Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Senoparty


"Nomor yang anda tuju tidak menjawab."


"Kemana sih tuh anak?"


Arka menggerutu, karena sejak tadi ia mencoba menghubungi Rianti. Jawaban yang ia terima selalu sama, padahal panggilan tersebut sudah tersambung.


"Kenapa, bro?"


Rio yang habis berenang dari ujung kolam, kini mendekat dan bertanya pada Arka.


"Ini si Rianti, bikin cemas orang aja." ucap Arka sambil mengetik sesuatu di WhatsApp.


"Ti, kamu ini dimana sekarang?. Angkat telpon mas!"


Arka mengirimkan pesan tersebut.


"Kenapa emangnya dia?" tanya Rio heran.


"Dia tuh katanya punya cowok, nah tadi dia jalan bareng. Diajak pergi gitu sama si cowoknya ini. Tapi cowoknya ini jemput di ujung jalan, nggak ke rumah dan nggak pamit sama papa sama ibu." jawab Arka.


"Lah koq gitu?" Lagi-lagi Rio melontarkan pertanyaan.


"Nggak ngerti gue, gimana konsepnya. Dan Rianti mau-mau aja lagi." jawab Arka.


"Kalau tuh cowok brengsek, gimana ya?" tanya Rio.


"Makanya, bingung banget ini gue. Mana dia nggak ngangkat-ngangkat telpon. WhatsApp gue juga nggak dibales. Kalau gue di Jakarta, udah gue cari dari tadi." ucap Arka lagi.


"Coba hubungi Nino."


Rio memberikan ide disaat otak Arka terasa runyam dan buntu.


"Oh iya."


Arka segera menghubungi saudaranya itu, namun handphone Nino tidak aktif. Ia sedang mandi saat ini dan handphonenya tengah di charge.


"Duh, Nino juga nggak ngangkat lagi." Arka kian cemas.


"Ansel?" tanya Rio.


"Oke, gue coba hubungi dulu."


Maka Arka pun mencoba menghubungi Ansel. Beruntung saat itu Ansel tengah nonton YouTube. Sehingga begitu ada panggilan masuk dari Arka, ia langsung mengangkatnya.


"Iya, Ka. Kenapa?" tanya Ansel.


"Sel, gue bisa minta tolong nggak?" Arka balik bertanya.


Sementara Ansel menangkap kekhawatiran dalam nada bicara saudaranya tersebut.


"Minta tolong apa?" tanya Ansel.


"Rianti, dia tuh pergi sama cowok. Katanya baru jadian. Tapi kita semua nggak tau cowoknya ini siapa, orang mana. Tadi dijemputnya di ujung jalan lagi, bukan di rumah."


"Lah, berani banget si Rianti main ikut aja sama cowok itu. Anak kampusnya bukan?" tanya Ansel lagi.


"Nggak tau, nggak ada yang tau itu cowok siapa dan anak mana." ucap Arka.


"Wah, gawat ini. Udah lo coba telpon atau WhatsApp si Rianti-nya?"


"Udah dari tadi. Tapi nggak diangkat, telpon gue. WhatsApp juga boro-boro di read." ujar Arka.


"Duh, tuh anak ya. Bener-bener." Ansel jadi ikut-ikutan cemas.


"Gini deh, ada clue nggak dia pergi kemana?. Ada ngomong kek sama nyokap lo gitu atau siapa?. Biar bisa gue cari sekarang!." ujar pria itu lagi.


"Oke deh, gue tanya dulu sama ibu atau papa."


"Ya udah, gue tunggu. Gue tinggal turun dan ngambil mobil ini." Lagi-lagi Ansel berucap.


"Oke-oke."


Arka menyudahi panggilannya terhadap Ansel lalu kini ia mencoba menghubungi sang ayah tiri. Berhubung ayah tirinya tidak mengangkat karena tengah berada di panggilan lain, Arka lalu menghubungi sang ibu. Ia menanyakan apakah Rianti ada berbicara mengenai kemana dirinya akan pergi.


"Setahu ibu, Rianti bilang dia mau pergi ke acara yang ada di daerah Senopati." ujar ibu Arka.


"Senopati?" Arka kaget mendengar semua itu.


"Kenapa emangnya, Ka?" tanya sang ibu heran sekaligus cemas. Ia makin takut terjadi apa-apa pada sang keponakan.


