Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Karen's dinner


Rio dan Arka pergi ke Karen's dinner, sebuah restoran dengan konsep dimana pelayannya akan menyediakan makanan secara tidak ramah kepada pengunjung.


Mereka mengajak Nino dan juga Ansel yang kebetulan saat itu sedang bad mood. Lantaran ia mencoba memperbaiki hubungannya dengan Intan.


Tetapi Intan malah memilih cuek dan memposting acara makan siangnya bersama Virgo. Karyawan baru Amanda untuk bagian divisi IT. Karyawan tersebut sangat good looking dan mirip sekali dengan oppa-oppa Korea.


Mereka memesan makanan. Namun kemudian pegawai Karen's agak melempar makanan tersebut ke meja, sehingga menyulut kemarahan Ansel.


Ia hendak mencopot sepatu dan berniat melempar kepala si karyawan. Namun Nino yang hafal kebiasaan Ansel saat sedang marah itu pun, kini menahannya.


"Sabar bro, ngga usah barbar. Lo kayak nggak pernah ke Karen's dinner aja sebelumnya. Kan lo udah keliling kemana-mana di luar negri." ujar Nino kemudian.


Sementara Arka dan Rio berjaga-jaga, takut kalau Ansel benar-benar melayangkan sepatunya. Dikhawatirkan mereka akan tertangkap kamera para pembuat konten di tempat itu, dan akan menjadi viral dalam sekejap.


"Gue ke Karen's dinner dimana-mana, nggak gini juga. Lebay banget tuh mbak-mbak, pengen gue jambak dan gue jedotin kepalanya." ujar Ansel masih emosi.


"Ssssttt."


Nino menyuruh Ansel mengecilkan volume suaranya. Sebab tak enak bila ada yang mendengar laki-laki berniat kasar pada perempuan.


"Kayaknya kita salah deh Ka, bawa si Ansel kesini." ujar Rio pada Arka.


"Iya, harusnya dia dibawa ke warteg yang penuh keramahtamahan." jawab Arka.


"Jangankan dia yang lagi punya masalah. Gue aja emosi jiwa." lanjutnya kemudian.


"Udah kita makan aja cepet-cepet, biar keluar dari sini. Ntar kita ngopi aja di tempat biasa, biar si Bambang tenang." ujar Rio lagi.


Maka mereka pun buru-buru menghabiskan makanan, begitupula dengan Nino. Tak lama mereka sudah terlihat meninggalkan tempat itu dan menuju ke kafe langganan mereka, untuk ngopi.


***


Sebelum itu.


"Intan, aku mau minta maaf."


Ansel mengirim pesan singkat pada Intan melalui WhatsApp. Ia mulai menyesali perasaannya yang ragu terhadap pernikahan yang akan mereka jalani nanti.


"Minta maaf soal apa?" tanya Intan.


"Aku minta maaf udah meragukan ini semua." balas Ansel lagi.


"Kayaknya nggak perlu minta maaf deh. Kalau emang ragu ya udah, buat apa di lanjut lagi."


"Koq kamu ngomongnya gitu sih?"


Ansel mulai panas.


"Aku udah menyesali semuanya dan mau memperbaiki, tapi kamu yang malah kayak memanfaatkan kesempatan untuk pisah dari aku." ujarnya kemudian.


"Lah, yang awalnya bilang ragu siapa?. Kan kamu yang ngomong kayak gitu. Aku mah sekedar ngikutin alur aja, gimana maunya kamu." balas Intan.


"Ya kamu harusnya gimana kek, baik-baik sama aku. Jangan malah menambah runyam keadaan." Ansel emosi.


"Siapa yang bikin runyam?" tanya Intan tak kalah emosi.


"Ya kamu." balas Ansel lagi.


Ia kemudian terus mendebat Intan, tapi Intan malah cuek dan tak lagi menanggapi. Ia kemudian pergi makan siang bersama Virgo.


Sejatinya ada Satya, Deni, dan juga dua karyawati lainnya di sana. Tetapi yang ia jadikan insta story hanya Virgo saja. Hal itu membuat Ansel begitu marah dan merasa cemburu.


***


"Cara buat supaya cewek nggak bertingkah itu cuma ada dua Sel."


Rio mulai menasehati Ansel, tepat setelah beberapa saat minuman yang mereka pesan tiba di meja.


