Di Paksa Menikahi CEO

Di Paksa Menikahi CEO
Penganggu.


Martin tersenyum cekikikan karna mendengar ucapan Istri kecilnya itu, dia tak menyangka jika Keyla akan mengetahui isi hatinya! Martin mulai berdiri dari posisi tidurnya, dia mengekor dibelakang Keyla, Martin turun dari anak tangga sembari matanya masih melihat kearah Keyla yang berjalan cepat masuk kedalam dapur. Martin sangat paham jika istrinya itu tak akan pernah tahan jika perutnya lapar, Martin menghentikan langkahnya didepan pintu dapur sembari melihat Keyla yang sibuk menyiapkan sayuran untuk dimasak, Keyla semakin pintar memasak dia bahkan sekarang tak merasa kesulitan dalam menyiapkan bahan dan sayuran-sayuran apa saja yang hendak dia bikin menjadi hidangan yang sangat lezat. Martin masih menatap Keyla dari pintu dapur sembari menyandarkan tubuhnya dipinggiran pintu tersebut.


Berjalan mendekati Keyla, "Sayang apa perlu bantuan?" tanya Martin sembari melingkarkan tangannya diperut ramping istrinya. Keyla hanya tersenyum lembut mendengar ucapan suaminya itu.


Mereka berdua terlihat sangat serasi dan sikap arogan dan sombong Martin sudah tak terlihat lagi, ekspresi wajah dingin dan datar sudah jarang terlihat jika Martin sedang bersama Keyla. Kedua orang itu sekarang sedang di mabuk cinta namun sesaat kemudian terdengar bunyi bel pintu dari depan rumah pengantin baru itu. Martin segera melepaskan pelukannya dan dia berjalan keluar dari dapur. Pria itu sudah berdiri dibelakang pintu dan dia segera membuka pintu itu dilihatnya Sendi dan Ferdi sudah ada didepan pintu rumahnya.


Martin berdecak kesal melihat Sendi membawa serta adiknya. Sebenarnya tidak masalah namun karna Keyla pernah mencintai Ferdi jadi Martin selalu kebakaran jenggot jika melihat adik sahabatnya itu, apa lagi sekarang Ferdi berada dirumahnya itu semakin membuat tubuh Martin seakan terbakar api cemburu bahkan suasana sejuk rumah dipinggiran pantai itupun seakan meniupkan hawa panas dan membuat Martin semakin gerah. Awalnya dia biasa saja namun setelah melihat tamu tak diundang yang datang kerumahnya jadi wajah kasmaran Martin seketika hilang dan kini yang terlihat hanyalah wajah kusut bagaikan baju yang ditaruh disudut ruangan.


Martin masih berdiri didepan pintu, dia seakan enggan menyuruh tamu tanpa diundang itu masuk kedalam rumah. Namun karna lelah menunggu tanpa disuruh oleh Martin, Sendi langsung nyelonong masuk kedalam rumah, Martin mengeraskan rahangnya melihat sikap sahabatnya itu, Ketika Ferdi hendak menginjakkan kakinya masuk kedalam rumah. Tangan Martin langsung menutup jalanya dan menghadangnya masuk kedalam rumah. Sebenarnya tidak pantas seorang CEO sepertinya bersikap demikian tapi itulah yang terjadi pada Martin Sekarang.


"Hei Martin sejak kapan kamu suka rumah yang di pinggir pantai bukankah kamu tak suka dengan pantai bahkan kamu sengaja menghindari jika aku selalu mengajakmu ke pantai bukan?" Tanya Sendi sembari matanya menyapu seisi ruangan itu. Karna masih belum ada jawaban akhirnya Sendi berbalik arah dan melihat apa yang sedang terjadi didepan pintu itu. Menepuk jidatnya pelan. "ayo masuk! Abaikan kak Martin!" ucap Sendi sembari menarik tangan Ferdi dan mengajaknya masuk kedalam rumah.


"Aku belum menyuruhmu masuk!" Teriak Martin karna merasa posisinya sebagai seorang suami sedang terancam karena kedatangan Ferdi. Sungguh ke hawatiran yang amat berlebihan.


Martin menatap Ferdi dengan pandangan sinis. Sedangkan Sendi dan Ferdi tak memperdulikan pemilik rumah yang sedang terbakar api cemburu itu. Ferdi dan Sendi duduk di sofa yang ada diruang tamu tersebut mereka berdua duduk dengan begitu santainya. Ferdi hanya diam sembari matanya menyapu setiap sudut ruangan tersebut. Hati Ferdi sangatlah sakit bagaikan dihujamkan ribuan pisau tajam yang langsung menembus jantungnya.


Tidaklah mudah baginya melihat wanita yang paling dia cintai hidup bersama pria lain! Ferdi masih mencari cari keberadaan Keyla karna terlihat beberapa kali dia celingukan mencoba mencari keberadaan pujaannya. Sendi yang mengetahui sikap adiknya itu langsung berbisik padanya.


"Kita kesini hanya ingin melihat keadaan Key, jangan bertindak yang aneh-aneh!" Sendi memperingatkan adiknya, karna Sendi tau jika Martin bisa berbuat apapun untuk menjatuhkan adiknya. Hanya Sendi saja yang berani bersikap acuh dengan ucapan Martin! Karna Sendi dan Martin berteman sudah sejak kecil jadi Sendi mempunyai hak istimewa sebagai seorang sahabat.


Jika orang lain mereka pasti akan bungkam jika mendengar setiap ucapan Martin.