
Arka bertemu lagi dengan Rio di lokasi yang sama. Dan tak jauh berbeda seperti tempo hari, Rio kembali menghindar.
"Ri, Ri."
Arka menyusul sahabatnya itu.
"Ri, tunggu!"
Beberapa pasang mata dari para cast dan kru film menilik ke arah mereka berdua.
"Ri, dengerin gue dulu!"
Rio tetap tidak mau.
"Ya udah, Terasi gue buang."
Rio mendadak menghentikan langkah dan menoleh. Arka menunjukkan gecko atau tokek Brazil milik Rio yang ia culik dari kosan.
Kebetulan kandang Terasi memang sering Rio keluarkan dan dititip pada ibu kos. Agar bisa diberi makan saat ia sedang tak ada di tempat.
Arka mengancam akan membuang atau melepaskan tokek tersebut, apabila Rio tak mau berbaikan dengannya.
"Koq lo bawa-bawa Terasi sih?" tanya Rio dengan nada marah.
Beberapa diantara orang yang mendengar, mengira Rio marah pada Arka karena terasi sungguhan. Sementara tokek Brazil bernama Terasi itu tampak diam dengan wajah yang imut di tangan Arka.
"Ya kalau lo nggak mau baikan sama gue, terpaksa gue buang. Gue lepasin aja ke dinding rumah orang." ucap Arka.
"Apa salahnya dia coba?"
Rio masih ingin mendebat sahabatnya tersebut dan Arka siap untuk itu.
"Ya ini satu-satunya cara. Lo mau maafin gue nggak?" tanya Arka.
"Nggak." jawab Rio tegas. Terlihat nyata jika ia masih pada Arka.
"Ya udah gue lepasin."
"Ya jangan!" Rio menghalangi.
"Mau maafin gue apa nggak?" tanya Arka lagi.
"Tokek."
"Tokek."
Tokek tersebut kini bersuara.
"Buruan, Ri. Gue tuh geli tau nggak, pegang hewan melata kayak gini." ucap Arka.
Rio menghela nafas agak panjang.
"Ya udah deh, gue maafin." ujarnya kemudian.
"Balikin si Terasi!" tukasnya lagi.
Arka pun lalu mengembalikan tokek tersebut kepada Rio.
"Janji jangan ngambek lagi sama gue?. Kalau nggak motor lo gue lesing."
Rio tertawa, lalu Arka pun ikut-ikutan.
"Eh maho, berantem mulu lo berdua. Udah kayak pacaran."
Sutradara nyeletuk dari suatu arah. Arka dan Rio pun kini berbaikan. Tak lama berselang mereka melakukan reading bersama.
Sejatinya ini bukan kali pertama Rio seperti itu. Bahkan sepanjang persahabatan mereka sejak kecil, Arka dan Rio memang kerap bertengkar. Namun yang paling sering terbawa perasaan adalah Rio.
Sedang Arka sedikit lebih santai menghadapi permasalahan yang terjadi.
Dulu pernah mereka tak bertegur sapa selama satu bulan lamanya. Lantaran mereka janjian untuk tidak ikut camping pramuka.
Tapi kemudian Arka di desak oleh temannya yang lain dan akhirnya ia ikut. Rio marah sekali waktu itu, karena menganggap Arka tak setia kawan.
Padahal Arka sudah pamit dan bahkan mengajak Rio. Namun Rio yang memang malas camping waktu itu, justru malah marah dan tak lagi menegur Arka selama satu bulan lamanya.
***
"Man, Joanna nangis terus. Gue bingung. Bayi tuh nggak bisa diem apa?"
Maureen mengirim pesan singkat pada Amanda. Mengeluhkan anak bayinya yang terus menangis. Amanda ingin membalas, namun karena ia sangat sibuk siang itu. Maka ia mengabaikan begitu saja pesan Maureen tersebut.
Tapi ketika sore menjelang dan kantor telah di bubarkan, ia menyambangi kediaman Maureen dan membantunya mengurus Joanna.
"Tadi siang itu gue sibuk banget, Reen. Jangankan pegang hp buat balasin chat. Untuk makan aja gue nggak sempat." ucap Amanda.
Ia datang sendirian ke tempat Maureen dengan diantar pak Darwis. Sebab Arka di lokasi syuting sampai malam nanti.
"Iya nggak apa-apa koq, Man. Gue ngerti." jawab Maureen.
