Gairah Cinta CEO Bastard

Gairah Cinta CEO Bastard
Tidur Bersama!


Diego seperti orang kesetanan mencari keberadaan Juliet dan kedua anaknya. Sedangkan David, pria paruh baya itu sudah menghilang begitu saja setelah memprovokasi Diego.


Diego yang pada dasarnya masih sakit langsung sembuh saat itu juga. Bayangan di mana Juliet di rebut oleh ketiga sahabatnya yang memiliki pesona cassanova dan tentunya pandai menggoda, membuat Diego tak bisa tenang.


"Ars, ke mana perginya Juliet dan dua bibit ku? Kenapa aku tidak bisa menemukan keberadaan mereka?" tanya Diego seraya menyetir menghubungi Arslan.


"Nona Juliet dan kedua anak Anda di bawa oleh nyonya besar ke rumah Anda yang berada di Australia, Tuan!" balas Arslan di seberang sana.


Pria tampan itu juga tak bisa hidup tenang karena Diego selalu mengacaukan hari-harinya dengan segala kegaduhan.


"Siall, kenapa kamu tidak bilang dari awal?" Diego segera memutuskan panggilan tersebut.


Pria tampan itu membalik setir mobil nya menuju ke rumah milik ayahnya yang berada di Australia.


"Awas aja kalau sampai otak Juliet mommy racuni. Aku tidak akan mengakui mommy sebagai mommy ku lagi!" dengus Diego kesal.


Pria tampan itu sangat takut Juliet semakin marah padanya. Karena dia tahu betul bagaimana mulut Tari yang sangat pandai bersilat lidah.


*


*


*


Di saat tiba, Diego langsung turun dari mobilnya berlari masuk ke dalam pelataran rumahnya.


"Juliet … Adam, Abraham! Kalian di mana, Daddy datang menjemput kalian!" Diego berteriak seraya menyeret langkahnya masuk ke dalam ruang tamu.


"Sutttt … jangan ribut anak nakal! Cucu ku sedang tidur!" ujar Tari yang baru saja keluar dari arah dapur. 


Diego melengos ke samping. Matanya terbelalak melihat wajah Tari yang putih karena masker.


"Oh my God … hampir saja jantung ku loncat keluar, kenapa mommy keluar kamar memakai tepung di wajah mommy?" Diego mengelus dadanya yang berdebar-debar karena terkejut.


Tari memutar bola matanya malas. 


"Suka-suka, Mommy! Kenapa kamu datang ke sini? Apa belum puas nyakitin anak mommy, huh?" sentak Tari berdecak pinggang membuat Diego mengernyitkan dahinya.


"Anak mommy kan aku! Lalu kenapa aku menyakiti diriku sendiri?" tanya Diego bingung.


"Bukan kamu, tapi, Juliet! Mulai sekarang dia sudah menjadi anak mommy dan sebentar lagi kamu akan di coret dari kartu keluarga!" balas Tari galak membuat Diego terbelalak mendengarnya.


"Mom, kenapa bisa begitu? Bukankah aku anak kesayangan mommy dari dulu. Putra kebanggaan mommy, lalu kenapa tiba-tiba aku bukan anak mommy lagi?" Diego tak terima mendengar perkataan Tari.


Sedari dulu dia selalu di sayang dan di puji oleh Tari. Akan tetapi, sekarang, dengan mudahnya wanita yang telah melahirkannya itu mengatakan dia bukan anaknya lagi.


What the hell? teriak Diego dalam batin.


"Alasannya cuma satu, Diego yang mommy kenal adalah pria bertanggung jawab. Tapi, Diego yang sekarang tak lebih dari pecundang yang menanam bibitnya sembarangan lalu tak mau bertanggung jawab! Juliet wanita dan mommy juga wanita. Kamu menyakiti Juliet maka kamu juga menyakiti mommy! Sekarang pergilah dari sini. Mommy mual lihat kamu di sini!" 


Tari berkata ketus lalu berlalu dari hadapan Diego yang hanya bisa termangu mendengar kalimat pedas ibunya.


Diego meletakkan dagunya di bahu Tari.


"Maafkan aku, Mom. Jangan ngambek dan marah seperti ini, aku tidak suka! Aku mengaku salah dan sekarang aku ingin memperbaiki semuanya! Aku akan bertanggung jawab pada Juliet dan kedua anakku itu."


"Bukankah aku putra kesayangan mommy, dan mommy yang paling tahu dan mengenal siapa aku!" Diego mengerat pelukannya pada Tari.


Hatinya merasa sesak di kala ibu kandungnya berkata acuh padanya. Dia tak rela … 


Tari yang mendengarnya pun tersenyum kecil, lalu dia mengelus kepala Diego dari samping.


"Buktikanlah, Sayang! Jangan hanya di mulut … tapi, juga di hati dan berikan buktinya!" 


"Juliet tidur di kamar tamu, jangan ganggu dia! Kasihan dia kelelahan karena merawat mu!" lanjut Tari melepaskan pelukan tersebut lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Diego mengusap wajahnya kasar, pria tampan itu segera menyeret langkahnya menuju kamar tamu.


Cklek.


Diego membuka pintu kamar secara perlahan. 


Degg.


Hati Diego menghangat ketika melihat Juliet tidur menghadap ke arah pintu dengan posisi menyamping ke kanan.


Wajah cantiknya yang polos dan terlihat kelelahan membuat hati Diego merasa teduh dan tak jenuh dalam memandang.


Diego membuka pakaiannya menyisakan boxer lalu segera naik ke atas ranjang secara perlahan, agar tak membangunkan Juliet.


"Maafkan aku karena telah membuat kamu lelah! Lelah dalam segala hal. Tapi, aku janji mulai sekarang aku akan menebus semuanya," bisik Diego pelan di telinga Juliet.


Juliet merasa geli, wanita cantik itu segera mengusap telinganya. Lalu membalikkan badannya dan memeluk erat tubuh Diego.


"Tidurlah, karena sepertinya besok di pagi-pagi buta aku membutuhkan tenaga mu," lirih Diego mengelus punggung Juliet lembut, membuat Juliet semakin nyaman dan terlelap dalam tidurnya.


*


*


*


Waduh … tenaga untuk apa, Bang? 🤪🤪😅


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏🥰