
Kembali ke saat kemarin.
Ketika jam kantor bubar, Amanda di jemput oleh Gareth. Kemudian mereka menyambangi sebuah butik dan membeli gaun sesuai dress code dalam acara yang akan mereka hadiri.
Gareth menanti di ruang tunggu butik. Ini sudah cukup lama berlangsung. Sebab selain baju, Amanda juga meminta paket makeup kepada si empunya butik. Kebetulan si empunya butik tersebut juga merupakan seorang makeup artist.
Gareth yang sudah resah menunggu, kini berdiri dan menghadap ke pintu masuk. Tak lama Amanda keluar, pria itu menoleh dan terdiam takjub.
Jantung pria itu berdegup dengan kencang. Sebab Amanda terlihat begitu mempesona di matanya.
"Ka, kamu cantik sekali." ucapnya mengalir begitu saja dan tak dibuat-buat.
Amanda tersenyum. Tak lama mereka pun terlihat sudah menaiki mobil dan berjalan menuju ke lokasi opening exhibition.
Di sepanjang perjalanan menuju ke lokasi, Gareth tak henti-hentinya menatap Amanda diam-diam. Meski Amanda sendiri sibuk berbalas pesan dengan Arka.
"Cantik nggak aku?" tanya Amanda pada Arka.
Tadi ada sempat ia berfoto setelah selesai di makeup, sebelum akhirnya ia menemui Gareth. Ia mengirim foto tersebut kepada sang suami. Arka sendiri tau Amanda pergi kemana dan dengan siapa.
Sebab Amanda tak pernah tak memberitahu apapun pada sang suami, baik sebelum ataupun sesudahnya. Tetapi lebih banyak sebelum melakukan. Ia biasanya sudah memberitahu dan meminta izin pada suaminya tersebut.
"Cantik dong, kan istri aku." jawab Arka. Amanda senyum-senyum sendiri.
"Jadi pengen robek dress nya depan kamu." ucap wanita itu kemudian.
"Koq dirobek?" tanya Arka heran.
"Iya, biar di jamah sama kamu." jawab Amanda.
"Dasar." ujar Arka.
"Eh tapi kamu nggak duduk mepet kan sama si Gareth?" tanya Arka pada Amanda. Amanda lalu mencuri-curi foto saat Gareth tak melihat.
"Nggak nih." ujarnya seraya mengirim foto tersebut.
Keadaan didalam mobil, kursinya sudah diganti menjadi hanya ada empat di belakang. Masing-masing kursi itu terpisah antara satu dan yang lainya.
"Oke, good. Di lokasi acar nanti tetap hati-hati ya sayang."
"Iya kangkung."
"Jaga diri baik-baik, Firman. Aku nggak rela kalau ada yang jatuh cinta sama kamu. Kamu cuma milik aku." ucap Arka lagi.
"Iya bawel." jawab Amanda diikuti emoticon cium.
"Pokoknya kalau sampai godain cowok lain, kamu bakal kembung lagi sembilan bulan. Kan kata dokter kandungan, kamu nggak ada masalah apa-apa. Malah udah siap kalau mau hamil lagi."
"Iya, sayang. Aku nggak bakal ganjen ke siapa-siapa. Ke kamu doang aku gatel." balas Amanda.
Arka kemudian tertawa.
"Ya udah aku mau balik ke yang lain dulu. Masih pada baca script semua." ujarnya.
"Oke sayang."
"Bye Firman."
"Bye, muach."
"Muuuach." balas Arka.
Amanda menyudahi percakapan tersebut lalu meletakkan handphone-nya.
"Seru banget kayaknya, sampai aku di lupakan." Gareth menggoda Amanda. Sementara Amanda hanya tertawa.
"Aku kalau chat sama bapaknya anak-anak, emang gitu." jawab Amanda.
"Degh."
Batin Gareth bergemuruh. Namun pria itu berusaha bersikap tenang dan tak terlihat jika ia saat ini mendadak cemburu.
"Kamu udah minta izin?" tanya nya.
"Sama Arka tuh gampang, yang penting jujur." Lanjutnya kemudian.
"Bilang sama siapa, pulangnya jam berapa." tambahnya lagi.