"Apaan?" tanya Ansel kemudian.


"Pertama lo percepat tanggal pernikahan, habis itu langsung cepat-cepat lo bikin tekdung tuh si Intan." ujar Rio.


"Tekdung?" tanya Ansel heran.


"Terus cara yang kedua?" tanya Ansel lagi.


"Dibikin tekdung duluan, baru nikah." jawab Rio sambil tertawa.


Seketika Arka mengeplak kepala sahabatnya itu, sementara Nino kini tertawa.


"Lu jangan ngajarin si Ansel sesat." ujar Arka kemudian.


"Ntar dilakuin beneran, yang malu bapak gua tau nggak." lanjutnya lagi.


Rio tertawa-tawa, sementara Nino dan Ansel tampak tersenyum.


"Cara kedua itu efektif juga Sel."


Lagi-lagi ia berujar dan Arka benar-benar ingin mengirim Rio ke planet lain.


"Awas lo Sel, ngikutin saran bangsatnya nih anak. Nggak bakal gue datang ke nikahan lo." seloroh Arka.


"Ya nggak apa-apa, banyak koq undangan lain." ujar Rio.


"Emang anak anj*ng." tukas Arka.


Rio lalu nyengir bajing. Mereka terus berbincang hingga akhirnya Ansel tak begitu kusut lagi seperti sebelumnya. Ia mulai mau berbicara dan bercanda dengan mereka semua.


***


"Azka, Afka."


Arka yang akhirnya pulang ke rumah memanggil sang anak.


"Papaka."


Kedua anak itu mengintip dari pintu kamar mereka, tapi seperti tak berani untuk keluar dan menghampiri sang ayah. Arka merasa ada yang aneh dengan kedua anaknya tersebut.


"Kalian ngapain disitu?" tanya Arka seraya mendekat.


Azka dan Afka menongolkan kepala sambil melihat ke kanan dan ke kiri, kemudian menatap Arka seperti hendak bertanya.


"Mamanda?" ujar salah seorang dari mereka.


"Kayaknya dikamar deh mama." jawab Arka kemudian.


Maka kedua anak itupun keluar, tetapi stelah itu Amanda muncul dan mereka buru-buru kembali masuk ke dalam. Arka jadi makin curiga.


"Mereka habis kamu marahin ya, Man?" Arka langsung menjudge ke arah sana.


"Iya." jawab Amanda seraya memperhatikan Azka dan Afka yang masih mengintip dari balik pintu sambil tertawa.


"Habisnya nakal banget, Ka. Makanan di tumpah-tumpahin, barang di jatuh-jatuhin. Mana perut aku lagi sakit, bikin emosi mulu."


Arka menghela nafas agak panjang. Mungkin perbuatan Azka dan Afka adalah perbuatan rutin anak kecil, yang biasa mereka lakukan. Tetapi karena sedang PMS, Amanda jadi menanggapinya berlebihan.


"Kamu pukul nggak tadi?" tanya Arka.


Amanda lalu menghela nafas kesal.


"Nggak." jawabnya kemudian.


"Tapi kalau nakal sekali lagi, awas aja!" imbuhnya.


"Kamu mending ke lantai atas gih!. Order makanan atau minuman yang kamu mau. Bikin pikiran jadi rileks dulu, kasihan loh mereka nggak ngerti keadaan ibunya. Mereka tuh cuma anak kecil yang nggak tau apa-apa."


Arka menasehati istrinya itu. Amanda lalu menunduk dan mengangguk, kemudian ia pergi ke lantai atas. Arka kini mendekati si kembar dan mencoba mengajak mereka bicara.


"Kalian nggak boleh nakal berlebihan ya." ujarnya kemudian.


"Mama kan udah sediain kalian makanan. Janganlah makanannya di buang-buang. Kalau nggak mau, ya jangan dimakan!. Tapi jangan dibuang-buang juga. Di luar sana banyak anak seumur kalian yang kelaparan."


Si kembar hanya cengar-cengir, lantaran mereka belum mengerti dengan isi dari nasehat tersebut. Tetapi Arka hanya ingin menanamkan nilai-nilai pada anaknya sejak dini.


Paling tidak otak mereka akan merekam perkataan tersebut dan menyimpannya baik-baik. Dan diharapkan hal tersebut akan berguna suatu saat nanti.