Gairah Cinta CEO Bastard

Gairah Cinta CEO Bastard
Mencoba Membuktikan Sebuah Janji!


"Oh, ini merah karena di gigit nyamuk saat mommy ke puncak gunung dekat rumah bareng Daddy tadi!" bohong Juliet membuat Adam dan Abraham mengepalkan tangannya erat.


"Huff, besok-besok mommy harus bawa obat nyamuk kemanapun mommy pergi! Biar lehernya gak di gigit nyamuk lagi!" Adam berkata kesal membuat Juliet bernafas lega karena anak-anaknya percaya begitu saja.


Abraham dan Adam mencium leher Juliet yang memerah itu dengan lembut.


Cup.


Cup.


"Semoga merah-merah nya cepat hilang!" ujar Abraham tersenyum polos membuat hati Juliet menghangat.


Mereka pun berpelukan dalam jangka waktu yang lama.


*


*


*


Berbeda dengan Diego yang masih menunggu dalam mobil mewahnya. Pria tampan itu tak ingin beranjak dari rumah Juliet.


Dia tak ingin kembali kehilangan jejak Juliet. Terlebih lagi, dirinya mendengar Adam dan Abraham mengajak Juliet untuk pindah rumah.


Antara bangga dan kesal itulah yang Diego rasakan. Bangga karena anak-anaknya tumbuh sehat dan pintar.


Kesal karena sikap kedua bibit unggul nya itu persis seperti dirinya yang memiliki mulut pedas.


"Apa yang harus aku lakukan, Ars? Apa aku pulang saja? Lihatlah hari sudah sore, tapi, Juliet dan anak-anakku tidak juga menunjukkan batang hidung mereka lagi!"


"Apa yang mereka lakukan di dalam kandang lembu itu, sih? Terus … kenapa anak-anakku itu sangat susah di bujuk!"


"Rasanya ingin ku jewer telinga mereka itu!" Diego menggerutu kesal membuat Arslan yang sedang duduk di kursi sopir pun menghela nafas berat.


Pria tampan itu juga merasa bingung bagaimana cara membujuk Juliet dan anak-anak Diego.


Juliet si wajah datar nyaris tanpa ekspresi. Adam dan Abraham si kecil-kecil cabe rawit.


Sungguh kombinasi ibu dan anak yang paling epik, pikir Arslan.


"Anda tidak boleh berkata seperti itu, Tuan! Mungkin bagi Anda rumah jelek seperti itu tak lebih dari kandang lembu! Akan tetapi, bagi sebagian orang itu adalah tempat bernaung mereka!"


"Tidak semua orang bisa hidup mulus seperti Anda! Hidup ini terlalu keras bagi orang-orang lemah dan miskin, Tuan!" jelas Arslan sedikit tak suka dengan kata-kata pedas Diego.


Pantas saja anak-anak Anda mulutnya seperti saus sambal kalau bapaknya seperti Anda, Tuan batin Arslan kesal.


Diego merenungi perkataan Arslan. Benar bahwa hidupnya terlalu mulus. 


"Kamu benar, Ars! Hidupku terlalu mulus, bahkan, saking mulusnya setiap paha wanita yang mulus bisa aku raba, sampai-sampai bibit ku besar seperti dua bocah itu!" Diego menghela nafas panjang ketika mengingat perilaku kedua anaknya itu.


Dia tak menyangka Adam dan Abraham akan menolak kehadirannya.


Apa kata dunia bila tahu seorang Diego James Arthur, pria tampan bak pangeran bangsawan, kaya nya tujuh turunan dan dermawan nya gak ketulungan di tolak mentah-mentah oleh anak-anaknya.


Ah … membayangkan hal itu saja sudah membuat Diego bergidik ngeri.


"Ars, aku mengantuk! Apa kita balik lagi ke hotel saja?" tanya Diego setelah menguap.


Pria tampan itu kekurangan jam istirahat nya. Sudah beberapa hari ini dirinya tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan Juliet.


"Jangan, Tuan! Kalau Anda balik ke hotel maka Anda akan di cap buruk oleh anak-anak Anda! Mereka akan menilai bahwa kata maaf Anda tidak sungguh-sungguh!" tegas Arslan membuat Diego setuju.


"Tapi, sampai kapan akan begini, Ars? Mereka melirik ku saja dengan ujung ekor mata!" sungut Diego kesal ketika melihat tatapan sinis yang di layangkan untuknya oleh Adam dan Abraham.


Sesuatu hal yang tidak pernah dia dapatkan dan bayangkan selama ini.


Tak ada yang berani menatap Diego seperti itu. Hanya Juliet saja yang selalu datar padanya. 


Akan tetapi, wanita itu tak pernah bersikap sinis padanya.


"Anda harus sabar, Tuan!" balas Arslan yang tak tahu harus memberikan saran apalagi bila mengenai sikap kedua tuan muda kecil itu.


Cuaca pada sore hari itu sangatlah mendung. Bahkan, hujan rintik-rintik turun membasahi bumi.


Diego sesekali memejamkan matanya karena rasa kantuk yang kian mendera. Namun, saat di rasanya tiba-tiba hujan turun lebat.


Seketika Diego membuka matanya lebar lalu menatap ke arah rumah Juliet yang atapnya bocor.


"Gawat … mereka pasti kedinginan karena air hujan masuk ke dalam rumah mereka!" Diego yang merasa khawatir pun langsung menyambar payung yang berada dalam mobilnya.


"Tuan, Anda mau ke mana?" tanya Arslan terkejut.


"Ars, carikan makan malam untuk kita semua! Pastikan makanannya masih hangat karena cuaca sedang hujan! Aku ingin melihat kondisi Juliet dan anak-anakku dulu!" 


Setelah mengatakan hal tersebut Diego langsung turun dari mobil.


Pria tampan itu menyeret kakinya masuk ke dalam pekarangan rumah Juliet. Diego mengetuk pintu rumah Juliet.


"Juliet, buka pintunya!" teriak Diego kencang.


"Juliet, bukalah! Aku ingin melihat kondisi rumah kalian! Cepatlah, aku kedinginan!" lanjut Diego menggedor-gedor pintu rumah Juliet.


Oh ya ampun … cuaca semakin dingin, rasanya aku ingin yang hangat-hangat batin Diego tiba-tiba berubah mesum.


Pria itu membayangkan bagaimana nikmatnya dia bercocok tanam dengan Juliet di kala hujan deras.


*


*


*


Wkwkwkwk … babang Diego mah kagak kapoknya, itu otak isinya mesum semua🤣🤣🤣


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🙏🥰❤️


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰🥰