Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Bercerita


"Aku mau minta maaf. Aku salah sama bapak."


Nadine berkata pada Nino sambil tertunduk. Kini mereka berada di ruang tamu dan saling berhadapan.


Sementara di lain sudut, Ansel mengurungkan niatnya untuk berangkat. Ia kini fokus mendengarkan pembicaraan tersebut.


"Aku bisa memaafkan, tapi aku sakit Nad." ucap Nino pada Nadine.


"Aku merasa kita nggak ada masalah dan kamu yang tiba-tiba menghilang." Lanjutnya kemudian.


Nadine makin menunduk, ia tau apa yang telah ia perbuat pada pria itu. Nino terluka cukup dalam akibat pengkhianatan yang ia buat.


"Aku tau mungkin aku jahat. Tapi satu hal yang harus bapak tau. Aku masih sayang sama bapak." ucap Nadine.


"Nin, ini udah siang."


Ansel menyela perkataan Nadine. Ia sudah terlanjur tak suka pada perempuan itu. Sebab baginya Nino bukanlah sebuah taman balai kota. Dimana orang bisa datang dan pergi sesuka hati.


"Sebaiknya jangan datang di jam segini, Nad. Karena ini jam kita berangkat kerja." tukasnya lagi.


Nadine tak bisa berbuat banyak. Nino sendiri akhirnya menuruti Ansel dan mereka pun kemudian berangkat.


"Sorry gue terpaksa ikut campur, Nin. Gue nggak suka aja si Nadine menggunakan rasa sayang yang dia miliki untuk memanipulasi dan berbuat sesuka hati. Dengan alasan masih sayang dia seenaknya kembali. Padahal nggak ada yang nyuruh dia pergi."


Ansel berujar ketika mobil telah berjalan membawa mereka. Saat itu Nino yang mengemudikan mobil tersebut.


"Lo terlalu lemah sama dia. Cewek kayak gitu sekali di maafkan, biasanya ngelunjak. Untuk selanjutnya kalau dia bosan, dia bakal ninggalin lo lagi. Dan kalau dia bosan sama yang lain, dia akan ngajak lo balikan kayak gini. Karena lo gampang memaafkan."


Ansel terus saja mencecar, sementara Nino tak berkata sepatah


pun.


***


"Lo udah temui Nino?"


Intan bertanya pada Nadine di telpon.


"Udah, tapi kayaknya gue gagal deh, Tan." jawab Nadine dengan nada yang lemah dan tak bergairah.


"Gagal gimana?" tanya Intan heran.


Nadine pun lalu menceritakan kronologi kejadian. Mulai dari saat ia datang sampai kepada Ansel yang seolah menghalangi.


"Koq Ansel gitu sih?" tanya Intan heran sekaligus agak marah.


"Harusnya dia nggak boleh ikut campur." lanjutnya lagi.


Nadine diam, ia benar-benar takut tak bisa berbaikan dengan Nino.


"Gue harus gimana, Tan?"'tanya nya Kemudian.


"Gue coba ngomong sama Ansel dulu deh. Pengen tau gue kenapa dia kayak gitu. Pokoknya nanti lo tenang aja, gue akan bantu koq." tukas Intan.


Nadine pun saat ini hanya bisa berpasrah diri. Meski tak menjawab, namun ia menerima bantuan dari Intan tersebut.


***


"Cut."


Sutradara kembali memotong adegan yang diambil di hari itu. Baik Arka, Rio maupun cast lainnya bertepuk tangan.


Karena ini adalah akhir dari sesi pertama pengambilan gambar. Setelah ini mereka akan diistirahatkan selama beberapa hari ke depan.


"Thank you, bro."


Sang sutradara berterima kasih kepada para cast, terutama Arka dan juga Rio.


"Selama beberapa hari ini kalian hebat." ujarnya lagi.


Arka dan Rio tersenyum. Mereka menerima apresiasi tersebut dengan penuh kegembiraan.


"Selamat berlibur dan sampai jumpa di pengambilan adegan berikutnya." ucap sutradara itu lagi.


Mereka berjabat tangan dan berpisah. Sebab sang sutradara kini menemui para cast lain.


"Ka, jalan yuk nanti. Kita sambil ngonten." ucap Rio.


"Iya, beres." ujar Rio kemudian.


"Gue juga pengen istirahat selama dua hari ini." lanjutnya lagi.


