Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Pesta Lanjutan


"Happy birthday."


Amanda beserta Josephine berhasil membuat kejutan bagi Velia. Velia sendiri menangis haru dan berterima kasih. Usai meniup lilin serta berdoa, Velia menyampaikan harapan kedepannya.


"Gue pengen nikah." tukas Velia sambil tertawa.


Dan hal tersebut mendadak mengingatkan Amanda pada keluarganya. Yakni Arka, Azka dan Afka. Suami serta anak-anak yang ia cintai.


"Koq lo tiba-tiba berpikir ke arah situ?" tanya Josephine.


"Bukannya sebelum-sebelum itu lo nggak mau." lanjutnya kemudian.


Velia tersenyum.


"Gue pengen bahagia kayak Amanda dan keluarga kecilnya." tukas perempuan itu.


"Degh."


Lagi-lagi batin Amanda terusik. Velia bahkan tak tau apa yang saat ini tengah Amanda dan suaminya hadapi.


Ia belum paham jika pernikahan tak sesederhana yang ia pikirkan. Tak setiap hari kita merasakan bahagia. Ada kalanya kita down serta merasa bosan atas apa yang kita jalani.


"Oke deh, semoga apapun itu. Harapan lo bisa segera terwujud." ucap Josephine.


"Thanks ya, semoga gue dapat suami yang kayak Arka." ujar Velia lagi.


Amanda hanya mencoba tersenyum dengan perasaan yang campur aduk.


"Ya udah, lanjut." ucap Josephine kemudian.


Mereka akhirnya sama-sama melanjutkan pesta tersebut.


***


"Widih, Arka my man."


Dion yang baru tiba tampak antusias, ketika bertemu dengan Arka di table.


"Akhirnya bisa ikut juga lo." ujarnya lagi.


Arka hanya tersenyum, lalu menyodorkan minuman pada Dion. Dion pun minum lalu mereka berbicara satu sama lain.


Malam beranjak naik, musik mulai gegap gempita mewarnai seluruh ruangan. Arka sudah minum cukup banyak, namun di room Amanda masih menahan diri. Ia khawatir tak bisa memberikan ASI pada anaknya.


"Lo koq nggak minum, Man?" tanya Josephine.


"Minum dong beb." Desi memaksa.


"Anak gue masih ASI." tukas Amanda.


"Ih nggak apa-apa kali, abis minum lo cuma butuh waktu dua jam buat menghilangkan alkohol itu. Setelahnya lo boleh menyusui lagi." ucap Desi.


Amanda yang penasaran akan hal tersebut, kini membuka google. Ternyata benar apa yang dikatakan Desi.


Bahwa ibu yang meminum alkohol harus menunggu dulu sekitar 2-3 jam saja, untuk bisa memberikan ASI kembali.


Sementara Amanda baru mengirim stok ASI yang banyak tadi. Dan itu cukup untuk dua hari, bila disimpan di lemari es.


Amanda berpikir, sepertinya tak apa jika ia meminum sedikit alkohol. Toh ia baru akan memberikan ASI dua hari lagi.


Ia lanjut membaca artikel tersebut. Dibawahnya tertulis meski telah menunggu lama, resiko alkohol akan masuk ke dalam ASI masih ada. Mendadak Amanda jadi ragu kembali.


Namun minuman dan kebebasan itu memanggil-manggil. Akhirnya Amanda menyerah dan mulai menenggak satu gelas sloki.


***


"Ka, udah yuk pulang!"


Rio teringat perkataan sang ayah, yang harus membawa Arka pulang sebelum pagi.


Sebab kata ayahnya, Arka sudah berumah tangga. Ia tak bisa sebebas dulu saat dirinya masih berstatus lajang. Meski saat ini Arka tengah menjalani masa single berjangka, namun sebagai teman Rio harus mengingatkan.


"Ntar aja, bro. Baru jam berapa." ucap Arka.


"Iya tapi kan lo udah bukan single lagi." ujar Rio.


"Single dong saat ini."


Arka kembali menuang minuman ke dalam gelas dan mereguknya hingga habis.


"Cukup napa, minum mulu lo." Rio memarahi Arka.


"Santai, Ri. Kan gue lagi nggak tinggal sama Amanda dan anak-anak juga." ujar Arka.


"Ya tetap aja, Ka. Jangan mentang-mentang lo lagi bebas, terus bisa seenak jidat. Ntar malah jadi kebiasaan. Alkohol ini jelek loh efeknya. Udah paham kan lo rasanya kayak apa." tukas Rio.


