Di Paksa Menikahi CEO

Di Paksa Menikahi CEO
Dikerjain Mama.


Martin tiba tiba muncul dari belakang dan mengagetkan Keyla dan Sinta! Keyla dan Sinta segera memutar kepalanya ke asal suara tersebut dilihatnya Martin tersenyum sembari berjalan mendekati mereka yang masih duduk di sofa.


Kenapa dia selalu datang dan pergi seenaknya saja! Bahkan dia juga selalu datang disaat yang tepat, apakah dia ini jelmaan hantu mangkanya bisa kemana saja dalam waktu sekejap.


"Kak, panjang umur ya, baru aku bicarakan dengan Mama sudah nongol saja!" Ucap Keyla sembari beranjak berdiri dari posisi duduknya dan Sinta pun ikut berdiri.


Menginjak kaki Keyla pelan, "Jaga bicaramu Key! Dia suamimu," ucap Sinta karna merasa jengkel dengan sikap Keyla yang kurang sopan.


Menatap Sinta, "Benarkah Ma! Kok aku baru ingat ya," ucap Keyla sembari mengigit lidahnya pelan. Menandakan jika dia hanya bercanda.


Sinta mengangkat tangannya hendak mencubit pipi Keyla namun Martin segera menarik lengan Keyla dan menjauhkan istrinya itu dari cubitan Mertuanya.


Huh! Berani sekali dia mau mencubit istriku! Walaupun aku tau kamu adalah orangtuanya tapi aku sekarang suaminya jadi jangan bertindak seenaknya Ma! Gerutu Martin dalam hati sembari tersenyum kecil.


Pria itu sungguh berlebih, jangankan Manusia semut saja tidak boleh menyentuh istrinya entah sejak kapan dia berubah semakin cemburuan seperti itu. Bahkan orang lain yang melihatnya pasti heran kenapa CEO sepertinya bisa memilih sifat yang bisa membuat orang geli jika melihatnya.


memeluk pundak Keyla, sembari menatap kearah Sinta, "Ma, apakah sudah selesai belanjanya?"


"Sudah selesai, ayo kita pulang." Ajak Sinta, tapi Martin masih tak bergeming dari posisinya berdiri.


"Mama sudah belanja?" Tanya Martin yang curiga jika Sinta hanya memilihkan baju untuk Keyla.


Tersenyum sembari menatap kearah Martin, "Mama tidak perlu Belanja! Mama hanya menemani Keyla saja." ucap Sinta. Sebenarnya dia ingin belanja tali karna keuangan keluarganya mulai stabil jadi dia harus rajin rajin berhemat.


Martin menyatuhkan alisnya saat mendengar apa yang Sinta ucapkan. Dan Martin melihat kearah pelayan yang masih berbaris ditengah ruangan tersebut. "Bungkus semua baju model terbaru dan kirim kekediaman Jordan Hans!" Perintah Martin.


Pria itu sangat kaya hingga dia bisa membeli apapun yang dia inginkan tapi dia tak menyadari jika tingkahnya itu sangat berlebihan dan membuat orang lain bisa saja merasa terganggu dengan sikap arogannya itu. Tapi Martin tak pernah perduli dengan apa yang orang bicara karna kata katanya adalah titah di kota tersebut. Wajah Keyla terlihat sangat jutek setelah mendengar apa yang suaminya ucapkan. sedangkan Sinta tak kalah kagetnya namun dia hanya diam tak berani menolak pemberian dari menantunya itu. Karna takut Martin tersinggung dan malah panjang kali lebar nanti urusannya. Karna sultan mah bebas.


Para pelayan toko itu segera berjejer di pintu masuk toko tersebut, mereka segera membungkukkan badannya saat Martin hendak berjalan melewati mereka. Martin, Keyla dan Sinta sudah ada didepan toko mereka berjalan beriringan Keyla mengandeng tangan Sinta dengan sangat erat karna dia masih merindukan Mamanya. Namun Sinta segera melepaskan pelan gengaman anaknya itu.


"Sayang, ada barang yang ketinggalan di toko tadi," Ucap Sinta berbohong.


Ketika Sinta hendak berbalik tangannya segera digenggam oleh Keyla, "Ma, aku ikut ya?" ucap Keyla, namun Sinta menolaknya dan menyuruhnya keluar lebih dulu dari mall. Dengan berat hati Keyla segera mengiyakan keinginan orangtuanya itu.


_ _ _ _


Didalam mall.


Setelah Martin dan Keyla pergi, Sinta segera berjalan menghampiri para pelayan toko yang masih sibuk mengemas baju yang harus di kirim kekediaman ya.


