti istrinya sakit-sakitan, pasti Tuan muda yang akan merawatnya!"
Para pelayan berbisik-bisik membicarakan kebaikan Alex. Apalagi saat melihat Alex yang rela duduk di rumput demi bisa bermain mobil-mobilan bersama sang ayah.
Padahal mereka tahu, kalau Alex sangat kelelahan. Terlihat pakaian dan rambut Alex kusut. Bahkan, lingkaran hitam dibawah mata nya begitu kentara.
"Yes, papa menang, Alex! Ha ha … kamu kalah, kamu kalah … papa hebat karena papa menang! Wleee Alex kalah!" Sang ayah menjulurkan lidahnya pada Alex membuat pria tampan itu mengerucutkan bibirnya.
Dia pura-pura kesal dan mengalah agar bisa membuat ayahnya tertawa bahagia. Hanya satu keinginan Alex yaitu terus menciptakan senyuman di wajah sang ayah.
Karena dia tak memiliki siapapun lagi di dunia ini terkecuali ayahnya dan sang paman yang bekerja sebagai dokter.
"Huhh … papa kenapa pintar banget, sih? Aku kan jadi kalah … ahh … kesal!" Alex pura-pura merajuk membuat sang ayah semakin tertawa cekikikan.
"Makanya kamu harus belajar sama papa! Biar bisa menang … ha ha! Alex, papa mau coklat!" ujar sang ayah membuat Alex langsung mengambil toples makanan yang telah pelayan siapkan di dekatnya.
"Ini Pa,jangan hanya makan coklat nya saja. Tapi, kunyah juga kacang almond yang ada dalam coklatnya, itu baik untuk kesehatan papa!"
Setelah memberikan toples coklat pada sang ayah, Alex mendengar suara kasak-kusuk di balik pohon rindang yang berada tak jauh darinya.
"Sebentar, Pa! Alex ke sana dulu!" Alex mengecup puncak kepala ayahnya sesaat lalu mendekati pohon rindang itu.
Mata Alex terkejut melihat sosok manusia yang tampak ketakutan melihatnya.
"Kamu siapa?" tanya Alex terkejut.
*
*
*
Kisah Alex memang misteri ya, sedikit demi sedikit akan author kupas. Begitu juga dengan penyebab Alex memiliki kelainan.
Kebiasaan nya memang buruk dalam bercinta tapi sikap Alex memang baik.
Cerita ini author dedikasikan untuk anak-anak yang sekarang sedang merawat orang tuanya yang sedang sakit.
Semoga di beri ketabahan dan kekuatan dalam merawat orang tuanya.
Seperti biasanya meski ceritanya banyak +21 dari kisah ini. Author akan tetap selipkan pesan moral di dalamnya.
Ayah Alex tahu kalau Alex anaknya. Akan tetapi, sikapnya memang sudah berubah menjadi anak kecil.
Ayah Alex menikah di umur 39 tahun, jadi wajar kalau sekarang dia sudah tua. Terlebih lagi karena penyakit alzheimer nya yang kadang kali kambuh.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏
Mampir juga ke novel temen author yang gak kalah menariknya 🥰🙏