
Lagi-lagi tubuh gadis itu seakan terkena sengatan listrik, dia segera menggeser kasar tubuhnya untuk menjauhi Martin, dengan wajah terlihat berapi-api! " Apa yang kamu lakukan? Dasar tak tau aturan! Kamu mau membuatku kehilangan pendengaran. Hah!" Gerutu Keyla dengan nada suara terdengar sangatlah judes, sembari tangannya sibuk mengusap telinganya dengan kasar karena masih tersisa Saliva Martin di sana.
Martin tersenyum puas melihat emosinya dan membuat Martin tak hentinya ingin mempermainkannya! Tapi kasian juga hidup gadis lugu itu, dia harus menikahi CEO dingin sepertinya. Tak lama kemudian terdengar suara laki-laki dari arah belakang dan membuat Keyla tersentak kaget.
"Ehem. .ehem" Hen berjalan perlahan dan berhenti persis dihadapan Martin, dia membungkukkan badannya sebelum bicara. " tuan muda! Semua barang nona muda sudah beres. Nyonya Sinta dan tuan Jordan sudah menunggu dihalaman rumah." Setelah melihat tangan Martin, Hen kembali membungkukkan badannya dan berlalu pergi.
Hei apa ini kenapa aku merasa Mama, Papa seakan menyuruhku keluar dari rumah ini! Bahkan si mesum ini membawa para pelayannya untuk membantu mengemas barang-barang ku. Sejak kapan orangtuaku mengabaikan ku seperti ini, bahkan mereka melarang ku menghubungi kak Jeni!
Gadis itu berlahan berdiri dari posisi duduknya dan berjalan mengekor dibelakang suaminya, langkahnya terhenti persis di hadapan kedua orangtuanya. Matanya terlihat berkaca-kaca, dia merasa sangatlah sedih karena harus pergi dari rumahnya, rumah yang dia tempati sejak kecil. Keyla melihat setiap sudut rumahnya, krista bening mulai meleleh dengan perlahan di pipinya dan mengalir semakin derasnya dikedua pipinya. Sinta dan Jordan segera menghampirinya dan mereka berdua memeluk Keyla berganti dengan sangat lembut.
"Sayang, jangan menangis kamu masih bisa datang kemari kapan saja," Ucap Sinta sembari melepaskan pelukannya dan tangannya bergantian menyeka air mata putrinya itu. Jordan juga ikut melepaskan pelukannya dan mencium kening putrinya sembari berkata.
"Hiduplah dengan bahagia sayang, Papa dan Mama akan selalu mendoakan mu. Ingat tidak boleh nakal, manja dan harus menjadi istri yang baik." Tutur Jordan.
Ma, Pa! Aku akan tetap hidup bahagia walaupun kalian mendorongku memasuki pintu neraka. Haha kata-kata ini terdengar konyol bukan, aku akan hidup dengan penjaga pintu neraka yang setiap saat siap membakar ku hidup-hidup dengan sikap dan ucapannya!
Setelah drama berpamitan itu selesai Martin segera menghampirinya, Martin bergantian menjabat kedua orangtua Keyla. Dan melangkahkan kakinya menuju mobil terlihat Hendro sudah membukakan pintu mobil untuknya. Setelah Keyla sampai dihadapannya, Hen segera membungkukkan badannya. Martin menyunggingkan senyumannya sebelum memasuki mobil. Hen kembali menegakkan badannya dengan gagah setelah melihat Martin masuk kedalam mobil. Hen segera menutup pintu mobil dan Ikut masuk kedalam pintu pengemudi, dia segera memacu kendaraannya perlahan keluar dari halaman rumah Keyla.
Keyla masih menangisi perpisahannya dengan kedua orangtuanya. Gadis itu masih menatap jalanan dari Balik jendela tanpa mengucapkan satu katapun, pandanganya terlihat kosong seperti tak memiliki gairah hidup lagi. Hingga suara Martin membuatnya tersentak kaget dari lamunannya.
"Menghela nafas panjang, berhenti menangis! Aku akan mencekik mu, jika kamu tak berhenti menangis!" Ancam Martin dengan tak menoleh. Tubuh Keyla bergetar setelah mendengar ucapan pria yang duduk disampingnya itu.
Dengan sesengukan Keyla menyeka air matanya dan perlahan mulai menghentikan tangisannya. Tubuhnya gemetar mendengar ucapan Martin barusan dan dia tak berani membantah kata-kata pria yang duduk persis disampingnya itu!