"Dulu gue pikir enak jadi ibu rumah tangga aja, terus ongkang-ongkang kaki di rumah. Sekarang gue malah pengen kerja." tukas Maureen.
"Ternyata mengurus anak sangat melelahkan." ujarnya kemudian.
Amanda tertawa kecil.
"Gue aja kadang masih ada, saat dimana gue muak banget sama urusan rumah dan anak." lanjut Amanda lagi.
"Lo satu, gue dua. Mana sekarang lagi nakal-nakalnya banget." ucap Amanda.
"Kadang gue rasa pengen teriak." lanjut wanita itu.
Kali ini Maureen yang tertawa.
"Lo nggak mau pake asisten rumah tangga?" tanya Amanda.
"Mau, tapi lagi nyari yang tua Man." jawab Maureen.
"Banyak di yayasan, tapi muda-muda banget. Umur tujuh belas, delapan belas. Lo tau sendiri kan jaman sekarang?" ucap Maureen.
"Bener, makanya pengasuh Azka sama Afka kan pulang pergi, dari rumah gue yang satunya. Untuk menghindari cinta karena terbiasa." tukas Amanda.
"Ya, walaupun gue tau Arka sifatnya nggak begitu. Tapi kan apa salahnya waspada. Jangan sampai kayak artis yang tempo hari viral tuh."lanjutnya lagi.
"Oh iya, yang tiba-tiba suaminya menceraikan si istri via WhatsApp. Nggak lama nikah diem-diem sama mantan baby sitter anaknya, yang masih sembilan belas tahun."
"Makanya, gue ngeri." ujar Amanda.
"Walaupun kalau mau selingkuh mah, selingkuh aja. Bisa aja terjadi dibelakang kita. Tapi paling nggak jangan sampai terjadi atau ada bekasnya di dalam rumah. Bakalan sakit hati banget nanti." Lagi-lagi wanita itu berujar.
"Makanya ini gue juga lagi nyari. Minta tolong ibunya Arka sama nyokap gue, cari yang tua-tua aja. Biasanya lebih sayang sama anak dan jarang memperhatikan hp." ucap Maureen.
"Iya bener." tukas Amanda.
Tak lama handphone Amanda berbunyi, ternyata panggilan dari asisten rumah tangga yang saat ini tengah mengasuh si kembar.
"Iya Las, kenapa?" tanya Amanda.
"Mama."
"Hoaya."
Amanda bingung.
"Azka, Afka?" ujarnya.
"Mama?"
"Hei, nelpon siapa?"
Tiba-tiba terdengar suara Lastri yang mendekat.
"Oh bener-bener ya Azka sama Afka, dari tadi." ujar Lastri lalu meraih handphone yang ada di tangan Azka.
"Kenapa, Las?" tanya Amanda.
Anak-anak bu, pencet-pencet hp saya. Dari tadi nggak sengaja telpon orang melulu." jawab Lastri.
"Emangnya handphone kamu nggak di lock?" tanya Amanda lagi.
"Di lock, bu. Cuma tadi mereka minta nonton YouTube di handphone saya. Nggak mau dari layar televisi, nangis. Mau dari popon mbak, kata mereka."
"Astaga, Azka, Afka. Mama kan udah bilang jangan nakal sama mbak."
"Tuh dengerin mama tuh." ujar Lastri. Ia mengaktifkan mode loud speaker di handphonenya.
"Popon mbak, eheee."
Keduanya tertawa-tawa.
"Nggak boleh nakal ya." ujar Amanda lagi.
"Hoaya." tukas Afka.
"Hoaya." Azka menimpali.
"Bentar lagi mama pulang." ucap Amanda.
"Papapa."
Entah siapa itu yang bersuara. Amanda tak mampu mengenali sebab suara anaknya sama persis.
"Iya papa pulangnya malam."jawab wanita itu.
"Hoaya."
"Iya, sana main dulu ya sama mbak ya."
"Hoaya."
Mereka terdengar merayap dan menjauh. Amanda kemudian berpamitan pada asisten rumah tangganya itu, dan menutup telpon.
"Kenapa mereka?" tanya Maureen pada Amanda.
"Mainin handphone mbaknya, sampai ketelpon ke beberapa nomor." jawab Amanda.
Maureen tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak kecil memang selalu saja membuat ulah.
Namun ketika hendak dimarahi, mereka biasanya memasang tampang yang lucu. Sehingga kita pun menjadi tidak tega untuk melakukan apa-apa terhadap mereka.