Gareth tampak mengangguk-anggukan kepalanya meski tipis. Kemudian mereka lanjut memperbincangkan hal lain, hingga tanpa terasa mobil pun tiba di lokasi pameran.
***
Setibanya di lokasi, Amanda langsung jadi pusat perhatian. Bukan karena tidak ada yang cantik selain dirinya. Tetapi cantik yang lain tertutup oleh cantik yang ia miliki.
Beberapa diantaranya pengusaha yang hadir tak mengetahui jika Amanda telah menikah dan memiliki dua orang anak.
Rata-rata dari pengusaha sangat sibuk dan mereka jarang menonton televisi. Apalagi melihat gosip murahan di berita infotainment maupun sosial media.
Hidup mereka hanya sebatas kerja, kerja, dan kerja. Bahkan jam istirahat mereka pun kadang hanya sekedar untuk makan saja.
"Yang dibawa oleh Gareth, cantik."
Salah seorang pengusaha berujar pada pengusaha lainnya.
"Itu perempuan juga pengusaha sukses." ujar temannya kemudian.
"Oh, saya pikir perempuan biasa yang cuma sekedar cantik." ujarnya.
"Dia bahkan jauh lebih unggul dari anda pak." temannya bercanda.
Mereka memperhatikan Amanda yang kini ditemui oleh beberapa kolega dan kenalan.
"Hai Amanda."
"Hai."
Mereka saling menyapa, Gareth pun demikian.
"Nggak sama Arka?"
Salah seorang pengusaha yang mengenal Amanda dan tau mengenai pernikahan perempuan itu, kini bertanya.
"Degh."
Seketika batin Gareth pun terusik. Namun Amanda tak mengetahui akan hal tersebut. Jelas, karena hanya gratis yang memiliki perasaan padanya, sedang dirinya tidak sama sekali.
Jadi apapun yang dirasakan Gareth, tak langsung terkoneksi kepada dirinya.
"Nggak, Arka sibuk kerja." jawab Amanda.
"Lagipula ini acara kerjasama saya dengan Gareth. Saya juga diajak kesini dadakan." tukas Amanda.
"Oh gitu."
Mereka kemudian berbasa-basi, dan membahas lebih banyak lagi hal yang menarik. Mereka menemui orang-orang, dan disepanjang acara tersebut Gareth tak pernah berada jauh dari Amanda.
Mereka disana sampai acara puncak yakni sekitar jam 8 malam. Ada beberapa penyanyi dan juga pemain saxofon yang menambah syahdunya suasana.
Lampu yang terang diganti menjadi renang. Banyak wine dan minuman beralkohol lainya yang mulai di sediakan.
Amanda tetapi memilih teh atau air putih saja. Sebab saat pisah ranjang dengan Arka, ia sudah kapok minum alkohol. Sebab ia masih memberi ASI pada kedua anaknya. Dan perbuatan bodohnya saat itu telah membuat ia menyesali diri bahkan sampai hari ini.
Ia selalu khawatir ASI nya mengandung alkohol dan akhirnya berakibat buruk pada si kembar. Ia telah berjanji bahwa itu adalah kalo terakhir ia meminum minuman laknat tersebut.
Satu demi satu pasangan mulai turun ke floor dan berdansa dengan irama musik dari si pemain saxofon. Gareth tersenyum menyaksikan semua itu. kemudian pria tampan tersebut berbalik dan menatap Amanda.
Ia mengulurkan tangannya, dan Amanda tak dapat menolak. Sebab itu dilakukan di depan para kolega dan juga orang-orang yang menghormati Gareth.
Maka Amanda menerima uluran tangan tersebut lalu Gareth mengajaknya ke tengah-tengah floor. Semua mata tertuju pada mereka dan kini mereka pun berdansa.
"Bobok yuk." ujar Arka pada keduanya.
Mereka tak menunjukkan reaksi akan kembali ke dalam box. Mereka hanya terus berbaring di karpet bulu dengan nyamannya.
Arka kemudian beranjak mengambil kasur lipat. Ia membentangnya di kamar si kembar, lalu mereka tidur beramai-ramai di atas kasur tersebut. Setelah si kembar terlelap, barulah mereka dipindahkan ke dalam box masing-masing.