Di Paksa Menikahi CEO

Di Paksa Menikahi CEO
Tetap merahasiakan.


Keyla merasa sedih padahal baru ditinggalkan Martin sebentar saja, dari sorot matanya Sebenarnya Keyla ingin bertanya pada Martin apa yang sedang terjadi. Tapi karna Martin terlihat terburu-buru jadi Keyla hanya bisa memendamnya dalam hati.


_ _ _ _


Di dalam mobil.


Menatap kearah Hendro yang sedang fokus mengemudi, "Dimana Jordan?" tanya Martin dengan wajah datar.


Melirik dari kaca spion, "Tuan Jordan ada dirumahnya! Dia tadi menunggu anda di kantor MK GROUP tapi saya menyuruhnya pulang, tuan!" jawab Hendro sembari kembali memfokuskan pandangannya menatap kearah jalanan.


"Wanita itu sedang cari masalah! Akan sangat mudah jika dia bukan kakanya Keyla!" Gerutu Martin sembari mengepalkan jari-jari tangannya. Sangat terlihat jelas jika Martin sedang mencoba menahan emosinya yang seakan mau meledak itu. Jika saja Jeni bukan kakanya Keyla, Martin akan dengan sangat mudah membereskannya bahkan dengan hitungan menit saja.


Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi, Martin diam sembari memainkan ponselnya. Dia melihat foto istri Kecilnya saat cemberut dan wajah polos Keyla jika sedang dia goda.




Martin tak bisa memikirkan apapun kecuali tentang Keyla, bahkan pak Hendro sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali karna heran dengan sikap Martin.


Tak lama kemudian mobil Martin mulai berhenti di gerbang utama rumah Keyla, Pak hendak membunyikan beberapa kali klakson mobilnya. Tak lama kemudian security rumah tersebut keluar dan dia segera membukakan gerbang untuk menantu rumah tersebut, Kedua satpam yang tadi membukakan gerbang utama itu segera membungkukkan badannya saat mobil Martin mulai memasuki gerbang. Terlihat Jordan dan Sinta sudah berdiri didepan pintu rumahnya dan sudah siap menyambut menantunya itu.


Mobil pak Hendro berhenti didepan halaman rumah tersebut, seperti biasa Pak Hendro turun lebih dulu dan dia segera membungkukkan badannya sampai Martin keluar dari mobil. Martin melangkah memasuki teras rumah tersebut dan Pak Hendro mengekor dibelakangnya. Sinta dan Jordan segera bergantian menjabat tangan Martin.


"Maaf sudah merepotkan anda nak Martin." Ucap Jordan sembari berjalan masuk kedalam rumah.


Berhenti dan menatap kearah Sinta yang berjalan dibelakangnya, "Ma, tolong pergilah ke mall. Kasihan Keyla di sana hanya dengan para pengawal!" ucap Martin dengan nada suara terdengar sangat sopan.


Martin sangat menghargai kedua mertuanya itu, walaupun dia kejam tapi dia jarang sekali menunjukan ya pada kedua orangtua Keyla. Walaupun awal pernikahannya dengan Keyla kurang baik namun seiring berjalannya waktu Martin mulai menerima keluarga Keyla, kecuali tingkah laku Jeni padanya.


Setelah mendengar ucapan Martin Sinta masuk kedalam kamarnya dan dia segera Menganti bajunya dikamar, setelah selesai berganti pakaian. Sinta menuruni anak tangga dan berjalan ke ruang tamu dia mengehentikan langkahnya tepat dihadapan Jordan yang tengah duduk di sofa.


"Pa, Mama berangkat dulu." Pamit Sinta sembari menyungingkan senyumannya.


"Ma, Pak Hen akan mengantarmu! Aku sengaja tidak memberitahunya jika Mama akan datang menemaninya berbelanja," Cetus Martin sembari tersenyum kecil.


"Tidak masalah nak Martin, Keyla pasti terkejut Mama datang menemaninya! Mama sangat merindukannya," sahut Sinta setelah berpamitan dan dia segera pergi meninggalkan suami dan menantunya di ruang tamu rumahnya.


