Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Baby Blues?


Maureen menangis sambil menggendong Joanna. Ia sudah menangis berkali-kali sejak bayi itu dilahirkan beberapa hari lalu.


Dokter mengatakan agar Jordan mengawasi dan memberikan dukungan padanya. Sebab di sepuluh hari pertama ada kemungkinan seorang ibu bisa mengalami sindrom baby blues.


Yang diakibatkan kurangnya dukungan atau merasa tidak percaya diri dalam mengurus anak.


Di sebagian Kasus ada juga yang disebabkan oleh mertua, tetangga, atau orang tua yang nyinyir serta terlalu banyak nasehat dan aturan yang sifatnya dipaksakan.


Sehingga menyebabkan si ibu merasa tertekan dan terintimidasi. Merasa tak pantas menjadi seorang ibu dan lain sebagainya.


Sejauh ini tak ada yang menekan Maureen. Baik Jordan dan kedua orang tua Arka benar-benar memberikan dukungan padanya.


Ibu kandung Maureen pun, meski saat ini belum bisa datang lantaran sedang sakit. Ia tetap memberikan dukungan terhadap sang anak melalui telpon. Ia juga tak memberikan nasehat yang aneh-aneh.


Namun entah mengapa Maureen masih saja sering menangis. Psikiater yang dihadirkan pun belum bisa membuat Maureen berbicara jujur mengenai apa yang ia rasakan.


"Gue bingung, Ka, Man. Maureen tuh kenapa."


Jordan akhirnya curhat dengan Arka dan juga Amanda. Ketika ia berpikir tak tau harus bercerita kemana lagi. Ia sangat khawatir mengenai kondisi Maureen dan juga anak mereka.


Kebetulan sepulang dari reading, Arka menyusul Amanda yang memang berencana menjenguk Maureen. Sedang si kembar masih bersama Nino di rumah.


"Apa ASI nya nggak lancar?" tanya Amanda pada Jordan.


"Lancar, Man. Banyak banget malah. Nggak ada masalah soal itu." jawab Jordan kemudian.


"Lo ada ngasih tekanan atau mengharuskan dia melakukan sesuatu?" lanjut Amanda lagi.


"Nggak ada juga."


"Lo udah coba ajak bicara baik-baik?" Kali ini Arka menimpali.


"Udah, tapi tuh dia kayak berat mau jujur sama gue."


"Ya udah deh, ntar gue coba bicara sama dia. Siapa tau dia mau ngomong jujur ke gue." Amanda menawarkan diri.


"Tolong banget ya, Man. Gue bingung harus gimana lagi. Gue khawatir dengan keadaan mereka."


Amanda mengangguk.


"Lo yang tenang, jangan ikutan panik. Kalau lo ikut panik nanti semua malah jadi lebih kacau." Arka menimpali, dan Jordan pun mengangguk.


***


Sama seperti Arka, Rio pun telah kembali dari proses reading. Bedanya mereka reading di lokasi syuting yang berbeda.


Sebab di karakter yang dimainkan Arka dan juga Nino bermusuhan di dalam film tersebut. Mereka juga memiliki tempat tinggal masing-masing dan proses reading dilakukan di tempat tersebut.


"Ri, kalau udah pulang. Papa titip nasi goreng haji Jumali ya."


Ayah Rio mengirim pesan singkat pada pemuda itu. Kebetulan ia memang sudah beberapa hari ini menginap di kediaman sang ayah.


Dan nasi goreng yang dimaksud ada di dekat rumah mereka. Rio lewat depan nasi goreng tersebut jika hendak masuk ke area perumahannya. Maka ia pun mampir untuk membelikan sang ayah.


Saat tiba di nasi goreng tersebut, Rio kaget. Pasalnya ia melihat Nadine ada disana bersama dengan laki-laki yang diduga kekasih barunya.


Nadine tampak pura-pura tak melihat Rio dan Rio pun melakukan hal serupa. Baginya untuk apa menyapa orang yang memalingkan wajah duluan terhadap kita.


Ia memesan nasi goreng, dan ketika nasi goreng itu sudah jadi ia pun membayar. Lalu ia kembali melangkah ke arah mobil yang ia parkir agak jauh.


"Dasar cewek murahan lo."


Sebuah keributan terjadi. Rio menoleh, ia melihat Nadine dipukul oleh seorang perempuan.


Ia ingin mendekat, namun pacar Nadine dan orang sekitar sudah keburu ramai lalu mencoba memisahkan mereka.


