Gairah Cinta CEO Bastard

Gairah Cinta CEO Bastard
S3 : Max Kesal!


Max merenungi semua yang di katakan oleh madam Choo tempo hari. Pria itu mengepalkan tangannya erat karena merasa kesal dan murka pada sosok ayah tiri Meimei.


Terlebih lagi kehidupan Meimei yang tak kalah pedih seperti kehidupan nya. Sangat kesepian dan minum kasih sayang, di anggap pembawa sial dan di abaikan begitu saja.


Padahal sudah jelas-jelas ibunya yang salah karena telah membuat Meimei lahir ke dunia ini dengan cara yang salah, yaitu tanpa ada ikatan pernikahan.


"Pantas saja dia terlihat polos, ternyata bukan hanya polos tapi juga bego. Kenapa tidak di potong saja sosis ayah tirinya itu atau dia gigit sampai putus! Ck … andai itu bapak-bapak ada di hadapan ku sekarang, sudah ku pastikan dia mati berdiri!"


Max kembali meneguk jus lemon, pria tampan itu melonggarkan dasinya karena merasa gerah sekaligus geram pada dirinya sendiri.


Entah mengapa ia sangat sensitif sekarang. Dia ingin sekali meluapkan kekesalannya pada seseorang.


Max bangkit dari kursi restoran mewah itu lalu segera mengayunkan langkahnya menuju mobil guna kembali pulang ke rumahnya.


"Dia benar-benar membuat aku frustasi!" gumam Max yang sangat kesal karena terbayang wajah polos Meimei.


*


*


*


"Huff … syukurlah semua pekerjaan ku telah selesai! Semuanya sudah bersih, aku yakin Tuan pasti akan senang melihatnya!"


Meimei mengusap kening nya yang berkeringat. Baju gadis itu telah basah akan keringat karena terlalu banyak beraktivitas.


Meimei melakukan pekerjaan rumah dengan telaten, dari kecil Meimei sudah terbiasa melakukan pekerjaan berat karena ibunya yang menjadikan Meimei sebagai asisten rumah tangga nya.


Gadis itu yang memasak dan mengurus semua kebutuhan keluarganya. Memiliki otak yang kurang se-ons membuat Meimei tak pernah mengeluh karena di perlakukan tak adil oleh ibunya.


Meski di caci oleh orang-orang Meimei tetap memasang senyuman manis di wajahnya. Dia tak merasa sakit hati sedikit pun, karena Meimei sendiri tak mengerti apa yang orang-orang katakan untuknya.


Karena Madam Choo selalu berpesan agar Meimei tak boleh memperdulikan apa kata orang. Dengan patuh Meimei melakukan apa yang madam Choo perintahkan.


"Aku harus masak, setelah itu mandi biar tidak bau asem!" gumam Meimei penuh semangat.


Gadis cantik itu membereskan peralatan pel dan sapu lalu meletakkan nya kembali di gudang.


Harum aroma masakan Meimei membuat Max yang baru saja pulang pun merasa lapar. Pria tampan itu melangkah menuju dapur.


Gleg.


Max menelan ludahnya kasar di kala melihat Meimei yang memakai kemeja putih sebatas paha, rambut di ikat satu kepalan di atas kepala.


Leher jenjang gadis itu telah basah akan keringat membuat pesona polos nya berubah menjadi seksi.


Bayang-bayang kejadian tadi pagi antara dirinya dan Meimei kembali berputar di otak mesyum nya bak film yang di putar.


"Huff … atur nafas mu, Max! Tarik dalam-dalam nafas mu lalu hembuskan perlahan dan kau harta Karun ku, cukup diam di dalam sana. Nanti di saat punya waktu luang aku akan menanam mu ke tanah subur miliknya … eh … apa dia masih utuh?" 


Max bertanya-tanya dalam hati. 


"Lebih baik aku tanyakan saja padanya, apa dia masih utuh atau tidak!" gumam Max pelan seraya melangkah mendekati Meimei yang sedang memasak membelakangi nya.


"Masak apa?" tanya Max dengan suara pelan tepat di telinga Meimei membuat gadis cantik itu tersentak kaget.


"Tuan." Meimei menoleh ke samping, wajahnya dan wajah Max sangat berdekatan, bahkan hidung keduanya saling bersentuhan.


*


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰


Mampir Juga ke novel temen author.