Pelayan datang membawakan nampan berisikan 2 cangkir kopi pahit pesanan Jordan. Pelayan paruh baya tersebut menyungingkan senyumannya sembari menaruh kopi tersebut di hadapan Martin dan Jordan. "Tuan, apa anda memerlukan yang lain?" Tanya pelayan tersebut sembari menatap kearah Jordan.


"Tidak!" Jawab Jordan singkat. Pelayan tersebut segera pergi dan masuk kembali ke dapur. Wajah Jordan dan Martin terlihat tegang. dan suasana yang sunyi di rumah besar itu seakan menambah kesuraman wajah keduanya mereka berdua sama sama memancarkan hawa gelap. Menunjukkan betapa seriusnya apa yang akan mereka bicarakan.


Menatap Jordan sembari menyandarkan punggungnya di sofa, "Ada apa dengan Jeni? Dia bikin ulah lagi?"


"Dia menangis di telvon katanya anak buah nak Martin melarangnya masuk kedalam bandara!" Sahut Jordan dengan mimik wajah kelihatan bersedih. Tentu saja dia sangat sedih karna sudah berbulan-bulan lamanya Jeni tinggal diluar kota, bahkan dia tak bisa melihat senyum anak sulungnya itu, Jeni memang sering mengurus bisnis keluar kota namun ini kali pertama Jeni meniggalkan rumah berbulan-bulan lamanya.


Bicara sembari menyeruput kopi yang ada dihadapannya, "Beberapa waktu yang lalu aku pergi ke kota C. untuk mengurus bisnis, dan aku sengaja mampir kerumah Jeni! Aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Tapi Jeni tak bisa menerimanya!" sahut Martin apa adanya sembari menaruh kembali gelas yang sedang dia pegang di atas meja.


Memasang wajah serius, "Apakah anda benar-benar mencintai Keyla?" tanya Jordan dengan mengerutkan dahinya.


Jordan sangatlah bahagia mendengar apa yang Martin ucapkan! Tapi di sisi lain dia sangatlah bersedih karna Jeni juga sangat mencintai Martin, bahkan yang lebih membuat hatinya hancur ialah Keyla dan Jeni mencinta pria yang sama. Jordan memejamkan matanya rasa ngeri dan sedih terpancar dari raut wajahnya dia tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Keyla dan Jeni mengetahui akan hal ini. apakah Jeni akan melupakan cintanya pada Martin jika mengetahui pria yang dia cintai telah menikah dengan adik kesayangannya atau justru sebaliknya Jeni akan berusaha merebut Martin dari adiknya.


Kata kata itu seakan melayang layang didalam benaknya, Jordan menelan kasar Saliva nya yang terasa getir itu.


"Lalu bagaimana jika Key tau? Karna tidak mungkin Jeni tinggal di sana selamanya?" Tanya Jordan karna pria paruh baya itu tau semua keputusan ada ditangan Martin.


"Dia akan kembali setelah usia pernikahanku dengan Key berusia 1 tahun! Mungkin disaat itu Jeni sudah menemukan pria yang lebih pantas untuknya." ucap Martin sembari menyilangkan kakinya.


_ _ _ _


Sinta sudah berdiri didepan toko tempat anaknya itu berbelanja, matanya menyapu kedalam toko tersebut dilihatnya para pelayan sedang sibuk menunjukkan baju terbaik yang ada didalam tokonya, namun Keyla hanya diam tak mengubris sedikitpun Ucapan para pelayan itu Keyla hanya duduk sembari memainkan game yang ada didalam ponselnya. Mood Keyla langsung berantakan saat Martin pergi meninggalkannya. Sinta tersenyum kecil melihat wajah cemberut anaknya itu, dia segera berjalan memasuki toko tersebut dan menyuruh semua pelayan tidak memberitahukan kedatangannya.


Semua pelayan itu hanya diam, dan Sinta memilihkan satu baju berwarna pink yang ada di gantungan toko itu, dia berjalan menghampiri putrinya yang masih duduk sembari menundukkan kepalanya, semua pelayan mengeser posisinya berdiri dan memberikan jalan untuk Sinta lewat, "Apakah anda menyukai baju ini nona?" ucap Sinta berpura pura menjadi pelayan toko tersebut.