Pelayan yang berdiri didepan Sinta segera membungkukkan badannya dihadapan Sinta, "Ada apa nyonya? Ada yang perlu saya bantu?" tanya pelayan toko tersebut sembari menyungingkan senyumannya.


"Ini Nyonya!" ucapnya sembari kembali membungkukkan badannya.


Sinta menerima paper bag itu dan segera berjalan keluar mall. Dilihat Martin sudah ada didalam mobil dengan Keyla, Sinta segera menghampirinya dan memberikan paper bag tersebut pada Keyla.


"Sayang ini harus di pakai nanti malam ya!" Ucap Sinta sembari memberikan paper bag itu ke tangan Keyla, namun ketika Keyla hendak membukanya segera dihentikan oleh Sinta.


"Sayang lebih baik dibuka dirumah saja ya!" Ucap Sinta sembari menyungingkan senyumannya. Keyla pun mengiyakan Ucapan Sinta.


"Ma, ayo sini duduk bersamaku!" Ajak Keyla sembari menepuk ruang kosong disampingnya. Sedangkan Martin hanya diam dan sibuk memainkan ponselnya.


Membelai lembut rambut Keyla, "Sayang, Mama sudah di jemput Pak Hari!" ucap Sinta sembari menyungingkan senyumannya. Keyla membalasnya dengan tersenyum kecut karna merasa kecewa dengan penolakan Sinta.


Setelah Keyla dan Martin berpamitan, mobil yang dikemudikan Pak Hendro segera melaku pelan keluar dari halaman mall tersebut. Ditengah jalan Martin yang penasaran dengan isi dari paper bag itupun segera mengambilnya dari tangan Keyla.


"Biar aku lihat apa isinya!" Cetus Martin sembari mengambil paksa paper bag yang Keyla pegang. Kini paper bag itu sudah berpindah ke tangan Martin.


Menjatuhkan alisnya, "Kak! Kembalikan padaku, kata Mama disuruh dibuka di rumah." Ucapnya sembari hendak mengambil balik paper bag itu namun tangannya segera ditepis pelan oleh Martin.


Menyembunyikan paper bag itu di dekat jendela, "Yang gak boleh lihat kan kamu! Buka aku," ucap Martin sembari tersenyum devil.


Mendengus kesal, "Terserahlah!" Ucapnya singkat sembari bibirnya mengerucut. sangat terlihat jika Keyla sedang jutek. Martin hanya diam karna dia sangat penasaran dengan isi paper bag itu.


Martin segera membuka isi dari paper bag itu, dia tak mengeluarkan isi paper bag itu tapi dia sudah tau dari modelnya saja. Terlihat senyuman devil dibibir manisnya.


Keyla hanya meliriknya dan segera mengalihkan pandangannya menatap kearah jalanan, Keyla sangat penasaran dengan isi paper bag itu tapi dia lebih memilih menuruti kata-kata yang Sinta ucapkan, dan dia menahan rasa penasarannya dalam hati.


Martin masih tersenyum sembari melihat isi paper bag itu. Pak Hendro meliriknya dari kaca spion, "Apa yang sedang kamu lihat Tuan, jika aku tidak salah mengartikannya, kau sedang tersenyum mesum!" gumam Pak Hendro dalam hati.


SELESAI BACA JANGAN LUPA VOTE YANG BANYAK YA ☺️☺️☺️


SERTA TINGALKAN LIKE DAN JUGA KOMENTAR AGAR SAYA LEBIH SEMAKIN SEMANGAT LAGI UNTUK UPDATE TERATUR ☺️☺️☺️ SETIAP KOMENTAR KALIAN SELALU SAYA SEMPATKAN UNTUK BACA YA, WALAUPUN SAYA TIDAK BISA MEMBALAS SEMUA KOMENTAR PARA READERS.


JANGAN LUPA TINGALKAN KRITIK DAN JUGA SARAN SUPAYA SAYA BISA MEMBUAT NOVEL YANG LEBIH BAGUS LAGI. SELAMA KRITIK DAN JUGA SARAN MASIH DALAM BATAS WAJAR DAN SOPAN MAKA SAYA SANGAT MENGAPRESIASI 😊😊😊


YANG MAU GABUNG DI GRUP WHATSAPP, SILAHKAN TINGALKAN NOMOR PONSEL KALIAN SI EPISODE 97 NANTI AKAN SAYA PC. YANG KEMARIN BELUM BISA MASUK GRUP WHATSAPP HARAP SABAR SAYA MASIH SIBUK YA, TAPI AKAN SEGERA SAYA PC.


SALAM HANGAT (KHAIRIN NISA)