
"Ver."
"Man?. Kamu udah lama disini?" tanya Vera pada Amanda.
Terlihat perempuan itu agak sedikit kikuk, seperti ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan.
"Sekitar lima belas menit." jawab Amanda.
"Kamu koq datang mendadak, ada apa?" tanya Vera lagi.
"Kamu nggak baca pesan aku?" Amanda balik bertanya. Vera diam sejenak kemudian menjawab.
"Beberapa hari ini aku emang nggak terlalu ngeliat Handphone. Dan lagi tadi juga ketinggalan di rumah." ucap wanita itu.
Amanda menarik nafas, bukan ranahnya untuk menekan sang ibu tiri lebih lanjut. Meski ia amat sangat curiga dengan alasan janggal yang dikemukakan oleh wanita itu barusan. Lagipula tujuannya kesini adalah demi Amman.
"Papa masuk rumah sakit, Ver." ujar Amanda kemudian.
"Hah?"
Vera benar-benar kaget mendengar hal tersebut dan terlihat tak dibuat-buat.
"Masuk rumah sakit kenapa, dimana, dan kapan?" tanya nya dengan nada panik.
Lagi-lagi Amanda menghela nafas, lalu ia menceritakan kronologi kejadian yang menimpa Amman. Serta dimana ayahnya itu kini berada.
"Astaga."
Vera mencoba mengatur nafas. Sebab kepanikan telah membuat jantung dan paru-paru wanita itu berpacu lebih cepat.
Dan pada menit-menit berikutnya mereka pun mulai terlihat bergegas meninggalkan kantor.
Ketika tiba di rumah sakit, Vera berlarian ke kamar Amman dan langsung menghambur ke arah pria itu.
Tampak ia kemudian menangis disana. Sementara Amanda ada di luar, menatap dari kaca bersama Nino. Kebetulan Nino memang telah berada di sana sejak tadi.
"Man."
"Ya?"
"Aku mau pulang dulu sebentar." ujar Nino.
"Agak lama juga nggak apa-apa, Nin. Baiknya Istirahat dulu. Kamu dari kemarin disini, dan pasti kurang istirahat." tukas Amanda.
"Papa gimana kalau aku pulangnya lama?. Kan kamu juga pasti pulang ke rumah nantinya." ujar Nino.
"Ntar aku bisa suruh salah satu maid buat jagain papa. Kamu istirahat aja, nggak usah di pikirkan semua." tukas Amanda lagi.
"Yakin?" tanya Nino pada saudara perempuannya tersebut.
Amanda mengangguk.
"Kan ada aku, ada Vera juga." ucap Amanda
Nino lalu menghela nafas dan menyetujui semua itu. Meski ia terasa agak berat meninggalkan Amman dalam kondisi yang demikian.
"Ya udah kalau gitu, aku jalan dulu."
Amanda mengangguk, Nino memeluk dan mencium saudaranya itu. Kemudian ia juga berpamitan dengan Vera, lalu beranjak.
"Hati-hati di jalan." ucap Amanda pada Nino.
"Iya, kalau ada apa-apa segera kabari." ujar Nino.
Amanda mengangguk. Kemudian Nino benar-benar melangkah menjauh, meninggalkan tempat itu
***
Di lokasi syuting.
Arka yang baru selesai take adegan, menerima pesan broadcast dari mbak Arni di dalam grup manajemen. Hal yang sama juga terjadi pada Rio dan para anggota grup lainnya.
Dalam pesan berantai tersebut mbak Arni mengabarkan jika pak Jeremy mendadak tak sadarkan diri di kantor, dan saat ini ia tengah dilarikan ke rumah sakit terdekat.
"Gue yakin pak Jeremy pasti kepikiran masalah istrinya." Rio berspekulasi.
Arka diam namun membenarkan perkataan sahabatnya tersebut dalam hati. Sebab pak Jeremy sendiri adalah tipikal pria yang percaya utuh kepada istrinya.
Kini tiba-tiba ia di khianati. Jelas ia kepikiran dan mungkin tak bisa mengontrol apa yang berkecamuk di dalam benak dan batinnya sendiri.
"Untung gue nggak kenal baik sama istrinya." ucap Rio sekali lagi.
"Kalau itu sampe dilakukan oleh orang yang gue kenal. Kayak si Firman misalnya. Bakalan gue bejek tuh perempuan ke ulekan sambel." lanjut pemuda itu.
Arka mengambil sebatang rokok, lalu membakarnya.
