
"Yes, yes, yes."
Elina berjingkrak-jingkrak di unit apartemennya yang terletak satu lantai, dengan unit yang kini di huni oleh Arka dan juga Rio. Ia baru saja mendapatkan salinan skrip baru, yang berisi adegan dirinya dengan tokoh yang diperankan oleh Arka.
"Akhirnya gue bisa satu frame sama Arka dan ada adegan mesra, yes."
Ia terlihat begitu gembira dan bahkan meloncat-loncat. Persis seperti orang yang baru saja memenangkan undian.
"Mana dialognya romantis banget lagi."
Ia membaca beberapa dialog yang ada di skrip tersebut dan terus bergembira.
"Mudah-mudahan si Arka jadi cinlok sama gue. Kalau itu sampai terjadi, gue pasti seneng banget."
"Huhui."
Elina kembali berjingkrak-jingkrak, kali ini ia menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur.
"Braaak."
"Hmm, rasanya seperti menjadi princess." ujarnya lagi.
Ia kemudian meraih handphone dan melihat-lihat fotonya terdahulu bersama Arka. Saat awal-awal mereka meniti karir dan masih tergabung dalam satu management yang sama.
"Nggak ada kata terlambat untuk memulai kembali semuanya dan nggak ada yang salah dalam cinta." ujarnya kemudian.
"Perasaan ini bukan gue yang menginginkan, tapi datang secara alami tanpa bisa ditolak."
Elina mulai menormalisasi perasan yang ia miliki terhadap Arka. Ia menganggap bahwa cinta adalah sebuah anugerah dan tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi perasaan tersebut.
Hal tersebut memanglah benar. Kita tidak pernah tau kita akan jatuh cinta pada siapa, kapan, dan dimana. Pada orang yang masih single atau sudah memiliki kekasih bahkan istri.
"Cinta itu nggak pernah salah, El. Tapi sebagai manusia juga kita perlu tau dan sadar diri. Posisi kita dimana dan orang yang kita sukai atau cintai itu dimana."
Elina belum juga kapok curhat pada sang teman yang menentang perasannya terhadap Arka. Semua itu lantaran Elina tak mempunyai begitu banyak teman curhat. Awalnya Elina pikir temannya itu sudah berubah pikiran, namun ternyata ia tetap kekeuh tak mau mendukung Elina.
"Tapi kan ini semua bukan mau gue, berarti cinta itu nggak salah dong."
Elina masih berusaha membela diri. Padahal sejak tadi omongannya hanya berputar-putar di bagian itu saja.
"Iya, cinta itu nggak salah. Elo juga nggak salah. Tapi sebagai manusia kita harusnya bisa mengontrol diri." ujar temannya itu lagi.
"Disini bukan perkara soal perasaannya, tapi seberapa besar kontrol terhadap diri lo sendiri. Perasan itu bisa di kontrol, kalau memang berada di tempat yang nggak semestinya." imbuh perempuan itu.
"Ah, curhat sama lo bikin insecure. Lo suka mematahkan hati sahabat lo sendiri." Elina berkata dengan nada kecewa.
"Mendingan mana?. Lo kecewa sama omongan gue hari ini, apa lo kecewa karena omongan Arka nantinya?"
"Emang Arka bakal ngecewain gue?. Kan belum tentu." Elina berkata dengan penuh percaya diri.
"El, percaya diri itu boleh, tapi jangan sampai berlebihan. Ntar ujungnya malah nangis." Lagi-lagi temannya itu berkata.
"Tau ah, males gue ngomong sama lo."
Elina menyudahi dan menutup telpon tersebut secara sepihak. Sementara temannya kini hanya bisa menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepala.
"El, El. Kapan sih lo dewasanya." ucap perempuan itu kemudian.
***
"Agak kesini sedikit."
Seorang fotografer menyuruh Intan sedikit bergeser ke arah kanan, sehingga Ansel pun bisa turut melakukan hal serupa. Semua dimaksudkan karena tadi ada bagian properti yang tidak masuk ke dalam kamera.