"Bisa-bisanya lo selingkuh dan gue baru tau sekarang."


Si perempuan yang memukul Nadine itu berteriak pada pacar Nadine. Dan dari sana Rio paham jika pacar Nadine itu bukan pria baik-baik.


"Elo juga perempuan gatel." ujarnya membentak Nadine.


Tiba-tiba ayah Rio menelpon. Rio menjauh untuk menjawab telpon tersebut.


"Iya pa, Rio udah dikit lagi sampai koq. Nasi gorengnya udah di beli." jawab pemuda itu.


"Ya udah, papa tunggu ya."


"Iya pa."


Telpon tersebut di sudahi, Rio menoleh ke arah Nadine yang sudah dibawa menjauh dan telah dipisahkan dari si perempuan. Rio akhirnya masuk ke mobil karena merasa situasi sudah aman.


***


"Reen, coba cerita sama gue."


Amanda kini masuk ke ruangan tempat dimana Maureen di rawat, lalu bertanya pada perempuan itu. Maureen terlihat murung dan lebih banyak menunduk.


"Gue banyak dosa, Man. Sekarang anak gue perempuan. Gue takut dia menerima karma dari semua kejahatan yang udah gue lakukan."


Ia akhirnya berbicara, dan Amanda menatap perempuan itu seraya menyentuh dan menggenggam tangannya dengan erat.


"Semua karma udah ada di elo, Reen. Lo udah ngerasain sakit, disakiti dan bahkan menderita. Tuhan nggak akan kasih lagi, karena udah terbalas semuanya di lo."


Maureen menatap Amanda.


"Mungkin omongan gue ini agak kasar, tapi semua balasan udah lo rasakan. Jadi nggak mungkin Tuhan memberi balasan terhadap anak yang tidak bersalah seperti Joanna. Dia itu bayi, nggak tau apa-apa. Masa iya Tuhan sejahat itu mau kasih karma ke dia." lanjut Amanda lagi.


"Tapi..." Maureen menarik nafas kemudian lanjut bicara.


"Kita ambil contoh satu deh, Man. Misalkan ada seorang bapak yang selingkuh dari istrinya, plus melakukan tindak KDRT juga. Kemudian dia punya anak perempuan, dan anak perempuannya pasti mengalami hal serupa. Di selingkuhi dan di KDRT sama seperti ibunya." lanjut perempuan itu.


Kali ini Amanda yang menarik nafas dan terus menatap Maureen.


"Gini, sebenarnya itu nggak bisa di sebut karma juga. Itu bisa terjadi terhadap si anak, karena si anak melihat perilaku orang tuanya. Ketika seorang perempuan di sakiti oleh laki-laki, sebagian besar akan cenderung bertahan terlebih dahulu. Sebelum akhirnya mungkin ada yang menyerah dan bercerai."


Amanda sedikit menjeda ucapannya agar Maureen mengerti.


"Nanti nih istri-istri yang bertahan dari perselingkuhan dan KDRT ini, merasa dia sudah melakukan hal terbaik demi anaknya. Demi supaya anaknya nggak merasakan boken home." ucapnya lagi.


"Padahal kalau si anak sudah tau masalah orang tuanya, dia akan tetap broken-broken juga. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Si anak perempuan jadi muak sama pernikahan dan nggak mau menikah, kayak gue dulu. Atau anak perempuan akan mencontoh ibunya, yakni bertahan saat ketemu pria brengsek. Kebanyakan akan mencontoh ibunya, bertahan dengan pria brengsek. Pada akhirnya di sakiti, di selingkuhi, dan di KDRT sama kayak ibunya dulu. Dan terlihat kayak karma atas perbuatan bapaknya."


Amanda berujar panjang lebar.


"Sekarang kan kasus lo beda. Jordan nggak jahat sama lo, nggak KDRT, nggak selingkuh. Jadi karma apa yang lo takutkan?"  tanya perempuan itu lagi.


"Gue takut karma dari gue, Man. Karena gue jahat. Gue harusnya nggak meneruskan kehamilan ini, gue sekarang nyesel karena membawa Joanna lahir ke dunia dan membuat dia mempunyai ibu yang jahat."


Amanda hendak menjawab, namun tiba-tiba Nino menelpon.


"Bentar, gue angkat telpon dulu." ujar wanita itu. Tak lama ia pun keluar untuk menerima panggilan.