"Menurut lo, Amanda bakal kayak gitu nggak ya Ri?" tanya nya kemudian.
Secara tiba-tiba ia mempunyai pikiran seperti itu. Sebab kejadian perselingkuhan bisa menimpa rumah tangga siapa saja. Baik itu dilakukan pihak laki-laki maupun perempuan.
"Bukan gue mau nakutin atau apa. Di dekat orang sukses kayak bini lo itu, banyak cowok-cowok yang ngarep untuk mendapatkan dia." lanjutnya kemudian.
"Jangan sampai kecolongan." tambahnya lagi.
Arka terus menghisap batang rokok miliknya dan menghembuskan asap ke udara. Perkataan Rio barusan membuat ia benar-benar merasa jika dirinya harus waspada.
Apalagi di sekitar Amanda, banyak pengusaha yang suksesnya tak main-main. Rata-rata dari mereka pun good looking dan memiliki pesonanya tersendiri.
***
Amman bergerak dan terbangun. Ia mendapati Vera yang tengah berada disampingnya sambil menangis. Pria tua itu kemudian berusaha mengangkat tangan dan menghapus air mata yang mengalir di kedua sudut pipi istrinya tersebut.
"Kamu gimana keadaannya?. Apa yang kamu rasakan?. Aku panggil dokter dulu ya."
Vera bergegas, namun Amman kemudian mencekal lengan perempuan itu. Vera diam, dan menatap sang suami secara seksama.
"Aku mau peluk kamu dulu." ucap Amman dengan nada yang begitu lemah.
Vera pun akhirnya menuruti, ia memeluk suaminya itu dengan erat.
"Aku kangen Amara." ucap Amman pada sang istri.
Vera mengangguk.
"Amara juga kangen sama kamu. Tapi dia nggak bisa ikut dan di ajak kesini." lanjutnya lagi.
Amman berusaha mengerti keadaan.
"Mungkin nanti aku dan Amanda akan mengusahakan supaya Amara bisa diajak, terus ketemu kamu."
Lagi-lagi Vera berujar.
"Dimana Amanda?" tanya Amman pada istrinya itu. Vera kemudian menoleh ke arah kaca, dan dalam sekejap Amanda sudah berada di dekat sang ayah.
"Pa."
Amanda memeluk Amman dan Amman pun menangis.
"Papa pikir sudah nggak bisa ketemu kalian lagi." ucap Amman dengan mata yang kini mulai basah.
Amanda sendiri turut menetes air matanya.
"Nino mana?" tanya Amman yang sejak tadi tak melihat Nino.
"Dia baru aja pulang beberapa menit yang lalu." ucap Amanda.
"Semalaman dia jaga papa, dan mungkin besok dia akan kesini lagi." lanjutnya kemudian.
Amman coba tersenyum dan kembali memeluk anaknya itu.
"Papa harus sehat, Amara dan kita semua masih butuh papa." ucap Amanda lagi.
Amman mengangguk, meski anggukan tersebut terasa begitu lemah.
***
"Firman, kamu sibuk kah?"
Usai bercakap dengan Rio dan membicarakan perihal perselingkuhan istri pak Jeremy. Arka mengambil handphone dan mengirim pesan singkat pada Amanda.
Meski agak lama, lantaran masih mengurus soal Amman. Pada akhirnya Amanda pun membalas.
"Ini lagi di rumah sakit, Ka. Aku dari jemput Vera buat dibawa ke papa." ujar wanita itu.
"Papa gimana keadaannya?" tanya Arka.
"Udah mendingan, dan udah sepenuhnya sadar juga. Doain ya, Ka."
"Iya sayang, pasti. Aku selalu doain yang terbaik untuk kita semua."
"Kamu masih syuting?" Amanda balik bertanya.
"Ini lagi break dan ngopi. Tapi sambil baca script buat adegan berikutnya." jawab Arka.
"Semangat ya, Ka. Semoga semuanya lancar dan nggak ada hambatan."
"Iya, makasih ya sayang. Maaf aku nggak ada disana dan nggak bisa menemani kamu." ucap Arka.
"Iya, nggak apa-apa. Ada Nino disini yang bantu menghandle beberapa hal."
"Ya udah, kalau ada apa-apa kabarin aku ya." ucap Arka lagi.
"Iya, pasti aku kabari." balas Amanda kemudian.
Mereka pun lanjut berbincang hingga beberapa saat ke depan.