Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Nama Anak


"Nin, kalau lo nikah sama si Min Ji. Nama anak kalian nanti nama lokal, barat atau nama Korea?"


Ansel bertanya pada Nino di suatu pagi. Ketika mereka berangkat bersama menuju kantor masing-masing. Namun Ansel nebeng pada Nino dan meminta diantarkan.


"Pacaran aja belum, udah mikirin nama anak." seloroh Nino.


"Ya rencana aja dulu, kayak gue sama Intan udah punya rencana mau menamai anak kita nantinya pake bahasa apa."


"Emangnya lo mau pake bahasa apa?" tanya Nino.


"Campur-campur aja. Ada bahasa lokalnya, ada baratnya juga." jawab Ansel.


"Contohnya Parjono Moralez gitu?" tanya Nino.


"Ya jangan gitu juga. Kan banyak nama lokal yang agak modern, kayak nama lo kan modern." ujar Ansel.


Nino terkekeh.


"Terus apa dong?" tanya nya lagi.


"Ya apa kek, Lestari, Larasati, Langit, Aditya."


"Kurniawan mau ga?" tanya Nino seraya tertawa.


"Kurniawan?" gumam Ansel.


"Iya." jawab Nino masih sambil tertawa.


Ansel mengambil handphone.


"Gue tanya Intan dulu ya." tukas pria itu.


Maka ia pun lalu menelpon Intan.


"Halo, Luv." ujar Ansel pada calon istrinya itu.


"Ansel apaan sih, jijik tau nggak. Kayak berasa chat sama om-om di aplikasi dating gue. Lav, luv, lav, luv. Biasa aja bisa nggak?"


Ansel ngakak, ia sudah tau jika Intan tak suka dengan kata-kata tersebut. Intan bercerita jika ia pernah berkenalan dengan seseorang memalui aplikasi dating. Tetapi orang tersebut malah membuat Intan illfeel karena terlalu kolot sekaligus sok romantis.


Salah satu kata yang membuat Intan jijik adalah kata-kata tersebut. Sebab selama berkenalan, setiap hari ia selalu menerima pesan via WhatsApp dengan kata yang sama.


"Awas kalau di ulangi lagi." ujar Intan.


Lagi-lagi Ansel tertawa.


"Aku mau nanya nih." ujar pria itu.


"Nanya apa?" Intan balik bertanya.


"Kalau nama anak kita Kurniawan gimana?"


"Hah?"


Intan kaget, sementara Nino tak kuasa menahan tawa. Ansel sendiri kini menjadi bingung. Ia tak tau apa yang salah dengan ucapannya. Sebab ia tak menemukan konotasi lawas terhadap nama itu. Tidak seperti Parjono yang sebelumnya disebutkan oleh Nino.


"Kenapa emangnya?" tanya Ansel heran.


"Namanya jelek ya?" imbuhnya lagi.


"Ya, nggak jelek juga sih. Tapi kan ini tahun berapa, Ansel. Nama itu kayaknya lebih pantas buat generasi kamu atau aku."


"Loh, kenapa?. Di Eropa dari tahun 1600-1800 udah ada nama George atau Mary. Jaman sekarang masih dipake. Lagipula lebih bagus ketimbang Parjono atau Maryoto. Kalau itu baru kayak bapak-bapak vibesnya."


Intan menggaruk-garuk kepalanya. Ia membayangkan memiliki anak laki-laki bernama Kurniawan Moralez. Kemudian saat absen disekolah ia pasti akan berbeda sendiri.


"Jaman sekarang tuh orang udah menggunakan banyak nama modern, Ansel. Kayak nama Arab, Korea, Amerika mungkin. Masa nama anak kita Kurniawan?. Itu mah sama aja kayak Parjono dan Maryoto. Bedanya Kurniawan nggak setua itu. Tapi tetap aja tua kalau dipakai sekarang. Kecuali untuk nama belakang."


"Harusnya kalian tuh mencintai budaya lokal. Liat orang Korea menamai anak pakai nama Korea. Jepang pakai nama Jepang. Thailand dan China pakai nama mereka. Kenapa nama orang disini nggak pakai nama lokal. Karena kita campuran kan bisa dibagi, nama lokal dan juga nama aku."


"Iya, aku mau pake nama lokal. Tapi nggak Kurniawan juga." ujar Intan.


