
Nino berenang di kolam yang dalam sendirian. Karena yang lain berada di kolam satunya, yang hanya memiliki tinggi sedada orang dewasa.
"Nono."
Azka menunjuk kakak dari ayah dan ibunya tersebut. Sebab kini dirinya telah bersama Amanda dan kembarannya ada bersama Arka.
"Iya, biarin Nono mau berenang dulu. Tadi kan kamu sama Nono terus." ujar Amanda.
"Nono."
Azka masih menunjuk ke arah sana.
"Iya, nanti kita sama Nono lagi ya sayang. Sekarang sama mama dulu, kita berenang." ucap Amanda seraya membawa anak itu ke tengah-tengah.
"Eheee." Azka tertawa.
"Nang." ujar Azka.
Tak lama Arka pun mendekat dengan membawa Afka. Sementara Rio, Ansel, dan yang lainnya tengah bermain di dekat kolam anak-anak. Sebab ada semacam air mancur di sana.
"Ayo kita berenang sama-sama." ujar Arka.
"Eheee."
Si kembar tertawa-tawa.
"Ehe, ehe."
Amanda berujar seraya mencium pipi mereka karena gemas. Kemudian ia dan Arka mengajak kedua anak itu untuk berenang kesana-kemari.
Mereka mendorong pelampung berbentuk ban yang di naiki kedua anak itu, dari ujung ke ujung kolam. Tampak seperti lomba adu kecepatan dan kedua anak itu kian tertawa-tawa.
"Eheee."
"Eheee."
"Nono."
Azka tiba-tiba kembali menunjuk ke arah Nino setelah beberapa saat berlalu.
"Iya biarin aja, Nono mau berenang."
Amanda memberi jawaban seperti sebelumnya. Namun ia tak melihat ke arah Nino, melainkan fokus berbicara pada Azka.
"Nono."
Azka kembali menunjuk ke arah Nino. Kali ini dengan wajah yang seperti hendak menangis.
"Hekhee, Nono." ujarnya.
Amanda dan Arka pun menoleh. Dan betapa terkejutnya mereka melihat Nino seperti tenggelam dan hampir mencapai dasar kolam. Arka beranjak secara serta merta dan langsung meneriakkan nama saudaranya itu.
"Ninooo."
Arka berlarian ke arah sana. Rio, Ansel dan yang lainnya refleks mengikuti dan mereka akhirnya melihat jika Nino tenggelam. Arka menceburkan dirinya duluan diikuti Rio dan juga Ansel.
Arka berenang mencapai tubuh Nino, sedang Amanda kini berada dalam sejuta kecemasan. Sama halnya dengan Min Ji, Liana dan juga Intan.
Arka membawa Nino ke pinggir kolam dengan dibantu Rio dan juga Ansel. Arka pun melakukan CPR kepada saudaranya itu, ditengah kecemasan yang terus melanda.
"Nin, please!"
Amanda sudah ada di dekat Nino, karena si kembar kini di handle oleh Liana, dan juga Intan. Sementara Min Ji berada cukup dekat dengan wajah panik dan hampir menangis.
"Nin, nafas!"
Arka setengah berteriak, karena ia sudah sangat takut sekali terjadi hal buruk pada Nino. Ia terus melakukan CPR sampai akhirnya Nino batuk dan mengeluarkan air yang sempat tertelan.
"Uhuk."
"Uhuk."
"Hhhh."
Arka dan yang lain bernafas lega. Rio serta Ansel lalu memberikan handuk dan membawa Nino menjauh dari kolam.
"Untung Azka ngeliat loh." ujar Arka setelah beberapa saat berlalu. Saat ini Amanda tengah mengurus kakak laki-lakinya itu, dengan di bantu oleh Min Ji.
"Sorry, gue ga nyangka kaki gue bakal kram tadi." Nino memberikan klarifikasi.
"Kenapa lo nggak teriak?" tanya arka.
"Gue keburu nggak ingat apa-apa." jawab Nino.
"Nono." ujar Azka menunjuk Nino.
"Iya, nanti kita kesana ya." ujar Liana pada Azka. Sebab mereka berada cukup jauh.
"Nono, pa?"
Afka sepertinya mempertanyakan kepada Liana tentang mengapa Nino.