Sontak Keyla kaget saat mendengar suara yang sejak lama telah dia rindukan selama ini, Keyla segera mengangkat wajahnya dan dilihatnya orang yang sangat dia rindukan kini sedang berdiri didepannya, Keyla tersenyum kegirangan sembari langsung berdiri dengan kasar dari posisi duduknya, "Mama. . ! Aku sangat merindukanmu." ucapnya berteriak membuat kegaduhan didalam toko tersebut. "bagaimana kau tau aku ada disini, Ma?" ucapnya sembari mengecup pipi Sinta dan memeluknya dengan sangat erat.


Menepuk pelan punggung Keyla, "Sayang kau sudah menikah, jaga sikapmu!" ucap Sinta lirih sembari melepaskan pelukan anaknya. Sinta balik mencium pipi anak manjanya itu.


"Suamimu yang menyuruh Mama datang untuk menemanimu berbelanja." imbuh Sinta sembari berjalan memilihkan baju untuk anak bungsunya itu. Keyla mengandeng lengan Sinta sembari mengikuti langkah Mamanya mencari baju untuk dia beli.


"Iya kak Martin ada urusan mendadak Ma," celetuk Keyla. Sinta hanya diam dia tak memberitahukan jika Martin datang kerumah menemui Jordan.


Sinta memilihkan beberapa baju untuk Keyla beli, tanpa merasa keberatan Keyla selalu mengiyakan apa yang Mama nya pilihkan untuknya. Sinta sangat tau seperti apa selera Keyla, dan tanpa Keyla ketahui Sinta dengan sengaja memasukkan beberapa helai baju lingerie transparan didalam keranjang belanjaan putrinya itu. Keyla yang sibuk menghabiskan Snack ditangannya itu tak melihat jika Mamanya memilihkan baju yang kurang bahan itu untuknya.


Selesai memilih baju Sinta dan Keyla duduk di sofa yang ada di sudut ruangan itu. Keyla tiduran di sofa sembari menaruh kepalanya di pangkuan Sinta. Keyla menceritakan jika dirinya telah jatuh cinta pada suaminya. Sinta terlihat sangatlah bahagia saat mendengar ala yang diucapkan anaknya itu.


Membelai rambut Keyla yang ada di pangkuannya, "Sayang apakah dia mencintaimu?" Tanya Sinta.


Menarik kepalanya dari pangkuan Sinta dan segera mendudukkan tubuhnya di sofa, "Ma, kak Martin sangat mencintaiku dia bahkan sampai menyuruh koki rumahnya untuk membuatkan ku gula kapas yang banyak ma!" Ucapnya dengan wajah kelihatan sumringah. Namun tak lama kemudian raut wajahnya kelihatan sedih, "Kak Martin orang kaya raya, dan orang nomor satu di kota ini! Lalu kenapa Mama merahasiakannya dariku," ucap Keyla sembari menaruh tangannya diperut.


Keyla merasa geram karna kedua orangtuanya dengan sengaja merahasiakan identitas suaminya dan membuat Keyla seakan menjadi orang paling bodoh yang ada di kota itu.


Membelai rambut Keyla dengan lembut, "Sayang, nak Martin sendiri yang menginginkannya!" sahut Sinta.


Membuang pandangannya, "Mama, dan Papa sekongkol untuk membohongiku kan!" Jawab Keyla dengan nada sangat jutek.


"Aku yang menyuruhnya! Jika mau marah, marah saja padaku!"


SELESAI BACA JANGAN LUPA VOTE YANG BANYAK YA ☺️☺️☺️


TINGALKAN LIKE DAN KOMENTAR AGAR SAYA LEBIH SEMAKIN SEMANGAT LAGI UNTUK UPDATE TERATUR ☺️☺️☺️ SAYA SANGAT MENGHARGAI SETIAP KOMENTAR PARA READERS SEMUA.


BERIKAN KRITIK DAN JUGA SARAN SUPAYA SAYA BISA MEMBUAT NOVEL YANG LEBIH BAGUS LAGI. SELAMA KRITIK DAN JUGA SARAN MASIH DALAM BATAS WAJAR DAN SOPAN MAKA SAYA SANGAT MENGAPRESIASI 😊😊😊


KLIK FOTO PROFIL SAYA DAN IKUTI AKUN MANGATOON SAYA, SERTA IKUTI SETIAP KARYA SAYA TERIMAKASIH.


SALAM HANGAT ( KHAIRIN NISA)