"Sama-sama."


Arka lalu menyudahi panggilan tersebut.


"Senopati, Ka?" tanya Rio pada Arka.


"Iya, kata ibu tadi gitu." jawab Arka.


"Senoparty kali." ujar Rio lagi.


"Makanya, mana tuh anak nggak pernah datang ke tempat-tempat begituan lagi. Gue takut dia diperdaya."


"Buruan lo kasih tau Ansel, biar dicari." ucap Rio.


Arka pun bergegas menghubungi Ansel dan memberitahu clue yang diminta.


"Oke-oke, gue berangkat sekarang." ucap Ansel.


"Sorry banget ya Sel, gue jadi ngerepotin lo." tukas Arka.


"Udah, lo tenang aja." jawab Ansel.


Tak lama telpon tersebut pun di sudahi. Ansel bergerak menuju kawasan yang di maksud. Sedang Arka kini mencoba menghubungi beberapa teman dekat Rianti.


Kebetulan ia ada menyimpan beberapa nomor kontak dari teman saudara sepupunya itu. Ia ingin mengorek keterangan lebih lanjut mengenai siapa kekasih Rianti saat ini.


***


Sementara di sebuah bar di kawasan Senopati. Gareth yang sudah datang sejak tadi tanpa sengaja menoleh ke suatu arah. Tempat dimana seorang laki-laki mengajak seorang perempuan, yang tampak takut-takut untuk melangkah.


"Ayo masuk, nggak apa-apa." ujar pria itu.


Ia terlihat memegang tangan si perempuan, sementara si perempuan tampak ragu, kikuk, dan seperti orang yang kaget. Gareth memperhatikan benar-benar wajah perempuan itu.


"Rianti?" gumamnya kemudian.


"Siapa, bro?"


Salah satu teman Gareth bertanya padanya, seraya mengikuti arah pandangan pria itu.


"Itu, resepsionis di kantor Amanda." jawab Gareth. Kini semua mata teman-teman Gareth melihat ke arah Rianti.


Sementara Rianti sendiri melangkah dengan masih ragu-ragu di samping pria yang tiada lain adalah Alex. Hatinya agak kecewa kali ini, sebab dalam ekspektasinya ia berharap dibawa oleh sang kekasih ke sebuah tempat dinner private yang romantis. Seperti yang sering ia lihat di drama Korea.


Alex yang tampan, mapan, dan pastilah akan menjadi semakin terdepan di hati Rianti. Apabila berhasil memberikan apa yang menjadi impian perempuan itu.


Namun ternyata ia di suruh berdandan untuk masuk ke sebuah tempat pesta dan banyak minuman keras seperti ini.


"Duduk sini!"


Alex ternyata telah memesan sebuah meja. Mau tidak mau Rianti harus duduk, karena kalau terus-terusan berdiri ia yakin kakinya akan terasa pegal. Sebab ia memakai high heels yang juga dibelikan oleh Alex.


Sementara di kejauhan Gareth sesekali mencuri pandang. Kebetulan tempat dimana pria itu duduk tak jauh dari tempat dimana kini Rianti dan kekasihnya berada.


Seorang waitress pun menghampiri meja tempat dimana Alex dan Rianti berada. Tak lama Alex menyebutkan pesanan yang Rianti sendiri tidak mengerti itu apa. Sang waitress kemudian pergi ke arah bartender.


"Kenapa kita kesini?"


Rianti mulai berani melempar pertanyaan pada sang kekasih.


"Ya nggak apa-apa." jawab Alex.


"Kita udah dewasa, dan nggak apa-apa pergi ke tempat seperti ini." lanjutnya lagi.


Rianti diam, ia mulai melirik ke sekitar. Ada banyak asap rokok yang mengebul, dari bibir para laki-laki dan perempuan yang hadir di tempat itu.


"Kamu nggak usah tabu melihat tempat seperti ini. Disini semua orang dewasa bersenang-senang." ujar Alex lagi.


Rianti diam, tak lama kemudian si waitress kembali muncul dan membawa sebotol minuman lengkap dengan dua gelas sloki.


Minuman tersebut dibuka, dan Alex menuangnya ke dalam gelas.


"Ini minuman alkohol?" tanya Rianti.


"Iya, nih!"


Alex menyodorkan minuman tersebut, kemudian menuang untuk dirinya sendiri.