
Keyla semakin geram melihat sikap kasar suaminya, Keyla hendak bangun dari ranjang namun tubuhnya seakan tak memiliki tenaga, tubuh Keyla seakan lemas bahkan kepalanya masih terasa berat, tubuhnya berkeringat dingin kepalanya semakin pusing mendengar ocehan suaminya yang tidak jelas itu.
"Kak, bisakah kau kecilkan suara mu yang cempreng itu? Dan biarkan dokter itu bicara!" Ucap Keyla dengan nada suara lirih karna dia tak memiliki tenaga untuk berteriak, tubuhnya begitu lemas dan tak berdaya. Suara Keyla memang terdengar lirih namun nada bicaranya seakan menusuk telak di otak besar suaminya.
Terlihat dokter yang tadi memeriksa Keyla menahan senyumannya sampai wajahnya merah. Dokter itu merasa puas setelah mengetahui jika ada orang yang berani bicara seperti itu pada CEO Martin begitu kira-kira arti dari tawa yang dokter tersebut tahan. Begitu pula dengan Pak Hen begitu mendengar ucapan Nona mudanya itu. Pak Hendro langsung menundukkan kepalanya karna tak ingin jika sampai majikanya tersinggung jika melihat tawa di wajah asistennya itu.
Menaruh tangannya di perut, "Bicaralah! Jika kalian berani tertawa lagi, habis kalian hari ini!" ancam Martin dengan suara pelan namun penuh penekanan. Kedua orang yang tadinya menahan tawanya setengah mati itu, mereka langsung diam seketika.
membungkukkan badannya, "Nona muda sedang mengandung empat Minggu Tuan muda. Kondisi janinnya sangatlah sehat, namun harus berhati-hati karena diusia kehamilan yang sangatlah muda rentan mengalami keguguran." ucap dokter tersebut dengan senyum mengembang di bibirnya.
Melotot seakan tak percaya jika dirinya akan menjadi seorang Papa, "Benarkah, apa yang aku dengar barusan?" ucap Martin dengan wajah berbinar-binar. Dokter itu menjawab dengan senyum yang secerah matahari menandakan jika yang dia dengar memanglah benar.
Menatap Hen yang ada dibelakangnya, "Naikkan gajinya tiga kali lipat!" Perintah Martin sembari langsung berjalan mendekati Keyla yang terbaring lemah. Sedangkan Pak Hen segera mengantar dokter tersebut keluar dari ruangan itu.
Mencium pipi Keyla, "Sayang kau sudah dengan kan apa yang dokter itu ucapkan?"
Tersenyum tipis, "Iya Kak." sahut Keyla lirih dia tidak ingin banyak bicara karna tubuhnya masih sangatlah lemah.
Keyla sangatlah bahagia karna dirinya akan menjadi ibu muda, namun tubuhnya begitu lemas dan seakan tak memiliki penopang hingga dia hanya bisa terbaring di ranjang dengan rasa mual yang masih dirasakan.
"Mulai sekarang kamu jaga kesehatan makan-makan yang bergizi dan iku aku kekantor setiap hari!"
"Untuk apa? Aku ingin dirumah saja."
"Supaya aku bisa melihatmu setiap waktu dan aku juga harus menjaga calon anak ku yang masih ada didalam rahim mu, sayang!" Martin mulai bertindak lebih gila lagi dia bahkan tak ingin meninggalkan istrinya sendirian, dia ingin menjaga Keyla agar tak mengalami kesulitan di awal kehamilannya lebih lagi Martin masih mengingat jelas apa yang diucapkan oleh dokter yang memeriksa Keyla tadi.
"Terserah!" Sahut Keyla sembari membuang pandangannya Karna Keyla tau jika perintah suaminya kali ini tidak akan bisa dia bantah.
Selesai bicara Martin segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sedangkan Keyla masih terbaring lemas di atas ranjang. Selesai membersihkan diri Martin segera masuk kedalam dapur.
Kini Martin sudah berdiri didepan pintu dapur dan matanya menyapu seisi ruangan tersebut dilihatnya sayuran yang teronggok dilantai Martin segera mengunakan apron dan dia membersihkan sayuran yang berceceran dilantai itu.
Pak Hen masuk kedalam dapur sembari mengerutkan dahinya melihat Martin mengenakan apron. Sudah hampir beberapa tahun yang lalu Pak Hen tak melihat Martin mengenakan apron pantaslah Pak Hen merasa heran.
Membungkukkan badannya, "Tuan muda kenapa harus repot-repot anda membereskan ini semua. Biar saya pangil para pelayan untuk datang ke sini sekarang."
"Tidak perlu karna Keyla tidak akan menyukainya, dia lebih suka mengerjakan segalanya sendiri!" Sahut Martin sembari sibuk mencari bahan didalam kulkas.
Masih mengekor dibelakang Martin yang kini berjalan menuju wastafel untuk membersihkan sayuran dan ikan yang sedang dia bawa, "Lalu siapa yang akan menjaga Nona muda jika Tuan muda sedang berkerja?" tanya Hendro sembari masih tak bergeming menatap majikanya yang sedang menjadi koki spesial untuk istrinya tercinta.
Menatap Hen sekilas, "Mulai besok dia akan ikut kekantor!"
Ucapan Martin memang terdengar simpel! Namun artinya sangatlah rumit jika dilihat dari ekspresi wajah Pak Hen yang tiba-tiba berubah. "Saya sudah mengabari orang tua Nona muda dan jika terdengar dari cara bicara mereka sangatlah bahagia. Dan orang tua Nona muda akan segera datang ke sini." Pak Hen bicara sembari mengulurkan nampan pada Martin.
Martin mengisi nampan Tersebut dengan dua mangkuk berisi sup ikan dan satu mangkuk berisikan bubur. Ketika Pak Hen hendak membawa nampan tersebut namun segera dihentikan oleh Martin. Martin membawah sendiri nampan itu sembari menatap Pak Hendro. "Pergilah, aku akan berangkat kerja besok!" Setelah bicara Pak Hen segera membungkukkan badannya sampai Martin menghilang dari pandangannya. Pak Hen segera menarik tubuhnya kembali dan pergi menuju kantor.
Didalam kamar.
Martin membuka pintu kamar tersebut matanya segera menyapu seisi ruangan itu. Dilihatnya Keyla sudah tidak ada di atas ranjang Martin bergegas menaruh nampan yang sedang dia bawa di atas meja. Martin masuk kedalam kamar mandi dilihatnya Keyla berjongkok disamping wastafel sembari memegangi perutnya.
VOTE YANG BANYAK YA ☺️☺️☺️☺️