Di Paksa Menikahi CEO

Di Paksa Menikahi CEO
Menghindari ciumannya ~ jeni


Lihatlah itu aku sungguh awalnya mengira jika mata ku sedang bermasalah namun aku menyadari jika ini memanglah nyata. Ternyata rumor yang beredar dimasyarakat memanglah benar jika CEO Martin yang terkenal playboy dan kejam itu ternyata tunduk dengan keinginan istri kecilnya.


Begitu kira-kira arti dari wajah heran yang para perkerja itu tunjukkan.


Kelembutan yang tadi Martin tunjukkan pada istrinya itu dengan sekejap mulai sirna dia kembali memasang wajah yang menakutkan dan membuat orang yang sedang berada didalam ruangan rapat itu kembali memasang wajah waspada. Mereka sadar betul jika Martin akan kembali marah dan memaki mereka habis-habisan.


_ _ _ _


Keyla segera pergi menghampiri Resni di lobby, dan Keyla mengajak Resni masuk kedalam kamarnya yang ada didalam ruangan Presdir itu. Sedangkan semua perkerja yang mereka lewati tadi hanya bisa melihat dua sahabat yang masih bertingkah layaknya remaja itu, mereka bersenda gurau sambil berjalan bergandengan tangan dan tak memperdulikan semua mata yang menatap mereka.


Semua perkerja wanita menatap Keyla dengan wajah iri. Ya mereka memang pantas iri pada Isti CEO itu karna Keyla tak harus memakai baju seksi ataupun harus memakai makeup yang begitu tebal untuk meluluhkan hati Martin. Karna sikap polos dan penampilannya yang natural lah yang justru membuatnya berbeda dan membuat martin jatuh hati padanya.


"Waw! Key, ruangan ini sangatlah bagus dan seperti kamar mu kan," Celetuk Resni sembari memutar pelan badannya mengamati setiap sudut kamar itu. Dia sangatlah kagum pada Martin yang mengetahui secara detail apa yang Keyla sukai.


Haha tentu saja itu bukan Martin yang menyiapkan melainkan Pak Hen lah yang berusaha paya menyiapkan kamar tersebut dari hal yang paling kecil sekalipun tak akan luput dari pengetahuannya. Karna Martin sangat tidak menyukai kecerobohan sekecil apapun.


"Jangan berlebih Res!" Balas Keyla sembari menjatuhkan tubuhnya pelan di sofa yang ada dibawah ranjangnya.


"Key, apakah kamu habis menangis?" Tanya Resni sembari mengamati mata Keyla yang terlihat masih basah dan Keyla pun menceritakan apa yang terjadi di ruangan meeting tadi.


"Benarkah yang kau bilang key? Jangan bercanda!" Tanya Resni mencoba memperjelas apa yang dia dengar tadi.


"Lihatlah tidak kenak." Ujar Resni sembari menjulurkan lidahnya. Mencoba menggoda Keyla. Namum Keyla malah membuang mukanya mencoba tak perduli.


_ _ _ _


Les Petites Fleches Club.


Itu adalah nama salah satu Club di kota Paris yang akhir-akhir ini sering dikunjungi oleh Jeni dan Dikra. Sejak pertemuan mereka beberapa waktu yang lalu di mall mereka semakin dekat dan sering jalan bersama seolah-olah mereka sedang memperbaiki hubungan mereka yang sempat terhenti beberapa tahun yang lalu.


Jeni sedang duduk di bartender yang ada di tengah-tengah Club itu bersama dengan Dikra disamping ya. Ruangan itu sangatlah berisik dengan alunan musik yang begitu keras yang bisa membuat orang yang berada didalamnya melupakan semua beban hidup mereka. dilengkapi dengan cahaya lampu remang-remang yang berwarna-warni menambah suasana happy para pengunjung Club malam itu


Ruangan itu dipenuhi bau alkohol yang begitu memanjakan Indra penciuman orang yang sedang menikmatinya. Jeni dan Dikra terlihat menikmati alunan musik yang sedang dimainkan oleh DJ wanita yang memakai baju sangatlah minim dan seksi sungguh membuat para pria lajang tak bisa melepaskan pandangannya dari DJ cantik itu.


"Kapan kamu akan membawaku kembali ke Irlandia?" Tanya Jeni sembari meneguk Wiski yang ada didalam cawan nya. Jeni menghabiskan minuman itu dengan satu kali tegukan saja, dan dengan sekejap gelas itu kosong. Setelah melihat isyarat tangan Dikra, waiters itu segera mengisi kembali Wiski kedalam gelas yang ada dihadapan Jeni.


"Sabar sayang aku akan membawamu kesana jika para bodyguard itu sedikit saja memberikan cela." Jawab Dikra sembari hendak mengecup bibir Jeni, namun Jeni segera membuang pandangannya.


Mungkin Jeni masih marah pada Dikra tentang apa yang terjadi di masa lalu, hingga Jeni menolak ciuman orang yang hampir menjadi calon suaminya itu. Namun Dikra tak marah Jeni menolak diciumnya, Dikra hanya sedikit kecewa saja tapi dia masih bersyukur karna Jeni masih mau berhubungan baik dengannya dan Dikra berharap Jeni bisa menerimanya lagi seperti di masa lalu mungkin itu terdengar terlalu egois jika dilihat dari masa lalu Dikra yang meninggalkan Jeni begitu saja.