Hari ini Intan meminta cuti pada kantor, untuk melakukan sesi foto prewedding bersama Ansel di sebuah tempat. Tema yang di usung adalah elegan minimalis. Dengan warna-warna dasar seperti putih, hitam dan juga warna kayu.
"Oke siap?"
"Satu, dua, tiga."
Beberapa foto mereka berhasil diabadikan dalam tangkapan layar kamera sang fotografer.
"Oke tahan senyumnya." ujar sang fotografer itu lagi.
"Tahan ya."
"Satu, dua, tiga."
Foto kembali di ambil dari angle yang berbeda. Tak lama kemudian mereka berganti latar dan juga pose. Kali ini menghadap ke pantai. Karena kebetulan tempat yang disewa menghadap ke arah sana.
Foto demi foto kembali diambil. Kemudian mereka berganti pakaian sampai tiga kali. Setelah semua kegiatan selesai, Ansel dan Intan makan bersama di sebuah resto.
"Ting."
Sebuah notifikasi pesan masuk di handphone Intan, ketika baru selesai menyuap makanan yang ia pesan ke dalam mulut. Intan lalu membaca pesan tersebut.
"Hhhh."
Intan menghela nafas seperti kesal. Kemudian meletakkan handphone kembali ke atas meja.
"Kamu kenapa?" tanya Ansel pada Intan.
"Keluarga besar aku, Sel. Mereka tuh ribet banget. Yang mau nikah siapa, yang repot siapa, heran."
"Emangnya mereka kenapa?" tanya Ansel lagi.
"Ngotot supaya aku tuh makeupnya nanti medok dan manglingi."
"Maglingi itu apa?" tanya Ansel seraya mengerutkan dahi.
"Make-up yang bikin wajah seseorang berubah total secara drastis. Sampe nggak kelihatan lagi muka asli." jawab Intan.
"Harus tebal dong make-upnya?" Lagi dan lagi Ansel bertanya.
"Makanya itu, aku nggak suka makeup tebal. Aku mau yang minimalis aja, yang bikin aku nyaman dan percaya diri." ucap Intan.
"Aku juga sebenarnya lebih suka kamu makeup sederhana aja sih. Karena yang mau aku lihat di hari pernikahan itu adalah kamu, bukan orang lain." tukas Ansel.
"Iya, tapi mereka yang ribet. Setiap ada anggota keluargaku yang menikah, mereka itu selalu egois dan memikirkan kesenangan pribadi. Senang melihat si pengantin tampak manglingi, tapi kan si pengantinnya belum tentu suka dan mau. Mikirin kepuasan hati sendiri, padahal yang menikah bukan mereka. Harusnya fokus ke kebahagian si pengantinnya aja, jangan malah maksa-maksa." ujar Intan.
Ansel menghela nafas.
"Kalau prinsip aku sih, aku nggak mau menuntut diri aku untuk terlalu menyenangkan orang lain. Apalagi kalau orang lain itu cuma memikirkan kepuasan hatinya sendiri. Hidup-hidup aku, ya aku harus bahagia. Kita nggak punya kewajiban untuk menyenangkan semua orang. Karena kita bukan bekerja sebagai penghibur mereka semua. Jadi aku kembalikan keputusannya di kamu. Kamu berpikir aja, menurut kamu mana yang terbaik dan membuat kamu nyaman." ujar Ansel pada Intan.
Intan pun lalu terdiam dan menatap piringnya.
"Ingat, kita tidak punya kewajiban untuk menyenangkan hati orang lain. Dan orang lain tidak bisa memaksakan atau menggantungkan kebahagiannya terhadap kita. Mereka harus paham akan hal tersebut." lanjut Ansel lagi.
Intan kemudian mengangguk dan melanjutkan makan. Ia ingin membuat keputusan berdasarkan keinginannya. Karena momen pernikahan ini adalah miliknya, dialah ratunya.
Maka yang lain harus menuruti keinginannya. Ia tidak mau menuruti keinginan orang, hanya untuk memuaskan salah satu pihak. Sementara dirinya tidak menyukai hal tersebut.