"Arka, ini Nadine."


Tiba-tiba Nadine mengirim pesan singkat pada Arka. Tentu saja Arka jadi mengerutkan dahinya, karena tak pernah-pernah ia mendapati hal tersebut. Baru kali ini.


"Ngapain Nadine ngechat gue?" tanya Arka seraya memperhatikan layar handphone.


"Nadine siapa?" tanya Rio.


"Ini mantannya Nino." jawab Arka.


"Lah tumben, ada apa emangnya?" tanya Rio lagi.


"Nggak tau gue."


Arka menjawab seraya mengetik balasan untuk Nadine.


"Kenapa, Nad?" tanya nya kemudian.


Tak lama Nadine pun kembali membalas.


"Ka, bisa minta tolong nggak. Bilang sama pak Zio, gue benar-benar minta maaf. Tolongin gue supaya bisa balikan sama dia."


Arka membaca pesan tersebut, lalu menatap ke arah Rio yang saat ini masih memperhatikannya dirinya.


"Dia minta tolong sama gue, supaya bantuin dia balikan sama Nino." ucap Arka.


"Gue udah nemuin dia tadi pagi. Tapi hasilnya masih nggak jelas. Dia bilang kalau dia maafin gue. Tapi masalah dia mau balikan sama gue apa nggak. Dia nggak ada menyinggung ke arah situ." ucap Nadine lagi.


Arka menarik nafas dalam-dalam. Baru saja ia mengetik balasan.


"Gue nggak bisa janji kalau itu, Nad. Sebab itu bukan urusan gue." ucap Arka.


Ia hendak mengirim pesan tersebut. Namun keburu Nadine sudah mengirim pesannya terlebih dahulu.


"Please, Ka." ucap Nadine.


"Cuma lo satu-satu harapan gue. Lo kan dekat sama pak Zio. Tolongin gue, Ka. Gue bener-bener nyesel udah selingkuh dari dia."


Arka memperlihatkan pesan tersebut pada Rio. Rio kini ikut-ikutan menghela nafas, namun dengan vibes yang seolah lelah pada Nadine.


"Cewek tuh kadang aneh." ucapnya kemudian.


"Dikasih cowok baik-baik, malah pengen berpetualang sama yang begajulan. Giliran yang begajulan bikin kecewa, baru nyesel dan nyariin mantan yang baik. Mohon-mohon ngajak balikan. Apapun caranya di tempuh." lanjutnya lagi.


"Gue juga nggak ngerti, bro. Gue tuh males banget ikut campur urusan asmara orang. Walau itu saudara gue sendiri." ucap Arka.


"Jawab aja, Ka. Bilang aja kalau itu bukan urusan lo."


Arka pun mengetik balasan.


"Maaf, Nad. Gue bukannya nggak mau bantu. Tapi ini kan urusan pribadi kalian."


"Gue mohon, Ka. Gue bener-bener nyesel banget atas semua ini. Gue masih sayang sama dia."


"Gue akan coba bantu ngomong ke dia. Supaya dia mau ketemu dan bicara lagi sama lo. Untuk selanjutnya, biar jadi urusan lo berdua aja." tukas Arka.


"Gue nggak bisa janji untuk bantu lo supaya balikan sama dia, Nad. Kalaupun dia mau balikan, biar itu jadi keinginan pribadi dia aja. Bukan karena gue yang bujuk dia." lanjutnya lagi.


Nadine diam dan tak lagi melanjutkan kata-katanya. Ia benar-benar makin merasa takut, jika dirinya terlambat dan tak lagi bisa membuat Nino kembali ke pelukannya.


Rasa sesal itu perlahan terus memuncak. Nadine menyadari kebodohannya yang hanya melihat laki-laki dari sisi yang ia sukai.


Ia berselingkuh lantaran menganggap Nino terlalu kaku. Tak romantis seperti laki-laki yang selalu ia impikan.


Ia mendambakan laki-laki yang selalu bersikap manis, sering membalas chat dan mau mengajaknya jalan-jalan setiap saat.


Ia mendapat laki-laki seperti itu ketika selingkuh. Namun ternyata si laki-laki tersebut sudah memiliki kekasih.


Ia memang romantis, tapi romantisnya bukan terbatas hanya satu perempuan saja. Melainkan ada banyak hati yang ia koleksi.