"Nggak apa-apa." jawab Liana.
"Ya jangan dong, masa gara-gara aku jadi pada berhenti." Nino merasa tak enak hati.
"Udah capek juga sih." tukas Ansel.
"Iya, sama." Rio menimpali.
"Jangan kayak gitu ah, makin nggak enak gue. Gue udah nggak apa-apa nih, ayo berenang lagi!" ajak Nino.
"Nin."
Amanda berujar seraya menatap saudaranya itu. Nino pun jadi tak bisa berkutik lagi. Akhirnya mereka semua sepakat menyudahi hal tersebut. Lagipula hari telah senja dan mereka memang harus sudah pulang ke rumah.
Tetapi Nino masih dilanda rasa bersalah. Gara-gara dirinya, pesta ulang tahun Rio menjadi kacau. Meski Rio sendiri sejatinya tak masalah. Sebab ia juga akan merasa sangat bersalah apabila terjadi sesuatu pada Nino.
***
"Makasih ya tadi udah bantu liat Nono."
Nino berujar pada Azka di mobil, ketika mereka berada dalam perjalanan pulang. Min Ji telah mereka antar pulang beberapa menit lalu.
"Nono." celoteh Azka kemudian.
"Untung kamu noleh tadi Ka." ujar Amanda pada sang suami.
"Aku pikir si Azka cuma celoteh doang dan pengen ikut Nino." jawab Arka.
"Kayaknya mulai sekarang kita harus sedikit mendengarkan. Kalau misalkan mereka ini bertingkah aneh. Karena siapa tau mereka mau kasih tau sesuatu." imbuh pemuda itu.
"Iya." jawab Amanda.
"Nono, yang."
Afka berujar sambil menunjuk Nino. Anak itu kini dipangku oleh Amanda di depan. Namun Arka mengemudikan mobilnya secara perlahan, meski itu tetap saja berbahaya dan seharusnya Afka memang ada di kursi tengah.
"Sayang Nono?" tanya Amanda pada anak itu.
"Yang." jawab Afka.
Kemudian Azka sang kembaran tampak memeluk Nino dan Nino pun membalas pelukan tersebut.
***
Sementara di jalan lain.
"Kayaknya kejadian ini sumpah dari para pengunjung yang gagal datang ke kolam itu deh."
Rio mulai berspekulasi, sambil mengemudikan mobil. Liana yang ada di sampingnya agak kaget dengan pernyataan tersebut.
"Ah, itu mah menurut aku karena emang udah kejadian aja. Nggak ada karena sumpah siapa-siapa." ujar wanita itu.
"Sumpah sama doa itu kadang sama-sama manjur loh." tukas Rio.
"Iya, tapi nggak usah gitu juga. Itu sama aja kamu menyalahkan diri sendiri namanya." ujar Liana lagi.
"Kepikiran aja." tukas Rio.
Arka dan Amanda mengantar Nino terlebih dahulu ke apartemennya. Karena Nino memang tak pulang ke tempatnya Ryan, begitupula dengan Ansel. Tetapi kali ini Ansel tengah mengantar Intan.
"Nin, lo nggak apa-apa sendirian?"
Arka bertanya diikuti tatapan Amanda. Wanita itu juga masih mencemaskan Nino.
"Udah, nggak apa-apa." jawab Nino.
"Beneran?" Amanda tak yakin.
"Iya, Man. Udah nggak usah khawatir." jawab Nino lagi.
"Nono."
"Nono."
"Iya, Nono pulang dulu ya." ucap Nino pada si kembar.
"Kut."
Azka dan Afka ingin ikut. Tetapi mereka kini terkunci di car seat.
"Lain kali ya nak ya." ucap Amanda pada kedua anaknya itu. Lalu mereka pun seperti hendak menangis.
"Aduh, nggak tega gue." ucap Nino seraya memperhatikan keduanya. Namun mau tidak mau ia pun harus pulang.
Nino keluar dari mobil diiringi tangis si kecil. Tak lama Arka dan Amanda berpamitan pulang.
"Nono."
"Nono."
Azka dan Afka masih tidak rela dan ingin ikut Nino. Tetapi kemudian Arka dan Amanda mencoba menenangkan, dengan mengajak keduanya bernyanyi.
***