"Iya ini sekali lagi deh, abis itu gue berhenti." ujar Arka gusar.


Ia lalu menuang kembali hingga penuh, kemudian mereguknya hingga habis.


***


"Lo kenapa, man?" tanya Josephine pada Amanda. Sementara Velia, Desi dan Elman sudah mabuk berat dan terkapar di sofa.


"Nggak tau, karena udah lama nggak minum kali gue." ujar Amanda.


"Lo mau air mineral?" tanya Josephine.


"Gua mau pulang aja deh kayaknya."


Amanda merasa kondisi tubuhnya sudah tidak memungkinkan lagi. Maka ia pun memutuskan untuk pulang.


"Tapi, apa lo kuat nyetir sendiri?. Nggak mau nelpon supir lo aja?"


"Supir gue pasti udah pulang dan udah tidur jam segini. Karena dari tadi gue nggak ada kasih tau dia mau kemana. Jadi pasti dia nggak available."


"Kalau nggak, lo tunggu dulu deh. Sampai pusing lo ilang minimal. Disini aja dulu, kalau mau tiduran ya tiduran aja di sofa. Kita di room ini, nggak bakal ada yang ganggu juga."


"Nggak deh, Gue mau pulang aja." ujar Amanda memaksa.


"Ya udah, gue anterin ke bawah."


Amanda meraih tasnya, Josephine menemani wanita itu. Sesekali ia memapah tubuh Amanda yang oleng dan nyaris terjatuh di tangga.


Mereka melewati kerumunan. Dan bersusah payah agar sampai di pintu depan.


Di suatu sudut Arka yang telah menyelesaikan minumnya tanpa sengaja melihat ke suatu arah. Dalam cahaya klub yang temaram, ia merasa seperti melihat Amanda.


"Amanda?" gumamnya kemudian.


"Kenapa, Ka?" tanya Rio.


"Gue kayak ngeliat bini gue deh, Ri." ujarnya kemudian.


"Halu kan lo." ujar Rio.


"Makanya kalau gue bilang jangan minum banyak itu, ya jangan minum banyak." Lanjutnya pemuda itu.


"Ya udah pulang yuk!" ajak Rio.


"Bentar lagi, masih pusing gue." ujar Arka.


"Ya udah, nih minum air putih dulu lo."


Rio menyerahkan sebotol air mineral pada Arka dan Arka lalu meminumnya.


***


Di luar klub malam. Amanda kian sempoyongan, dan kini pandangan matanya menjadi gelap. Di tengah cahaya lampu luar yang juga sama temaram.


"Pin, badan gue panas dingin." ujar Amanda.


"Tuh kan, apa gue bilang. Lo nanti aja pulangnya." Josephine kini panik.


Amanda lalu berjongkok karena merasa tubuhnya seperti mau pingsan. Josephine melihat kesana kemari.


"Lo tunggu disini, gue cariin lo susu steril dulu." ujar Josephine lagi.


Maka wanita itu pun berlarian ke suatu arah, sementara Amanda kini kepalanya terasa berputar-putar.


"Amanda."


Tiba-tiba seseorang mendekat. Amanda memperhatikan.


"Gareth?"


Ia masih bisa mengenali, meski sehabis itu ia kembali menyerah pada rasa sakit di kepalanya.


"Kamu kenapa sendirian disini?" tanya Gareth.


"Suami kamu mana?" tambah pria itu.


Amanda menggeleng. Sebab sudah tak mampu lagi untuk menjawab. Gareth tak melihat tanda-tanda keberadaan Arka di tempat itu.


"Aku antar kamu pulang ya, kamu bawa mobil?" Lagi-lagi Gareth bertanya.


Amanda mengangguk dan memberikan kunci mobil. Gareth kemudian berbicara pada teman yang sejak tadi ada di sisinya.


"Lo bawa mobil gue dan iringi dari belakang." ucapnya.


Temannya mengangguk lalu meraih kunci mobil Gareth. Gareth lalu memapah Amanda hingga ke mobil. Tak lama ia kemudian mengantar wanita itu untuk pulang.


"Ri, itu mobil Amanda apa bukan sih?"


Arka melihat ke suatu arah, ke tempat dimana sebuah mobil bergerak meninggalkan pelataran parkir klub.


"Lo mah semuanya aja dikira Amanda. Makanya kalau bucin jangan sok pisah." ujar Rio.


Mereka kemudian berjalan menuju mobil dan bersiap untuk pulang.


Selang beberapa detik berikutnya, Josephine tiba dengan membawa susu steril. Namun Amanda sudah tidak terlihat lagi