
"Papa tuh pengen banget bisa keluar. Atau minimal hukumannya di ringankan. Akhir-akhir ini dia sering bilang, pengen liat Amara tumbuh."
Amanda berujar pada Nino di minggu pagi, tepat setelah beberapa hari kelahiran Joanna.
Saat itu Arka tengah sibuk reading bersama para cast dari film terbaru yang akan ia mainkan. Arka bahkan tak pulang semalaman, karena proses reading dilangsungkan di lokasi syuting yang sebenarnya.
Kebetulan Nino menginap di penthouse karena diminta oleh Amanda. Sebab ia ada mampir dan telah terlalu larut untuk pulang.
"Ya, dia juga bilang gitu ke aku."
Nino menjawab seraya menyeruput kopi paginya dan kembali menatap Amanda.
"Bahkan dia bilang takut usianya nggak lama dan nggak bisa ngeliat Amara lagi." lanjut pria itu kemudian.
"Apa kita nggak bisa melakukan apapun itu, supaya hukuman papa bisa diringankan?" tanya Amanda.
Usaha kita sejauh ini hanya membuahkan sedikit hasil." ujarnya lagi.
"Itu pun kita udah all out." Ia menambahi.
"Iya, karena kejahatan yang pernah dilakukan papa itu cukup serius." jawab Nino.
"Kalau kita memaksa mengeluarkan uang banyak demi membebaskan dia. Sama aja kelakuan kita dengan para pembeli hukum lainnya. Dan kalau sampai itu diketahui publik, nama kita dan mungkin tempat kita bekerja yang akan tercoreng. Sebab kasus papa ini waktu itu udah sempat kemana-mana, gara-gara Citra yang nyebar." Lanjutnya kemudian.
Amanda diam, benar apa yang dikatakan Nino. Saat itu kasus yang dilakukan Amman sampai menyebar luas di sosial media.
Lantaran Citra speak up dan menceritakan kisah pilunya dengan panjang lebar di sebuah platform.
Tentu saja imbasnya jadi kemana-mana. Sebab saat itu Citra berambisi ingin memenjarakan Amman. Netizen pun beramai-ramai mengawal kasus sampai Amman akhirnya menerima hukuman.
Banyak dari mereka yang mengatakan jangan sampai tiba-tiba Amman bisa bebas begitu saja, lantaran ia memiliki banyak uang.
Dan jika saat ini Amanda dan Nino memberikan uang jaminan yang besar, lalu Amman menghirup udara bebas. Sudah barang tentu mereka berdua akan menjadi bulan-bulanan publik. Nama perusahaan mereka bisa saja ikut terseret.
"Tapi kita juga nggak boleh diem aja, Nin. Aku kasihan sama dia, kasihan Amara juga." ujar Amanda lagi.
Nino menganggukkan kepalanya. Sesaat kemudian terdengar suara celotehan dari kamar si kembar.
"Hoayaa."
"Mama."
"Papapa."
Nino dan Amanda bergegas menuju ke kamar tersebut.
"Astagaaa."
Amanda histeris.
"Ih dek, koq bisa begini sih?"
"Iiiiih."
Ocehan khas emak-emak yang bernada seperti jijik akan sesuatu mulai terdengar. Nino sendiri sangat terkejut.
Pasalnya kini kaki Afka penuh dengan pup-nya sendiri yang melebar dari popok. Perekat popoknya agar sedikit terbuka yang bagian kiri, sehingga menyebabkan popok tersebut tidak pas.
Dan kemungkinan ia tidur berbolak-balik hingga kotoran tersebut kini menyebar kemana-mana.
"Iiiiih." Amanda kembali berteriak.
"Hoayaa."
"Eheeee."
Afka tertawa, membuat ibunya kian bertambah sewot.
"Malah ketawa, bukannya kalau penuh itu panggil mama. Ini malah diam aja kamu sampe semua kotor kayak gini."
"Eheeee."
Azka yang ada di sebelahnya ikut tertawa. Nino menahan senyum, lalu ia membawa Afka ke kamar mandi dan membersihkannya. Dibantu oleh Amanda tentunya. Ia yang membuang popok anak itu. Sementara Nino kini memandikannya.
Amanda kemudian mengambil Azka juga, untuk sekalian saja mandi. Saat mereka di dalam bathtub, Amanda membersihkan kasur Afka dan mengeluarkannya untuk nanti akan di laundry.
"Nakal ya kamu."
Amanda masuk ke kamar mandi lalu kembali memarahi sang anak. Sementara yang dimarahi justru malah bermain air.
"Nono." ujarnya pada Nino.
"Nono."
Kedua anak itu menepuk-nepuk air, hingga air tersebut muncrat ke wajah mereka sendiri dan juga baju Nino.
"Eheee."
Keduanya lalu tertawa-tawa.
***
"Apaan ini, Man?"
Arka bertanya ketika Amanda mengirim pesan singkat yang berisi foto tempat tidur Afka, saat masih penuh warna kuning.
"Kelakuan anak kamu si Afka." jawab Amanda kemudian.
Arka memperhatikan secara seksama lalu tertawa.
"Hahaha."
"Hahaha." ujarnya di WhatsApp.
"Koq bisa begitu?" tanya-nya lagi.
"Jadi perekat popoknya itu agak lepas yang kiri. Kayaknya dia pup pas masih ngantuk berat. Jadi abis itu dia tetap tidur, nggak nangis kayak biasanya. Mungkin dia bolak-balik tidurnya dan jadilah seperti ini. Sarapan pagi saya melihat hal seperti ini." ujar amanda.
"Wkwkwk."
"Wkwkwk, sabar ya mama Firman. Ini ujian dalam berumah tangga. Harus banyak-banyak mengelus dada."
Amanda membalas dengan emoticon lelah kemudian menangis.
"Sekarang Afka nya mana?" tanya Arka.
Amanda beralih ke kamar mandi dan memotret sang anak yang tengah dimandikan.
"Cekrek."
Kemudian ia mengirim foto tersebut kepada Arka.
"Nih mandi sama Nono." ujarnya.
Arka tertawa-tawa di tempatnya saat ini.
"Pasti bau banget tadi ya badan anak itu." tukas Arka.
"Orang semuanya kotor, untung nggak kena mulut." balas Amanda.
"Oh ya?" tanya Arka.
"Iya."
"Ada fotonya nggak?"
"Nggak ada, nggak sempat. Tadi takut keburu tangannya kemana-mana, terus pegang mulut." jawab Amanda lagi.
Dan lagi-lagi Arka tertawa.
"Ya udah Ka, aku mau lanjut nge-laundry dulu. Nanti ruangan kita jadi bau kalau semakin lama di diemin. Kotoran mereka udah bau banget sekarang, nggak kayak waktu bayi merah dulu."
"Ya udah, semangat ya mama Firman. Kamu wonder woman."
"Iya, makasih. Kamu masih reading, Ka?" tanya Amanda.
"Ini lagi break, tapi nanti lanjut lagi." Balas pria itu.
"Oh ya udah, udah sarapan?"
"Udah koq, man. Kalian?"
"Udah, tapi terganggu sama kelakuan Afka barusan."
"Wkwkwkwk, sabar. Orang sabar pasti subur." jawab Arka.
Amanda membalas dengan emoticon lidah menjulur. Tak lama setelahnya ia pun bergegas mem-packing segala yang kotor untuk di bawa ke laundry. Ia menitipkan si kembar pada Nino, kemudian pergi menuju binatu terdekat.
***