Gairah Cinta CEO Bastard

Gairah Cinta CEO Bastard
Kau Renggut Mahkota Ku, Ku Rusak Rumah Tangga Mu



Anastasia merasa pusing setelah meminum minuman yang di berikan oleh Biandra. Gadis lugu itu berpegangan pada bahu Biandra karena pandangan nya buram.


"Kang, kenapa kepala saya pusing? Bukankah seharusnya tubuh saya lebih segar karena meminum minuman yang Akang berikan? Tapi …"


Anastasia ambruk dalam pelukan Biandra, wanita itu hanya bisa mendengar suara hujan deras mengguyur tanah. Sedangkan matanya tertutup rapat. Samar-samar dia mendengar suara Biandra.


"Karena yang aku berikan padamu bukan minuman herbal, tapi alkohol! Ck … dasar gadis bodoh. Tidak tahu yang mana minuman herbal dan yang mana alkohol!" Biandra memaki Anastasia membuat gadis itu meneteskan air matanya. Karena tak menyangka Biandra akan membohongi nya.


Dia tak bisa memberontak atau menjerit karena saat ini tubuhnya tak bertenaga dan terasa panas. Baru pertama kali gadis itu mencicipi Alkohol dan parahnya alkohol tersebut berdosis tinggi untuk pemula.


"Aku tidak sabar ingin mencicipi mu!" gumam Biandra seraya merebahkan tubuh Anastasia di atas kursi kayu. Gadis itu memaksa membuka matanya saat merasakan pakaian nya di buka oleh Biandra.


"Kang, ja-jangan!" pinta Anastasia dengan nada lirih menatap sayu wajah Biandra yang berdekatan dengan wajahnya.


"Kamu ingin aku nikahi, bukan? Kamu diam-diam mencintaiku, Ana. Aku berjanji setelah ini akan menikahi mu! Kita akan hidup bahagia di kota bersama ku dan ibumu." Biandra berkata manis karena tak menyangka Anastasia akan sadar meski tak bertenaga.


Pria itu ingin melancarkan aksinya dalam keadaan suka sama suka. Dia tak ingin melakukan nya seperti memperkosa karena itu tidak akan nikmat.


"Ta-tapi kita bisa melakukan nya setelah menikah, Kang. Ibu akan marah kalau tahu saya telah kotor sebelum menikah!" Dengan sekuat tenaga Anastasia berbicara susah payah karena kesadaran nya yang hampir hilang.


Biandra yang mendengarnya pun merasa geram. Dia menyentuh titik sensitif tubuh Anastasia membuat gadis itu menggeliat seperti cacing kepanasan. Di tambah pengaruh alkohol yang perlahan mengambil alih kesadaran nya.


Tubuh dan hatinya berdebat antara suka atau tidak.


"Aku berjanji akan menikahi mu, Ana!" Setelah mengucapkan hal itu Biandra segera melancarkan aksinya. Anastasia tak mampu memberontak karena tubuhnya perlahan merespon apa yang Biandra lakukan padanya.


Hanya air matanya yang menjadi saksi penolakan Anastasia. Dia menangis di sela-sela Des*Han nya karena merasa sedih. Dia tak menyangka Biandra tega melakukan hal hina ini kepadanya.


Dia mulai paham bahwa Biandra menjebaknya dengan minuman alkohol. Akan tetapi, hatinya sedikit luluh saat Biandra berjanji untuk menikahinya setelah ini.


'aku harap Akang tidak berbohong,' batin Anastasia penuh harap.


"Ah … Ana!" lenguh Biandra keras saat tubuhnya mencapai puncak. Pria itu menumpahkan benihnya ke atas perut Anastasia karena dia tak ingin meninggalkan jejak dalam tubuh Anastasia.


Anastasia tak sadarkan diri karena ulah Biandra yang menggempurnya dengan menggebu-gebu.


Pria tampan itu tersenyum puas saat melihat Anastasia tumbang tak berdaya. Hujan di luar pun telah berhenti, senja telah datang membuat Biandra segera bangkit dan memakai pakaiannya kembali.


"Selamat tinggal kelinci kecil!" gumam Biandra pelan lalu mengecup bibir pucat Anastasia.


Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Anastasia tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya di dalam gubuk tua itu.


Biandra memang iblis.


Biandra adalah cassanova.


Sedangkan Anastasia adalah target nya.


"Saatnya pulang ke rumah!" Biandra tersenyum cerah menatap langit senja.


***


Jarum jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Tetapi, Anastasia tak kunjung pulang, sehingga membuat sang ibu khawatir. Tak biasanya Anastasia pulang telat, di tambah tadi siang hujan deras.


Sang ibu bernama Sulisna pun beranjak menuju rumah kepala desa guna melaporkan tentang hilangnya Anastasia.


Kepala desa memukul gendang membuat para warga berkumpul di depan pos ronda.


"Ada apa, Pak Kades?"


"Begini, saya sengaja mengumpulkan bapak-bapak dan ibu-ibu di sini karena anak ibu Sulisna yaitu Ana tidak pulang ke rumah semenjak tadi pagi. Seperti yang kita tahu kalau Ana adalah pencari kayu bakar di hutan, patut kita khawatirkan tentang kondisi nya. Itulah sebabnya saya ingin mengajak bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian guna mencari keberadaan Ana di dalam hutan!" tegas Pak Kades penuh wibawa membuat para warga mengerti.


Ada yang merasa khawatir, adapula yang merasa bahagia karena si bunga desa itu hilang.


Mereka semua menyalakan obor lalu masuk ke dalam hutan guna mencari keberadaan Ana.


