Di Paksa Menikahi CEO

Di Paksa Menikahi CEO
bercerita pada Hen.


Membuka berkas yang ada ditangannya, "Tuan muda hari ini anda ada jadwal pertemuan dengan pengusaha dari kota C pada pukul 10.00 siang." Hen membalik kertas berikutnya. "pada pukul 13.00 anda ada meeting dengan para perkerja."


Karna belum ada jawaban dari Martin, Pak Hen menutup berkas yang sedang dia baca dan beralih menatap Martin.


Dilihatnya Martin sedang melamun dengan pandangan kosong.


tidak biasanya tuan muda melamun saat berkerja, sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan sampai membuatnya tidak fokus bekerja padahal Nona muda sudah ada di ruangan sebelah. Entah apa yang sedang Nona muda lakukan semoga saja tidak sampai membuat kegaduhan seperti biasanya. Gumam Hen dalam hati sembari masih menatap Martin yang sedang bengong.


"Tuan muda, tuan muda!" Ucapnya beberapa kali namun masih belum ada jawaban. "tuan muda!" Ucapnya untuk yang ketiga kalinya dengan suara setengah membentak.


Apa yang ada didalam lamunan Martin seketika pecah menjadi serpihan kecil dan menghilang dengan hembusan angin, "Beraninya kau membentak ku!" Ucapnya dengan lantang.


Ya itulah sikap Martin yang sebenarnya dia marah tanpa tau sebab yang sebenarnya. Bahkan dia menatap Pak Hen dengan menajamkan alisnya sangat jelas terlihat jika dia sedang terganggu dengan apa yang asistennya tadi ucapkan. Padahal hanya setengah membentak saja tapi Martin sudah bertindak seakan-akan Pak Hen membuat kesalahan yang fatal.


Ya begitulah karna sultan mah bebas.


Martin sangat tidak suka jika ada orang yang berani berteriak dihadapannya ataupun membantah Ucapanya.


Sebelum bertemu dengan Keyla, semua yang Martin inginkan sangatlah sempurna bahkan mantan kekasihnya pun tak ada yang berani membantah Ucapanya ataupun menolak keinginannya. Namun sejak ada Keyla semua itu berubah, Martin mulai membiasakan diri mengikuti keinginan istrinya tanpa mempertimbangkan apa saja hal konyol yang sering dilakukan oleh Keyla.


Gadis kecil itu telah mewarnai hidup Martin yang tadinya gelap tanpa sebuah cahaya dia hanya hidup bergelimang harta namun semua orang yang dekat dengannya hanyalah menginginkan hartanya saja.


Tapi Keyla berbeda dari gadis lainnya, dia tau Martin memiliki banyak uang, namun dia tak pernah meminta uang sepeserpun darinya. Karna menurut Keyla perutnya tidak merasa kelaparan saja baginya sudah lebih dari cukup dan itulah yang membuat Martin sangat mencintainya dan tak bisa jauh darinya. Bahkan Martin juga tidak merasa keberatan dengan selera rakus istrinya jika sudah melihat banyak makanan dihadapannya.


"Kau berani bilang aku tuli!" Sahutnya dengan rahang mulai mengeras.


"Bukan itu maksud saya tuan muda," ucap Hen sembari menyeka peluh yang menetes ke pipinya dengan mengunakan tissue. Wajah Pak Hen terlihat pias saat melihat kemarahan majikanya itu.


"Sudahlah jangan banyak alasan." ucapnya dengan menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. "Duduklah aku butuh nasehat mu." Imbuh Martin sembari menatap Pak Hen dengan amarah mulai mereda.


Martin sangat muda tersulut emosi seperti sebuah kembang api yang ditembakkan ke udara. Bunga kembang api itu akan menyala seketika dan dengan sekejap juga akan hilang tanpa memberikan bekas. kira-kira seperti itu jika diibaratkan amarah Martin.


Tanpa menjawab Hen segera mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada dihadapan Martin. Hen hanya bisa menuruti keinginan majikanya itu karna dia tak memiliki kapasitas lebih untuk menolak keinginan majikanya itu.


Martin masih terdiam hingga beberapa saat, Pak Hen hanya bisa diam sembari menatap kearah majikanya itu dengan mengerutkan dahinya. Pak Hen ingin mempertanyakan alasan Martin menyuruhnya duduk namun mulutnya seakan kaku dan suaranya seakan menghilang seketika hingga membuat Pak Hen hanya bisa mematung dihadapan Martin.


Kesunyian didalam ruangan itu membuat suasana semakin mencekik Pak Hen. Bahkan jika dilihat dari wajahnya Pak Hen terlihat tidak tenang seperti ada suatu hal yang membunuh nya ya sorot mata dingin Martin mampu melumpuhkan otak orang yang sedang dia ajak bicara.


"Sejak hamil Keyla mulai bertingkah aneh. Dia bahkan melarang ku memakai parfum yang biasanya aku kenakan! Dan yang paling membuatku risih adalah kebiasaannya setiap lagi yang suka mencium bau ketiak ku membuatku sangat terganggu." Ucap Martin dengan membayangkan apa saja yang sudah terpatri di memori otaknya itu dengan menunjukkan mimik wajah kelihatan geli. Pasti dia membayangkan jika Keyla sedang mengendus-endus ketiaknya di pagi hari.


"Nona muda sedang mengalami masa ngidam dimana dimasa-masa itu ibu hamil akan meminta sesuatu yang bahkan terlampau tidak masuk akan!" Ujar Pak Hen memberitahukan pada Martin apa yang dia ketahui walaupun Pak Hen belum menikah namun tetap saja dia bisa mengetahui semua itu dengan mudah melalui ponsel pintar yang dia miliki.


Menarik tubuhnya dari kursi, "Apa menurutmu begitu, atau aku perlu memanggil dokter untuk memeriksanya?"


Haha mulai kambuh lagi sikap berlebihan sang CEO. Memang wajar dia merasa khawatir karena istrinya tengah hamil muda namun dia memperlakukan Keyla seolah-olah istrinya tengah sakit keras dan membutuhkan dokter setiap saat nya. Pastilah begitu orang yang melihat sikap berlebih Martin saat menjaga calon bayinya yang masih ada didalam rahim istrinya.