"Terus apa?"


"Apa kek, Raditya, Aksara, Melati, Mawar, Sekali atau apa gitu." ujar Intan lagi.


"Ntar deh, kita bicarakan lagi." ujar Intan.


"Aku tuh mau berangkat kerja sekarang." lanjutnya lagi.


"Oh ya udah, aku juga lagi berangkat nih. Kamu hati-hati di jalan ya."


"Iya." jawab Intan.


"Bye, sayang."


"Bye."


Ansel lalu menyudahi obrolan tersebut, namun ia masih bingung.


"Kenapa sih Nin, sama Kurniawan?" tanya nya penasaran.


"Aduh, ntar dulu deh. Ntar gue jelasin." ujar Nino.


"Gue sakit perut nih ketawa mulu." imbuhnya lagi.


Ansel pun hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya dan menanti jawaban pasti.


***


Hari itu Rianti tak masuk kerja, karena memang ia masih sambil kuliah. Ia kini melangkah di pelataran kampus sambil chat dengan teman satu angkatannya.


"Rianti."


Tiba-tiba seseorang berdiri di muka gadis itu dan dia adalah Alex. Tentu saja Rianti kaget, sebab tak menyangka suami orang tersebut akan datang.


"Kamu ngapain disini?" tanya Rianti ketus.


"Aku mau bilang kalau aku mencintai kamu. Aku mau kita tetap berhubungan."


"Kamu udah punya istri, aku nggak mau berhubungan sama laki-laki yang sudah menikah."


"Tapi aku cinta sama kamu. Hubungan aku sama istri aku tuh udah lama rusak, dia tuh nggak sopan sama ibu aku, sama keluarga aku."


"Tai kucing!"


Tiba-tiba seseorang muncul dan nyeletuk. Rianti kaget sekali karena ternyata itu adalah Amanda.


"Mbak Amanda?. Mbak koq disini?" tanya Rianti kemudian.


Amanda tak menjawab Rianti. Matanya kini fokus menatap Alex dan ia melangkah mendekati pria itu.


"Rata-rata semua laki-laki yang selingkuh itu kayak gini, Ti. Menjelekkan istrinya di depan selingkuhan. Sampe rumah biasanya beda lagi. Jangan mau di kasih iming-iming cinta sama orang yang ngurus rumah tangganya aja nggak becus."


"Anda siapa?" tanya Alex pada Amanda dengan nada seperti marah.


"Saya kakak iparnya dia, sekaligus bosnya di kantor." jawab Amanda.


"Saya sudah mengetahui semua tentang anda melalui suami saya. Saat ini suami saya sedang g di luar kota. Kalau dia ada disini, dia nggak akan membiarkan anda."


"Ini adalah urusan kami, Rianti sudah dewasa dan berhak memilih."


"Kamu mau, Ti. Dimanipulasi sama laki-laki yang modelnya kayak begini?" tanya Amanda pada Rianti.


"Nggak mau, mbak. Rianti nggak mau nikah sama orang yang punya istri."


"Denger sendiri kan?" ujar Amanda pada Alex. Barus aja Alex hendak menjawab, Amanda sudah kembali berkata.


"Kalau istri tidak akur dengan keluarga itu, dicarikan solusi. Di pertemukan, didamaikan, dididik. Bukan menjelek-jelekkannya di depan perempuan lain. Selingkuh itu nggak usah banyak alasan, karena tidak ada yang namanya benar ketika seseorang mengkhianati rumah tangganya sendiri."


Alex terdiam seketika, apalagi kini ada beberapa mahasiswa yang terdiri dari teman Rianti. Mereka tampak mendekat dan bertanya-tanya dalam hati perihal apa yang terjadi. Alex kemudian berlalu, Rianti didekati teman-temannya.


"Ada apa, Ti?" tanya teman-temannya itu.


Rianti hanya menatap mereka, tak lama mereka pun berjalan menuju ke pintu lobi. Sedang Amanda kembali ke mobilnya, untuk kemudian berangkat ke kantor.


Tadi sejatinya ia ingin langsung pergi kesana. Namun melintas di depan kampus ini, ia melihat Rianti yang baru turun dari ojek online. Ia kemudian tergerak untuk mengikuti, tanpa sebab. Ternyata ia dipertemukan dengan Alex.