Para warga berpencar masuk ke dalam hutan. Ada yang ke barat, ada juga yang ke arah Utara.


"Ya Allah ya Rabb. Selamatkan anak gadis hamba! Cuma dia yang hamba punya di dunia ini." Sulisna berdoa dalam hati.


Suara seseorang berteriak membuat mereka semua berkumpul ke tempat orang tersebut.


Gubuk tua.


"Ana di sini!" teriak seseorang.


Mereka semua berbondong-bondong ke gubuk tua tersebut. Alangkah terkejutnya para warga saat melihat tubuh Anastasia terkapar tak berdaya dengan baju nya yang berserakan di tanah.


"ANA!" teriak Sulisna menangis melihat kondisi sang anak gadisnya.


"Ak …" Sulisna memegang dada nya yang terasa sakit.


"Buk Sulis!"


"Pak, tolong Buk Sulis!"


Tubuh wanita paruh baya itu ambruk. Segera para warga membopong tubuh Sulisna dan salah satu anak muda membopong tubuh Anastasia.


Mereka semua kembali ke rumah Anastasia. Di rebahkan nya Sulisna dan Anastasia di atas tikar. Rumah sederhana yang bahkan lantai nya saja masih tanah. Begitulah rupa rumah Anastasia.


"Panggilkan bidan desa!" titah Pak Kades saat melihat bibir Sulisna mengering dan nafasnya tak beraturan.


Hanya bidan desa yang mereka miliki, sedangkan dokter hanya berada di puskesmas yang jaraknya lumayan jauh dari desa mereka.


Saat bidan desa tiba. Segera wanita paruh baya itu menyiksa keadaan Sulisna yang sekarat.


"Astaghfirullah … mengucap, Buk!" Bidan desa panik, dia paham betul kondisi Sulisna yang sedang mengalami sakaratul maut. Karena terbiasa berhadapan dengan pasien nya yang menjelang kematian.


Para warga yang mendengarnya panik dan iba. Anastasia yang mendengar suara riuh pun memaksa membuka matanya karena memang tubuhnya sudah lebih baik dari tadi siang. Mungkin karena memang dosis Alkohol tersebut telah hilang.


"Ibu!" lirih Anastasia pelan berusaha bangkit. Sepasang tangan menahan kain sarung di dada Anastasia agar tak melorot.


"Hati-hati, Ana. Kamu tidak memakai baju!" ujar teman Ana yang bernama Wati.


Gadis itu masih tak sadar akan apa yang terjadi. Hanya satu yang ia khawatirkan saat ini yaitu keadaan ibunya.


"Ibuk!"


"Buk Sulis! Dengarkan saya dan ikuti arahan saya! La-ilahaillallah."


"La-ilahaillallah!" Setelah berhasil mengatakan kalimat tauhid, Sulisna menutup matanya perlahan dengan tubuh yang mulai tenang, nafasnya tak terasa lagi.


Hanya keringat dingin membasahi keningnya dan air mata keluar dari sudut matanya.


"Ibuk! Hiks … Ibuk kenapa? Ibuk saya kenapa, Buk Bidan?" Anastasia menangis seraya menepuk pipi keriput ibunya.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un!"


"Ibuk kamu telah meninggal karena serangan jantung, Ana. Kali ini saya tidak bisa menolongnya lagi. Kamu harus ikhlas, Ana. Gusti Allah sudah merindukan ibumu! Jadi, kamu harus ikhlas ya, Nak!" ujar sang Bidan lemah lembut membuat Ana terkejut dan menangis histeris.


"Tidak … ibuk bangun! Ibuk bangun … ini Ana, Buk. Jangan tinggalin Ana sendirian di dunia ini, Buk. Ah … jangan pergi! Jangan pergi! Cuma Ibuk yang sayang sama Ana dengan tulus, kalau Ibuk pergi siapa yang bakal sayang sama Ana!"


Gadis itu meraung seraya memeluk tubuh kaku sang ibu. Tangisan pilu Ana membuat para warga menangis. Wati memeluk tubuh Ana dari belakang guna memberikan ketenangan pada sahabatnya.


"Sabar, Ana. Ingat, semua yang bernyawa pasti mati!" bisik Wati bagaikan angin lalu di telinga Ana.


Titik terendah seseorang adalah saat orang yang di cintai dan mencintainya dengan tulus pergi untuk selama-lamanya.


"Semua yang bernyawa akan mati."


Benar, tapi kalimat itu nyatanya tak selalu ampuh untuk menenangkan hati orang yang di tinggalkan.


Dunia anak akan hancur saat sang ibu pergi tuk selamanya. Di bandingkan ayah, ibu lebih berperan penting dalam kehidupan sang anak.


Karena ibu bisa menjadi ayah, akan tetapi ayah tak bisa menjadi ibu : mengandung, melahirkan dan menyusui.


"IBUK!!!" jerit Ana menangis histeris.


*


*


Siapa di sini yang sudah kehilangan ibu?


Author punya kata-kata penyemangat untuk kalian.


"Tidak ada yang namanya perpisahan bagi orang yang mencintai dengan jiwa. Karena bagi mereka fisik adalah pelengkap, meski telah berbeda dunia, cinta tetap abadi dalam jiwa."


"Perpisahan dan pertemuan bagaikan kakak adik yang tidak bisa dipisahkan. Setiap insan harus siap dengan perpisahan karena semua yang di dunia ini bersifat sementara. Sebab yang abadi tak pernah Allah ciptakan di dunia, melainkan hanya di surga!"


Salam hangat dari author.


Bersambung.


Jangan lupa like komentar vote dan beri rating 5 yah kakak.


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰❤️