Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Emergency


Ruang emergency sebuah rumah sakit.


Gareth memberhentikan mobilnya tepat di depa tempat itu. Kemudian keluar dan membuka pintu tengah. Para petugas medis yang berjaga langsung mendekat dan membantu Gareth mengeluarkan Rianti.


Saat itu Rianti sejatinya telah terbangun dari pingsan, namun penglihatan gadis itu masih samar-samar. Tetapi ia bisa mengenali Gareth, meski kepalanya cukup terasa pusing dan agak berputar-putar.


"Tolong bantu dia, dia terkena lemparan batu pengunjuk rasa." ujar Gareth pada petugas medis.


Tak lama gadis itu pun dibawa dan ditangani di dalam. Sementara di lain pihak Amanda diberitahu pak Darwis jika hari ini jalan yang biasa mereka lalui, telah ditutup. Mereka akhirnya memilih jalur lain untuk mencapai kantor.


"Lewat sini nggak apa-apa ya, bu?" tanya pak Darwis ketika mereka tiba disebuah jalan.


"Iya nggak apa-apa, tapi agak ngebut sedikit ya pak. Soalnya saya ada rapat penting pagi ini." ucap Amanda.


"Oh iya bu, baik." Supir itu lalu menaikkan kecepatan.


***


"Ka."


Nino menelpon Arka.


"Kenapa, Nin?" tanya Arka kemudian.


"Lo bisa balik bentar kan, pas Ansel lamaran nanti?" Nino balik bertanya.


"Bisa-bisa. Udah ngomong juga koq gue sama sutradara." ucap Arka kemudian.


"Oh ya udah, bagus deh kalau gitu. Soalnya keluarga kita juga nggak banyak disini, Ka. Kan lumayan ada yang bawain seserahan." tukas Nino.


"Asu."


Arka mengumpat, sementara Nino kini tertawa.


"Gue pikir membutuhkan gue sebagai saudara seutuhnya. Eh, nggak taunya sebagai tenaga pembawa seserahan." ujarnya lagi.


Keduanya pun lalu tertawa-tawa.


"Ya, apalagi gunanya saudara selain untuk di susahkan." Nino kembali berujar.


Dan lagi-lagi keduanya tertawa.


"Eh tapi semuanya udah siap?" tanya Arka.


"Apanya?. Seserahannya?" Nino balik bertanya.


"Ya seserahannya, semuanya." ucap Arka.


"Kalau seserahannya udah rampung semua. Yang belum siap mungkin mentalnya si Bambang." jawab Nino seraya menyinggung soal Ansel.


"Kenapa lagi dia, takut?" tanya Arka.


"Ya gitu deh, dia nanya mulu ke gue. Ntar di rumah Intan dia harus ngomong apa dan basa-basi kayak apa ke orang tuanya." tukas Nino.


"Terus lo jawab apa?" tanya Arka.


"Ya gue kan belum pernah nikah ya, mana gue tau mesti ngomong apa. Gue bilang aja suruh ngomong apa adanya."


"Terus?" tanya Arka lagi.


"Dia nanya, ngomong yang apa-adanya itu gimana."


Kali ini Arka terbahak.


"Dan lo jawab apa lagi?." tanya nya.


"Gue jawab aja, ya gitu deh."


Kembali mereka berdua tertawa-tawa.


"Gue waktu nikah sama Amanda, nggak ada acara ketemu orang tuanya sih. Ketemu om-nya doang." ujar Arka.


"Dan ke omnya pun nggak banyak basa-basi." tukasnya lagi.


"Pokoknya ntar kita liat aja, gimana prosesi lamaran itu nantinya." ucap Nino.


"Gue mau belajar tahan tawa dulu." ucap Arka.


"Siapa tau si Ansel malah lawak nanti di rumahnya Intan. Mau ketawa, takut dikira nggak sopan." ujarnya lagi.


"Bisa jadi." Nino berujar sambil tertawa.


Lalu mereka pun lanjut berbincang selama beberapa saat ke depan.


***


Amanda tiba di kantor agak telat, namun ia tak menemukan Rianti di bagian resepsionis. Hanya ada Irma rekan satu profesinya.


"Ir, Rianti mana?" tanya Amanda.


"Belum datang, bu." jawab Irma pada bosnya itu.


"Jam segini dia belum datang?" tanya Amanda lagi.


"Iya, bu. Tadi udah saya chat, tapi nggak di read. Saya telpon juga nggak diangkat." tukas Irma.


"Ah, nggak koq bu. Orang tadi pagi dia bilang udah mau berangkat." ujar Irma lagi.


"Kemana ya tuh anak?" tanya Amanda sambil bergumam.


"Kurang tau, bu." jawab Irma.


"Ya sudah, kalau dia sudah sampai suruh menghadap saya." ucap Amanda lagi.


"Baik, bu." Lagi-lagi Irma menjawab. Amanda lalu berjalan ke arah lift dan masuk ke sana.


Sementara di rumah sakit, dokter telah selesai menangani Rianti. Gareth mendekat dan dokter itu pun berbicara padanya.


"Pasien sudah baik-baik saja sekarang, pak." ujar dokter itu.


"Apa perlu dirawat inap, dok?" tanya Gareth.


"Saya rasa tidak perlu. Hanya butuh istirahat saja selama satu atau dua hari." ucap dokter itu lagi.


"Baik, kalau begitu terima kasih." ujar Gareth.


"Sama-sama."


Dokter tersebut berlalu, kini Gareth mendekat pada Rianti. Rianti sendiri heran, pria arogan itu ternyata juga bisa menolong orang.


"Are you ok?" tanya Gareth padanya.


Rianti mengangguk, namun agak takut-takut menatap mata Gareth.


"Ya sudah, saya urus administrasi dulu." ucap Gareth."


Pria itu kemudian berlalu.


"Ti, kamu dimana?" tanya Amanda pada saudara iparnya tersebut.


Rianti yang menyadari jika ia harus pergi ke kantor pun buru-buru menjawab.


"Mbak, Rianti tadi lewat tempat banyak orang yang lagi unjuk rasa. Rianti dilempar batu dan kena pelipis."


Amanda membaca pesan tersebut dan ia kaget. Tak lama ia pun menelpon Rianti.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Amanda panik.


"Sekarang dimana?" tanya nya lagi.


"Luka sih mbak, tapi udah nggak apa-apa. Sekarang Rianti di rumah sakit. Rianti di tolong sama pak Gareth."


"Gareth?"


"Iya, Gareth partner bisnisnya mbak Amanda." tegas Rianti lagi.


"Oh kamu ketemu dia?"


"Iya mbak, ini pak Gareth lagi urus administrasi."


"Ya udah, mbak mau telpon Gareth dulu. Tapi beneran kamu udah nggak apa-apa?. Kalau butuh rawat inap, rawat aja Ti. Kantor yang nanggung." ujar Amanda.


"Nggak mbak, paling Rianti mau izin pulang aja nanti." tukas Rianti.


"Yakin?" tanya Amanda.


"Yakin, mbak."


"Ya sudah, kalau begitu. Nanti sore mbak ke rumah ibu. Sekarang mbak mau ngomong dulu sama Gareth."


"Iya mbak." jawab Rianti.


Amanda lalu menyudahi telpon tersebut dan beralih menghubungi Gareth. Saat itu Gareth tengah mengantri untuk menyelesaikan administrasi.


"Halo, Gar."


"Amanda."


"Gar, kamu yang nolongin Rianti?"


"Iya, tadi nggak sengaja ketemu." jawab Gareth.


"Ya ampun, makasih banyak ya. Nanti aku ganti berapa biayanya." ucap Amanda.


"Nggak usah, man. Aku memang niat membantu koq." ucap Gareth.


"Keadaan Rianti-nya gimana sekarang?. Tadi sih dia bilang baik-baik aja ke aku. Tapi aku takut dia bohong." ucap Amanda.


"Dia udah baik-baik aja sekarang. Tadi juga udah aku tawarkan untuk rawat inap. Tapi dia minta pulang aja." jawab Gareth.


"Ya sudah kalau begitu. Sekali lagi terima kasih banyak ya, Gar."


"Iya Amanda, sama-sama."


Amanda lalu menyudahi panggilan telpon tersebut. Ia kini menelpon pak Darwis dan menyuruh supirnya itu untuk menjemput dan mengantar Rianti kembali ke rumah.


"Iya bu, saya segera kesana." ucap pak Darwis kemudian.